Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 22


__ADS_3

DIM. 22


Hari telah berganti. Kini Duchess juga sudah pulang ke rumahnya sendiri. Baik mommy ataupun daddy nya selalu memperlakukan Duchess like a queen every days. Mereka malah semakin menjadi-jadi menjaga Duchess. Apalagi hari ini adalah hari pertama Duchess masuk SMA. Baik Dewita maupun Damian, sama-sama berusaha semaksimal mungkin memperbaiki mood putri mereka. Walaupun Duchess mengatakan sudah ‘baik-baik saja’ sebagai orang tua mereka tetap harus waspada juga siaga.


“Hari ini Duchess mungkin pulang terlambat,” ucap gadis cantik yang sudah mengenakan atribut lengkap milik SMA Wijaya itu.


Pandangan yang tadi terpusat pada mangkuk keramik berisi bubur oatmeal yang terbuat dari campuran oatmeal, susu almond, yogurt plain dan madu. Dapat disajikan dengan topping irisan buah segar, kacang-kacangan, mini marshmallows, sereal honey star, remahan marie biscuit, sesuai selera masing-masing. Di sini bubur oatmeal yang dimakan Duchess disajikan dengan topping berry-berry-an mulai dari blueberry, raspberry, dan strawberry. Ditambah potongan buah pisang dan irisan kacang almond.



Oatmeal sendiri merupakan bahan makanan dari gandum utuh yang baik bagi tubuh. Oatmeal dari mengandung tinggi serat, karbohidrat, lemak, fosfor, folat, protein, vitamin, BI, B2, B3, B5, serta B9. Oatmeal juga mengandung berbagai mineral lain yang penting bagi tubuh, seperti magnesium, mangan, kalium, hingga zat besi. Oleh karena itu, Dewita suka menyajikan oatmeal untuk breakfast sehat suami dan sang putri. Oatmeal juga dapat dijadikan berbagai macam hidangan, contohnya bubur oatmeal.


Sejak Duchess masih balita, Dewita sudah menjadikan oatmeal sebagai salah satu menu makanan pendamping ASI atau MPASI. Oatmeal juga baik untuk diet sehat. Cara membuat bubur oatmeal juga mudah, tinggal masak oatmeal dengan air secukupnya hingga matang dan menghasilkan tekstur lebih kenyal, lalu campuran dengan bahan-bahan lain, kemudian sajikan dengan topping sesuai selera. Selain disajikan dengan rasa manis, oatmeal juga dapat disajikan dengan rasa asin dan gurih.



“Memangnya princess mommy habis sekolah mau kemana?” tanya Dewita yang baru saja menyodorkan segelas kopi untuk sang suami.


“Ke D’EV.”


“Sama siapa? Dan?”


“Sendirian,” jawab Duchess jujur. “Tadi Coach kirim pesan singkat supaya Duchess ke D’EV.”


“Ok. Nanti kalau mau pulang calling mommy, ya. Biar mommy jemput.”


“Nggak usah, mom. nanti Duchess pulang sama….”


“Sama siapa?” tanya Damian, menggantikan sang istri yang baru saja ingin buka suara. “Dan?”


“Dian?”


“Daru?”


“Atau Elang?”


Mommy dan daddy Duchess itu bertanya bergantian, tanpa membiarkan sang putri bertanya terlebih dahulu. Duchess hanya bisa menatap kedua orang tuanya dengan tatapan cengo.


“Sama siapa?” tanya Damian memastikan. “Hari ini daddy pakai supir seharian, karena harus meninjau proyek di lapangan. Kamu pulang sama Dan saja, supaya daddy tenang.”


“Kau nggak, pulang sama Dian. Dan pasti sibuk sama organinasi kalau weekdays begini, ‘kan?” sahut Dewita memberi opsi kedua.


“Dian juga pasti sibuk sama organisasi kalau Dan sibuk. Kamu lupa kalau Dian itu ketua MPK?”


Dewita meringis mendengarnya. “Oiya, mommy forget.”


