Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 38


__ADS_3

DIM. 38


“Dian enggak mau tambah lagi?”


Dengan gelengan kepala si empunya nama memberikan respon. Ia masih sibuk mengunyah steak yang dimasak langsung oleh tangan terampil perempuan yang melahirkannya ke dunia. Biasanya ia akan senang sekali saat menikmati masakan apapun yang dimasak langsung oleh tangan itu, namun kali ini agaknya suasana hati yang buruk membuat lidahnya seolah-olah mati rasa. Padahal tangan itu sudah memasak country fried steak lezat yang disajikan bersama kentang tumbuk bertabur gravy country dan kacang panggang. Country fried steak sendiri adalah menu bistik ayam goreng dari Amerika yang terdiri dari sepotong bistik yang diolah dengan tepung berbumbu dan penggorengan. Masakan satu ini kerap dikaitkan dengan masakan Southern Amerika Serikat, juga miripd engan resep untuk collops dari Skotlandia.


Selain Country fried steak, ada juga beef steak with barbeque souce yang dihidangkan bersama potongan kentang dan tumis sayuran.



Tidak ada masakan Indonesia di atas meja, karena lidah tamu kehormatan yang ikut makan malam bersama mereka kali ini kurang familiar dengan masakan Indonesia. Jadi, selaku nyonya rumah, Dayu menyiapkan makanan western yang sekiranya dapat menjamu perut sang tamu.


Selain hidangan utama berupa olahan daging-dagingan, Dayu juga menyiapkan beberapa jenis dessert dibantu oleh para maid. Salah satu makanan penutup yang paling spesial adalah crème brulee. Crème brulee adalah makanan penutup yang terbuat dari campuran susu, buah-buahan, serta vanili yang dimasak dalam oven. Rasanya manis dengan tekstur lembut dan sensasi segar dari buah-buahan. Makanan penutup ini adalah salah satu makanan khas Perancis yang rekomendasi sekali untuk dicicipi. Kebetulan Dayu tahu jika Princess Daneen menyukai hidangan satu ini.


Selain Crème brulee, Princess Daneen juga pecinta ratatouille. Salah satu makanan khas Perancis dari wilayah Provence. Hidangan ratatouille dibuat dengan terong, tomat, bawang Bombay, paprika, zucchini, bawang putih, dan rempah-rempah yang direbus dalam minyak zaitun.


“Bagaimana dengan tuan putri, mau tambah lagi?”


Kini Dayu menoleh pada tamu kehormatan yang malam ini hadir di tengah-tengah keluarga Wijaya.


“Tidak, terima kasih. Ini sudah sangat cukup membuat aku kenyang,” jawab Princess Daneen dengan etika yang sangat baik. Ia duduk tepat di sebelah Dian.


Mereka memang tidak makan malam di ruang makan utama, melainkan makan malam di rumah kaca milik Dayu. Di rumah kaca yang ditumbuhi berbagai jenis anggrek itu disediakan satu meja dengan empat buah kursi. Pas untuk Dean, Dayu, Dian dan tentu sana Princess Daneen.


Dayu memang sudah mempersiapkan penyambutan yang matang untuk Princess Daneen. Mengingat ia dan ibu Princess Daneen sudah bersahabat sejak lama, jadi ia sudah menganggap Princess Daneen seperti putri sendiri.


“Aku sudah selesai.”


Dian menyimpan alat makannya setelah berkata demikian. Ia memang sudah tidak berselera untuk menghabiskan makanannya.


“Kok cepat? Dian, kan, belum makan Crème brulee buatan tante Dayu.”


“Nanti saja,” ujar Dian. Menjawab ucapan Princess Daneen sekenanya. “Dian duluan,” imbuhnya kemudian.


“Duduk, Rahardian. Tidak sopan meninggalkan jamuan ketika belum selesai,” interupsi sang papa.


Dean Wijaya tampak sedang mengingatkan sang putra yang hari ini ‘agak’ sulit diatur.


“Dian sudah selesai, pa.”


“Masih ada yang harus kita bicarakan. Duduklah kembali.”


Tanpa merespon, Dian akhirnya mengabulkan perintah sang papa. Ia kembali duduk tanpa merespon lewat kalimat ataupun ekspresi.


“Rahardian sudah ada di sini. Besok dia yang akan mengantar tuan putri untuk berkunjung ke beberapa tempat.”


“Kata siapa?” tanya Dian tiba-tiba. “Kata siapa aku mau?”


“Kamu harus,” dikte Dean. “Cuma kamu yang dipercaya untuk menemani Princess Daneen.”


“Aku minta maaf sebelumnya, tapi besok jadwal aku full day.” Dian berkata seraya menatap sang papa secara langsung. “Seharusnya papa bilang dulu sama aku, jangan asal membuat janji. Aku punya kesibukan sendiri, di luar kesibukan yang papa limpahkan kepadaku.”


Dean tampak terdiam untuk beberapa saat. Entah ada apa dengan putranya hari ini. Namun, penerus Wijaya itu tampak suka sekali membangkang hari ini. “Rahardian, papa sudah bilang jika….”

__ADS_1


Kalimat Dean terpotong karena getaran dari saku celana Dian yang membuat perhatian si empunya teralihkan. “Maaf, ada pesan singkat bersifat penting yang masuk.” Dian berujar dengan datar. Ia kemudian menoleh ke samping guna melihat isi pesan yang baru saja masuk di teleponnya.


Dian tahu bahwa tindakannya barusan tidaklah sopan. Namun, ia harus melakukan itu, karena jika tidak ia tidak akan terlepas dari sang papa.


“Ada apa, mas?” tanya Dayu kala Dian tiba-tiba beranjak dari kursinya.


