Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 65


__ADS_3

DIM. 65


Tere Liye, seorang penulis best seller pernah berkata dalam bukunya yang berjudul “Sunset & Rosie”, bagi perempuan (mungkin) memang lebih baik dicintai, daripada mencintai. Sedangkan dari sumber yang lain, dikatakan bahwa ‘laki-laki cuma jatuh cinta satu kali, dan sisianya hanya melanjutkan hidup.’


Jika kedua quetos itu ditarik dalam kisah cinta Elgara dan Estrella, seharusnya Estrella jadi perempuan paling bahagai di dunia. Kenapa? Karena ia dicintai oleh seorang laki-laki dengan begitu tulus. Walaupun bukan laki-laki dengan wajah sangat rupawan, serta kehidupan yang mapan. Setidaknya Elgara adalah gambaran laki-laki yang mencintai dengan segenap hati. Sedangkan Estrella, alih-alih memilih dicintai, ia lebih ingin menggenggam kata mencintai.


Estrella mencintai laki-laki lain, namun sayangnya laki-laki tersebut tidak akan pernah bisa ia kejar. Dikarenakan laki-laki itu sudah memiliki perempuan yang ia cintai setengah mati.


Lalu, kembali pada Estrella yang telah dicintai segenap hati. Namun, menyia-nyiakan semua itu dengan sesuka hati. Alhasil, Estrella akan tetap berjumpa dengan balasan yang telah ditetepkan oleh sang Ilahi. Sebagai bentuk pelajaran bagi Estrella yang selama ini tidak pernah bersyukur atas apa yang diberikan oleh-Nya. Estrella juga mendidik anaknya dengan didikan yang cenderung condong ke arah stritct parents.


Dilansir dari MomJunction, stritct parents adalah orang tua yang menerapkan pola asuh yang ketat, banyak aturan, batasan, serta cenderung kaku ketika menghadapi anak-anaknya. Orang tua yang seperti ini biasanya mematok target dan harapan yang tinggi untuk buah hatinya, sama seperti Estrella. Di saat ia tidak bisa meraih laki-laki yang ia cintai, ia mendorong putrinya untuk mendapatkan laki-laki yang ia ‘pilihkan’ dengan berbagai cara. Kemudian tanpa ia sadari, dorongan yang terlalu ekstrim itu telah membuat masalah baru bagi putrinya.


Apa yang telah Estrella lakukan selama ini adalah bentuk dari karakter aslinya. Sedangkan karakter adalah sesuatu yang sullit untuk dirubah, keculi ia sendiri yang mau berusaha untuk merubahnya.


Lelah akan keadaan yang tidak pernah berubah setelah berusaha semaksimal mungkin, Elgara akhirnya memilih untuk menjatuhkan talak. Ia sudah tidak mau lagi mempertahankan pernikahannya denga Estrella. Selain itu, Elgara juga sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk memperjuangkan hak asuh atas putrinya. Jika hak asuh Capella jatuh ke ibunya, Elgara khawatir sang putri akan semakin bermasalah dengan kejiwaannya. Jadi, Elgara sudah memutuskan untuk memperjuangkan ham asuh sang putri.


“Jika kamu sudah yakin dengan keputusan itu, maka yakinlah dengan keputusan yang telah kamu ambil.”


Elgara yang baru saja menandatangi sebuah surat mengangguk dengan mantap. “Saya sudah sangat yakin, Tuan. Setelah resmi bercerai, saya akan pergi bersama putri saya. Kita akan tinggal berdua di kampung halaman orang tua saya.”


Darren Aryasatya Xander yang duduk di hadapan Elgara tampak mengangguk singkat. “Baguslah. Setidaknya kamu sudah punya planning yang lebih baik.”


“Saya lelah, Tuan. Jadi, saya memutuskan untuk melepaskan dia.”


“Padahal kamu mencintainya?”


“Mencintai bukan berarti harus memiliki,” jawab Elgara. “Setidaknya itu yang saya yakini untuk saat ini.”


Darren terdiam mendengarnya. Benar juga perkataan Elgara. Mencintai bukan berarti harus memiliki. Terkadang kita harus belajar untuk ikhlas ketika mencintai seseorang. ada kalanya mencintai saja tidak cukup untuk mendatangkan kebahagiaan dalam sebuah pernikahan.


“Lagipula jatuh cinta seorang diri itu tidak menyenangkan. Dan saya sudah bertahan sejauh ini daralam masa-masa tidak menyenangkan tersebut.”


“Kamu laki-laki yang hebat, Elgara,” puji Darren. “Kamu melakukan semua ini pasti karena ada alasan yang membuat kamu bertahan bukan?”


“Tentu saja, Tuan. Ada dua alasan yang membuat saya bertahan,” sahut Elgara. “Pertama, karena saya mencintai dia. Perasaan yang saya miliki tulus.”


Helaan napas terdengar bersamaan dengan surat yang baru saja ia tandatangani dimasukkan kembali ke dalam sebuah map coklat. “Kedua, karena saya tahu dia tidak mencintai saya.”