Duchess tersenyum tipis melihat komunikasi antara mommy serta daddy nya. Mereka memang jadi semakin over protektif menjada dirinya. “Nanti Duchess chat mommy atau daddy kalau mau pulang sama siapa. Takutnya hari ini kak Dan sama kak Dian sibuk sama organisasi.”


Damian dan Dewita menatap putri mereka bersamaan, lalu memberikan persetujuan lewat anggukan kepala. Jikalau pulang bersama mereka—Dan, Dian, Daru, serta Elang—ia bisa sedikit merasa tenang, karena tahu betul tabiat para laki-laki muda tersebut. Terutama Dan, Dian, serta Daru. Elang juga termasuk, namun Elang itu tipikal anak yang punya sifat mimikri atau sifat berubah-ubah. Sebagimana sifat mimikri pada Bunglon yang bisa berubah-ubah dalam setiap waktu, guna melindungi diri.


“Duchess berangkat dulu ya, dad. As’salamualaikum.”


“Wa’alaikum salam.”


Laki-laki berkacamata itu tersenyum tipis setelah melepas sang putri untuk pergi sekolah. Hari pertama Duchess sekolah sebagai anak SMA, tampak disambut gembira oleh gadis cantik itu. Wajah cantiknya tampak berseri-seri saat berjalan memasuki area sekolah. Semenjak keluar dari mercy hitam sang daddy, Duchess memang sudah menjadi objek perhatian. Siapa sih yang tidak menyadari kehadiran The Next Moswanted Girls di SMA Wijaya itu?


Sebelum bergabung sebagai siswi SMA Wijaya, Duchess juga sudah dikenal masyarakat luas sebagai salah satu selebgram muda yang sudah memiliki jutaan pengikut di akun Instagram resmi miliknya. Akun Instagram milik Duchess juga sudah mendapatkan centang biru semenjak resmi debut sebagai model baru di D’EV. Awalnya Duchess memang tidak memiliki akun media sosial apapun sebelum resmi menjadi model. Namun, foto-foto miliknya acak kali muncul di akun media sosial sang ibu yang juga bekerja sambilan sebagai selebgram dan beauty influencer. Pundi-pundi rupiah yang didapatkan dari pekerjaan sampe itu berasal dari endors barang, sandang, pangan, dan sebagainya.


Dewita yang dulu merupakan mantan super model tentu memiliki banyak followers. Karena kerap membagikan tumbuh kembang sang putri, Duchess sudah memiliki banyak fans sejak masih kecil. Alhasil saat dibuatkan akun media sosial resmi, followers Duchess langsung bejibun. Padahal akun media sosial resmi milik Duchess masih dipegang dan dikelola oleh sang mommy dan tim. Titel sebagai putri mantan model dan seorang eksekutif yang melebarkan bisnis di bidang kontruksi dan mabel itu tentu saja menjadi point plus tersendiri untuk mendongkrak kepopuleran Duchess.


Kendati demikian, kepopuleran yang Duchess miliki tentu saja sebagian besar dihasilkan oleh usaha Duchess sendiri. Selain cantik, pandai berlenggak-lenggok di atas catwalk, jago matematika, Duchess juga memiliki suara emas.


“Duchess, sini!”

__ADS_1


Mendengar namanya dipanggil, Duchess menolehkan kepala ke samping. Ia kemudian menemukan teman-temannya yang paling dekat semenjak masa orientasi peserta didik baru. Iris dan Dara.


“Selamat pagi, Iris, Dara.”


“Pagi, Duchess,” jawab si pemilik nama bersamaan.


“Kamu cantik banget deh pakai seragam sekolah kita. Aura-nya luar biasa,” sanjung Iris. Gadis dengan rambut hitam sepunggung itu memang sangat suka memuji kecantikan Duchess.


“Terima kasih. Iris juga cantik.”


“Ah, kamu bisa aja.” Iris tersenyum malu seraya mengusap ujung hidung. Kebiasaan yang ia lakukan saat Iris salah tingkah.


“Lo emang cantik banget sih pakai baju SMA gini. Vibes-nya kayak Jang Woo Young IVE lagi jadi haksaeng (pelajar),” tambah Dara. Gadis dengan potongan rambut pendek di atas bahu.