“Ada apa Rahardian? Ibumu bertanya.” Dean juga ikut buka suara, karena Dian hanya mematung setelah beranjak dengan tiba-tiba.


“Aku pergi,” ujar Dian final.


Tanpa menunggu respon kedua orang tuanya, ia sudah terlebih dahulu memutar tubuh. Namun, baru saja hendak melangkah semakin jauh, ada jari-jemari yang lancang menahan pergerakannya. Sehingga langkah Dian terhenti di sana.


“Lepas.”


“Tidak, sebelum kamu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.”


“Ini bukan urusan kamu.”


“Rahardian, jaga bicaramu,” koreksi sang papa.


Dian menoleh pada sang papa. “Dia saja sebagai seorang putri tidak menjaga perilakunya,” sindirnya.


Princess Daneen mau tidak mau langsung melepaskan cekalan tangannya. Ia masih tak menyangka jika Dian akan berkata demikian.


“Aku harus pergi ke rumah sakit, jika itu yang ingin kamu tahu.” Dian menatap Princess Daneen lekat-lekat. “Jika kamu bertanya kenapa? Jawabannya karena sosok yang dulu pernah kamu sakiti tengah mendapatkan penanganan di sana.”


Setelah berkata demikian, Dian kembali berbalik badan dan melanjutkan langkah. Meninggalkan sejuta tanda tanya setelah kepergiannya.


💐💐


“Halo.”


“Iya, hallo,” ujarnya cepat saat sambungan telepon ternyata diterima setelah sekian lama. “Kakak kok lama angkat teleponnya?”


“Sorry-sorry. Gue lagi di RS nih, ada insiden. Jadi nggak sempat angkat telepon karena shock.”


“Di rumah sakit? Memangnya ada insiden apa sampai-sampai kakak harus pergi ke rumah sakit?”


“Bukan, bukan gue yang dibawa ke RS. Tapi Duchess.”


Gadis dengan surai hitam panjang yang mengenakan dress selutut berwarna hijau mint itu tampak terdiam untuk sejenak. “Memangnya Duchess ….kenapa?”


“Sakit. Demam tinggi, sempat kena hipotermia juga. Semua orang lagi cemas karena kondisinya,” tutur suara di seberang.


“Oh, begitu.”


“Hm. Gitu. Soalnya apapun yang berbau Duchess memang selalu dilebeli urgensi.”


“Hm….selain kakak, di sana ada siapa saja?”


Gadis dengan wajah polos tanpa riasan itu bertanya seraya memotong satu kelopak mawar putih yang paling indah.


“Banyak. Orang tuanya Duchess, Mère, Perè, sama Dan. Tadi ada anak-anak juga.”

__ADS_1


‘Tuh, kan, udah Capella tebak. Pasti ada pangeran di sana. Ih, nyebelin banget si putri penyihir,’ ucapnya di dalam hati. “Emm….nggak ada yang lain?” tanyanya lagi. ‘Pangeran satu lagi, nggak ada, ya?’


“Nggak ada. Sejauh ini cuma segini.”


“Terus kak Elang sekarang lagi sendirian?”


“Iya, dong. Gue lagi di rest area nih, lagi nyebat.”


“Nyebat?” bingung Capella.


“Ngerokok.”


“Kakak ngerokok?” kaget Capella. Alih-alih menjawab, laki-laki di seberang malah tertawa terbahak-bahak.


“Kagak. Gue bercanda, lo percaya?”


Capella menggelengkan kepala, walaupun tahu seseorang di seberang tidak akan melihatnya.


“Gue lagi nge-pod aja. Lo tahu pod, ‘kan?”


“Nggak,” sahut si Capella, kelewat polos.


“Masa? Vape pod? Itu loh, rokok elektronik. Tapi tingkat bahaya atau resiko vape lebih lendah dibanding rokok.”


“Sama aja,” respon Capella. Ia tidak suka cowok perokok, mungkin karena ayahnya juga bukan perokok. “Dikurangin kak. Enggak baik buat kesehatan.”


“Ok, gue coba ya, cantik.”


“Aish, apaan sih.” Capella tampak bersemu merah. Bisa-bisanya ia melting digoda oleh laki-laki yang ia cap menyebalkan dari awal.


“Sedang apa kamu?”


Kelopak bunga mawar yang Capella pegang seketika itu juga jatuh. Ia langsung menyembunyikan handphone miliknya di belakang tubuh, kemudian berdiri dan menghadap si pemilik suara.


“Kamu sedang terima telepon dari siapa, Capella Megantara?” desak sang ibu.


Perempuan paruh baya itu entah sejak kapan berdiri di sana. Tidak jauh dari tempak Capella berjongkok.


“Teman, bu.”


“Teman?” si ibu tampak memicingkan mata, tak percaya begitu saja.


“Iya, teman Capella. Kalau ibu nggak percaya, silahkan periksa.” Capella menyodorkan handphone miliknya.


Panggilan telah terputus, karena ia langsung menekan icon telepon berwarna merah. Bodo amat dengan laki-laki di seberang, itu bisa diurus nanti. Sekarang yang terpenting adalah membuat Estrella—ibu Capella tidak curiga. Untung saja Capella sudah mengganti nama kontak Elang menjadi Ella N.G IPA dua. Salah satu nama temannya di sekolah.


“Ini Ella yang telepon, bu. Teman sekelas Capella,” dalih Capella. Ia tidak mau jika sampai ketahuan berbohong.


Bisa-bisa komunikasinya bersama Elang terpotong di tengah jalan. Capella tidak mau itu sampai terjadi.


💐💐


Sukabumi 13-08-22

__ADS_1


__ADS_2