“Maksudnya?”


“Istri saya terobesi pada Tuan. Saya pikir Tuan sudah menyadarinya.”


“Ah, itu. Memang terlihat jelas sekali,” respon Darren. Ia juga sudah tahu soal perasaan ‘gila’ istri Elgara dari cerminan mimpi yang telah ia alami.


“Saya tidak ingin Estrella menghancurkan hubungan Tuan dan Nyonya Ev, jika saya tidak mengikatnya dengan sebuah pernikahan.”


“Untuk itu kamu mengorbankan dirimu sendiri?”

__ADS_1


“Tidak masalah, Tuan.” Elgara memasang senyum tipis di wajahnya yang tampak sayu dari biasa. “Saya melakukan ini semata-mata sebagai bentuk balas budi, karena selama ini Tuan telah banyak membantu saya.”


“Tetapi bukan berarti kamu harus mengorbankan diri. Ada banyak cara untuk membalas budi. Lagipula kau juga tidak pernah mengharapkan imbalan.”


“Jika bukan saya, siapa lagi yang akan berkorban?” Elgara menatap sang tuan dengan sorot mata sendu. “Sebelum menikah dengan Estrella, saya sempat mendapat sebuah mimpi yang terasa begitu nyata. Dari mimpi tersebut saya mendapatkan dorongan untuk bergegas mengikat perempuan bernama Estrella. Sebelum dia menjadi parasit di hubungan Tuan dan Nyonya Ev. Walaupun demikian, saya tidak pernah bohong soal fakta jika saya mencintai dia.”


“Saya mencintai istri saya dengan segenap hati,” lanjut Elgara. “Namun, balasan yang saya harapkan seperti tidak akan pernah ada.”


Darren tidak tahu harus merespon bagaimana. Ia tampak terkejut mendapati kenyataan bahwa selama ini bukan cuma ia, sang istri, serta Dewita yang mengalami mimpi yang sama. Selain mereka bertiga, Damian jadi orang keempat yang mengetahui mimpi tersebut. Sekarang bertambah satu, bersama dengan fakta yang baru saja terbuka. Kedepannya entah siapa lagi yang akan muncul, kemudian berkata jika ia juga mengalami mimpi yang sama.


“Tapi perasaan yang selama ini saya miliki tidak akan mengubah apapun. Saya tetap akan menceraikan dia,” pungkas Elgara. Ia kemudian berdiri dari duduknya seraya membungkuk hormat pada sang tuan. “Terima kasih atas semua bantuan yang Tuan berikan kepada saya. Saya pamit undur diri terlebih dahulu. Sudah terlalu lama saya meninggalkan Capella.”


“Hm.” Darren ikut beranjak dari kursi. “Pergilah. Jika itu keputusan yang sudah kamu ambil, maka melangkahlah dengan mantap. Jangan pernah merasa ragu. Selama ini kamu sudah berupaya sangat keras.”


“Baik, Tuan.”


“Satu lagi,” imbuh Darren. “Terima kasih karena berupaya keras untuk melindungi keluarga kecilku.”


Elgara tersenyum tipis seraya mengangguk. “Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Justru Tuan yang telah banyak berubah demi masa depan yang lebih cerah.”


Darren terkekeh kecil dengan kedua tangan dilipat di depan dada. “Aku hanya berusaha semaksimal mungkin untuk merubah nasib yang masih dapat diubah, bukannya takdir yang telah ditetapkan oleh-Nya.”


💐💐


“Kamu yakin mau berangkat sekolah?”


“Bukannya kamu masih butuh istirahat?”


“Satu hari absen sudah cukup, Pah.”


“Kalau masih kurang enak badan, absen satu hari lagi juga tidak apa-apa.”


Dian yang baru saja mendudukkan dirinya tampak menatap sang lawan bicara dengan raut yang tak terbaca. Sadar dengan sikap yang dianggap ‘tidak biasa’ oleh sang putra, Dean Wijaya menghela napas kecil.


“Papah cuma khawatir.”


Dian yang baru saja hendak menuangkan air putih langsung terdiam. “Aku sudah merasa lebih baik.”


“Ya sudah kalau kamu merasa sudah lebih baik,” ujar Dean. Ia tidak mau menahan keinginan putranya lagi.


“Kak.”


Merasa hanya ia yang ada di sana selain sang papah, Dian langsung menoleh ke arah sumber suara. “Mamah panggil Dian?”


Dayu yang baru saja muncul dengan lunch box berwarna biru tua mengangguk. “Kakak kalau di sekolah suka makan siang di kantin?”


Dian mengangguk dengan ragu. “Kadang-kadang. Biasanya Tante Dewita bawakan lunch box lebih dari satu untuk Duchess, supaya bisa berbagi dengan ku. Mère Ev juga sering menitipkan lunch box.”