“Wah, masa sih?”


“Tapi lebih cantikan Lisa BLACKPINK sama Runjin ITZY sih,” tambah Dara seraya nyengir kuda.


Dara memang K-popers sejati. Ia juga jago menyanyi dan menari. Sebenarnya Dara ingin sekali ikut audisi global yang diselenggarakan oleh agensi-agensi raksasa di Korea Selatan agar mendapat tiket untu debut menjadi idol di Negeri Ginseng. Karena kecintaan terhadap K-pop, Dara bahkan sempat dihukum pada hari pertama masa orientasi peserta didik baru, karena gaya rambutnya highlight peek a boo pirang seperti gaya rambut Lisa BLACKPINK selama promosi singel Lovesick Girls.


Dara katanya lupa belum upgrade warna rambutnya menjadi hitam lagi. Alhasil ia dihukum menyanyi pada hari pertama masa orientasi peserta didik baru. Sebenarnya bukan cuma sekali Dara melakukan tindakan berani seperti itu, ia juga pernah mengecat rambutnya saat masih panjang dengan gaya highlight peek a boo berwarna oranye, merah muda, dan pirang. Persis seperti gaya rambut Ryunjin ITZY di promosi singel DALLA DALLA.


“Kalian udah dapet kelas?”


“Udah, dong!” seru Iris dan Dara bersamaan. Mereka menjawab pertanyaan Duchess dengan kompak dan wajah berseri.


“Berarti cuma Duchess yang belum dapat kelas.”


Iris dan Dara mengangguk-anggukan kepala. Tak lama, salah satu di antara mereka buka suara.


“Percaya nggak kalau ….”


“Kalau ….apa?” bingung Duchess.


Bola mata jernih milik Duchess tampak berkilat karena terkejut. Ia juga sampai terdiam untuk beberapa saat. “Yang benar?”


“Iya!” seru Iris gembira seraya memeluk bahu Duchess. “Kita satu kelas. Kelas sepuluh-dua.”


“Ah, senangnya bisa satu kelas sama Iris dan Dara,” ungkap Duchess seraya tersenyum manis.


“Iya. Nanti kita bisa duduk satu bangku, kerja kelompok, terus pulang-pergi bersama,” tambah Iris.


“Iya. Duchess seneng deh. Gimana kalau habis pulang sekolah nanti, kita buat party kecil-kecilan di toko roti mommy?”


“Nggak deh,” jawab Dara cepat. Menyerobot Iris yang baru saja mau menjawab.


“Kenapa?” tanya Duchess. Dara juga tampak ingin bertanya perihal yang sama.


“Mending kita rayain sambil mukbang Korean food, mulai dari Kimbab, bibimbap, ramyeon, Jjajangmyeon, Tteokbokki atau topokki, Odeng, Korean Spicy Chicken with gochujang souce, Korean garlic cheese bread, egg drop, sampai corn dog, minumnya banana uyu,” usul Dara, heboh sendiri. “Gimana?”


“Aku nggak bisa makan makanan pedas, Dar.” Iris berkata seraya tersenyum canggung.


“Ok, itu masalah gampang,” enteng Dara. “Kalau Duchess?”


Duchess tampak berpikir untuk sejenak. “Duchess sih ….bisa makan makanan pedas. Tapi, nggak boleh terlalu banyak. Karena nanti nggak baik buat kesehatan. Duchess juga nggak boleh terlalu banyak makan makanan yang berlemak, karena nanti Coach bisa marah.”


“Haduh, ribet,” pusing Dara. “Terus?”


“Terus ….nanti Duchess juga mau pergi ke D’EV, karena udah ada janji temu sama Coach.”


“Intinya lo juga nggak bisa?” ringkas Dara.


“Hm ….ya, gitu.”

__ADS_1


Dara menepuk jidat lebarnya spontan saat mendengar jawaban Duchess. “Terus tadi kenapa pakai nanya segala kalau ujung-ujungnya nggak bisa?”