__ADS_1


Mendengar penuturan sang putra, sebagai seorang ibu, Dayu merasa telah lalai menjalankan tugas. Bagaimana ia bisa tidak memperhatikan sang putra, sampai-sampai harus perempuan lain yang memberi makan putranya setiap hari.


“Hari ini Mamah masak banyak. Kamu mau ‘kan bawa bekal dari rumah?”


Dian tampak menatap sang ibu lekat untuk beberapa saat. Sebuah anggukan kepala kemudian ia berikan sebagai jawaban. Sudah lama sekali rasanya tidak membawa bekal dari rumah.


“Ini, Mamah sudah siapkan kotal bekal makan siang Kakak di sekolah.” Dayu menyerahkan lunch box yang telah ia siapkan pada sang putra yang sekarang ia panggil dengan embel-embel ‘kakak’ mengingat putranya sudah lebih dewasa dari yang ia ketahui.


Dayu memang sudah berniat untuk membekali sang putra makanan rumah untuk makan siang di sekolah. Oleh karena itu, sejak pagi ia sudah menyiapkan berbagai kebutuhan untuk bekal sang putra. Maka tidak heran ketika jarum jam belum menyentuh angka tujuh pun, bekal untuk sang putra bawa ke sekolah sudah siap.


Hari ini bekal Dian adalah ayam mentega, tumis brokoli, telur dadar, serta nasi putih dalam satu layer. Sedangkan di layers ke dua, ada sepotong bolu ubi ungu, potongan buah segar, dan satu karton jus berukuran kecil.


“Sekarang mau sarapan apa? nasi atau roti?”


Dian yang masih mencoba mencerna situasi serta kondisi saat ini, hanya terdiam untuk beberapa waktu.


“Dian, Mamah bertanya,” kata sang papah buka suara. Pasalnya sang putra tak kunjung buka suara.


“Ini saja,” jawab Dian singkat. Ia kemudian mengulurkan tangan untuk mengambil dua lembar roti, kemudian diolesi oleh selai lotus biscoff. “Ada apa?” tanyanya kemudian. “Apa ada yang menganggu Papah dan Mamah?”


“Tidak ada,” jawab Dean. “Apa salah jika Papah dan Mamah ingin sarapan bersama kamu?”


Dian menggelengkan kepala. “Tidak. Hanya terasa aneh saja.”


“Maka dari itu, mulai hari ini kamu harus terbiasan sarapan bersama Papah dan Mamah.”


“….”


“Bukan cuma sarapan, kedepannya banyak yang harus kita lakukan bersama-sama.”


Dian sebenarnya tidak mengerti maksud dan tujuan kedua orang tuanya. Bohong jika ia tidak menyadari perubahan sikap kedua orang tuanya semenjak ia dilarikan ke rumah sakit.


“Papah dan Mamah ingin memperbaiki hubungan kita. Untuk kedepannya, Papah dan Mamah minta kerjasama. Kamu juga bebas melakukan apa yang kamu suka mulai sekarang, selagi itu tidak melanggar hukum dan menyakiti diri kamu sendiri.”


“Kamu adalah putra Mamah dan Papah. Kita menyayangi kamu dengan cara kita sendiri. Selama ini kamu dilarang teralu dekat dengan Duchess demi kebaikan kamu. Percayalah sayang, Mamah dan Papah selalu menginginkan yang terbaik untuk kamu.”


Dian dan Dayu bicara secara bergantian, mencoba memberi pengertian pada sang putra. Bahwa sannya, mereka selama ini selalu menyayangi Dian dengan cara mereka sendiri. Mereka juga sadar jika sempat membuat kesalahan fatal, sehingga hubungan di antara mereka merenggang. Sebelum semakin terjadi perpecahan di antara mereka, sudah sepatutnya sebagai orang tua mereka juga sadar bahwa selama ini mereka salah.


“Maafkan Papah, Dian. Selama ini Papah yang paling egois terhadap kamu. Semua itu didasari oleh rasa takut Papah yang berlebihan.“ Dean menatap sang putra dengan nanar. “Papa cuma tidak ingin kamu merasakan apa yang dulu Papah rasakan. Masih banyak perempuan di luar sana selain Duchess. Papah cuma ingin kamu menyadari fakta tersebut.”


Mendengar ucapan sang papah, alih-alih marah, Dian malah tersenyum tipis. “Beberapa hari yang lalu seseorang pernah berkata kepadaku, jatuh cinta itu seperti mandi air hujan. Awalnya memang menimbulkan rasa senang dan bahagia, akan tetapi ujung-ujungnya sakit juga.” Dian menggantung kalimatnya. Ia kemudian menatap kedua orang tuanya bergantian.


“Sekarang aku belajar membuka hati untuk orang lain. Mungkin kemarin aku sempat jatuh sakit karena mencintai dia yang mustahil aku miliki. Akan tetapi, sekarang Papah dan Mamah tidak perlu cemas, karena kali ini aku yakin telah membuka hati untuk orang yang tepat.”


💐💐


TBC

__ADS_1


Tanggerang 16-10-22


__ADS_2