Duchess tersenyum canggung seraya menggaruk pipi. Obrolan ketiganya berlangsung sepanjang jalan menuju kelas sepuluh dua yang katanya akan menjadi kelas mereka selama dua semester mendatang. Karena ini hari pertama masuk sekolah, mereka juga tidak bisa lama-lama mengobrol, ada upacara bendera yang harus segera mereka mengikuti.


“Hari ini petugas upacaranya cakep-cakep, ya,” bisik Iris yang berdiri di samping Duchess.


Di bawah terik matahari yang semakin menjadi-jadi, Iris serta Duchess yang ada di kanan dan kiri Duchess kerap kali mengajak Duchess mengobrol. Padahal obrolan mereka unfaedah. Mereka akan langsung diam saat ada anak POLSIS yang berpatroli.


“Kak Dan ganteng banget ya, cocok banget jadi pemimpin upacara.”


“Kak Dian juga gak kalah cakep. Jadi tura tuh, dia. Soft boy yang mirip pacar aku di The Boyz,” sahut Dara sembari menaik turunkan alis.


Duchess hanya bisa diam sembari tersenyum kecil. ‘Coba aja kalian jadi Duchess sehari aja, kalian pas bakal tahu betul kalau kak Dan sama kak Dian itu nggak cuma ganteng banget, tapi ….over protektif dan posesif.’ Duchess membatin di dalam hati.


Bagi para siswa dan siswi kelas sepuluh yang baru bergabung, upacara kali ini sangat spesial karena banyak serpihan mutiara yang turut serta menjadi petugas upacara. Sebutan saja Dan serta Dian yang bertugas menjadi pemimpin dan tura upacara. Ada pula Daru yang menjadi pengibar bendera, serta Elang yang jadi ‘berandalan’ upacara.


💐💐


“Kebiasaan anjir. Lama-lama gue jadi biasa dihukum setiap senin,” rutuk laki-laki tampan dan rupawan yang baru saja menyelesaikan hukumannya. “Panas ih, haus juga.”


“Brisik. Dari tadi menggerutu mulu,” komentar laki-laki yang baru saja duduk di sampingnya. “Nih, minum.”


“Wih, baik banget lo, Ru,” ujarnya senang saat mengambil satu botol minuman isotonic dingin yang disodorkan lawan bicaranya. “Lagian ya, si Dan sama Dian kayak nggak bisa ngasih gue pengecualian. Gue, kan, nggak bisa nggak pakai atribut beginian,” tambahnya seraya mengeluarkan anting-anting serta kalung salib dari saku celananya.


“Pakai gituan di sekolah dilarang, wajar kalau dihukum.”


“Ah, lo juga sama aja, Ru.”


Laki-laki kalem yang menggunakan kaca mata itu mengedipkan bahu seraya meminum minuman miliknya sendiri. Dewandaru namanya. Calon sekretaris Dian di masa depan. Sedangkan di sisinya, ada Elang yang baru selesai menjalani hukuman.


“Kenapa?” tanya Daru kemudian.


Elang yang baru saja menghidupkan handphone langsung menoleh. “Apaan?”


“Kamu kenapa tiba-tiba senyum begitu? Mencurigakan?” tanya Daru to the point.


“Hah??”


“Kamu buka handphone sambil senyum-senyum. Kenapa? Ada chat dari ayang?”


“Wah, mulut lo jujur amat, Ru. Filter napa,” usul Elang. Ia memang baru saja mendapat pesan singkat dari seseorang yang sudah ia tunggu-tunggu. “Ini tuh, bukan ayang gue. Tapi, bakal calon ayang,” ujarnya mengoreksi.


Ia kemudian melanjutkan aktivitasnya untuk membuka pesan singkat dari seseorang itu, membacanya dengan senang hati, lantas mengirimkan balasan.


^^^+6283108xxxxxx^^^


^^^Kak Elang^^^


^^^Ini nomer Capella, di simpan ya ^-^^^^


Anda


Dengan senang hati bakal gue save ^°^



💐💐


TBC


DON'T FORGET TO LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR, SHARE & TABUR BUNGA SEKEBON 💐💐💐💐


Sukabumi 26/07/22

__ADS_1


__ADS_2