Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 61


__ADS_3

DIM. 61


Seorang anak laki-laki untuk pertama kalinya datang ke sebuah Negara bernama Aroha bersama kedua orang tuanya dalam rangka kunjungan kerja. Negara yang memiliki arti cinta dalam bahasa Maori, New Zeland, itu menganut sistem pemerintahan monarki atau Negara kerajaan. Monarki sendiri adalah salah satu bentuk Negara selain serikat. Negara monarki biasanya dipimpin oleh raja atau kaisar.



Lokasi Aroha berada tidak jauh dari wilayah Aotearoa (dalam bahasa Maori memiliki arti tanah berawan putih panjang) atau New Zeland. Sama seperti Negara tetangganya, Aroha juga memiliki 4 iklim, namun dengan catatan kondisi cuacanya tidak terlalu ekstrim.


Aroha juga negara yang sangat maju karena negaranya memiliki tambang emas dan gas bumi yang menjadi sektor utama untuk pendapatan Negara. Selain itu Aroha juga terkenal akan keindahan alamnya, oleh karena itu para rakyat Aroha menjadikan keindahan alam mereka untuk mencari pundi-pundi rupiah. Selain emas dan gas bumi, pariwisata menjadi sektor nomer tiga yang menjadi sumber pendapatan terbesar Negara Aroha.


Ketika berkunjung ke Aroha, pertemuan antara Rahardian Adiwangsa Wijaya dan Princess Daneen terjadi. Saat berkunjung ke Aroha, usia Dian baru menginjak 9 tahun. Selama tinggal di Aroha, Dian diperlakukan dengan baik oleh keluarga kerajaan. Ia juga mudah berteman baik dengan Princess Daneen yang sejatinya pemalu dan menutup diri dari orang baru. Terkecuali, bagi Rahardian Adiwangsa Wijaya.


Kedekatan kedua anak itu mendapatkan perhatian penuh dari orang tua masing-masing. Walaupun Dian memang sejak kecil jarang berekspresi, namun Princess Daneen tampak happy-happy saja saat bersama Dian. Princess Daneen malah semakin lengket dengan Dian, walaupun mereka baru mengenal beberapa hari.


Pada tahun yang sama, Princess Daneen yang bergantian mengunjungi Indonesia bersama ayahnya yang melakukan kunjungan kerja. Pada kunjungan kerja itu Princess Daneen mengenal Duchess yang sejak kecil dekat dengan Dian. Bukan saja Dian, namun hampir semua anak kalangan atas yang satu circle dengan orang tua Duchess, pasti akrab dengan Duchess. Mengingat Duchess itu anaknya baik, menyenangkan, dan menggemaskan. Siapa sih yang tidak mau dekat dengannya? Ditambah lagi Duchess merupakan putri dari pasangan yang cukup ternama di tanah air.


Melihat kedekatan Dian dan Duchess, Princess Daneen merasa kedatangannya tidak disambut dengan baik. Pada acara yang dibuat khusus di malam terakhir keluarga kerajaan Aroha menetap di tanah air, Dian secara khusus mengenalkan Duchess pada Princess Daneen. Bertujuan ingin membuat temannya lebih dekat dengan Duchess yang sudah Dian sayangi seperti adik sendiri, Dian kecil sengaja sering meninggalkan Duchess bersama Princess Daneen. Kemudian insiden mengerikan itu terjadi.


Di saat Dian izin pergi mengambil minum untuk Duchess yang kehausan, ia meninggalkan Duchess yang waktu itu belum genap berusia delapan tahun bersama Princess Daneen yang waktu itu berusia jalan sepuluh tahun. Entah apa yang terjadi, namun saat Dian kembali, Duchess sudah tidak sadarkan diri dengan luka robek di beberapa bagian tubuh yang mengeluarkan darah. Sedangkan Princess Daneen tampak terduduk dengan tatapan kosong seraya memeluk anjing poodle berbulu coklat miliknya.


Padahal sebelum pergi mengambil air minum, Princess Daneen dan Duchess sedang duduk-duduk di area taman yang khusus diperuntukkan untuk anak-anak. di sana juga ditempatkan beberapa hewan peliharaan yang tidak berbahaya, contohnya kucing, kelinci, hamster, dan beberapa jenis burung. Princess Daneen yang memiliki hewan peliharaan pribadi bersikeras membawa anjing poodle miliknya masuk, padahal Duchess takut pada hewan tersebut. Namun, karena salah satu bodyguard Princess Daneen berkata jika hewan peliharaan Princess Daneen jinak dan menggunakan pet hearness dog atau tali pengaman, jadi aman.


Duchess langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat guna mendapatkan penanganan pertama, supaya gigitan anjing poodle tersebut tidak menyebabkan infeksi bakteri, kerusakan saraf dan otot, patah tulang, rabies, atau bahkan tetanus.


Setelah Duchess dilarikan ke rumah sakit, baru penyelidikan dilakukan oleh pihak berwajib. Ketika melakukan penyelidikan, ternyata kamera pengawas di area tersebut mengalami trouble, sehingga mereka kesulitan mencari tahu kejadian yang sebenarnya. Kendati demikian, karena raja Aroha meminta maaf secara langsung pada Damian dan Dewita, walaupun mereka belum tahu siapa yang salah, orang tua Duchess kemudian memilih untuk menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan.


Walaupun begitu, ingatan ketika menemukan Duchess terluka dan bersimbahan darah dalam kondisi tidak sadarkan diri, telah berhasil mengguncang kejiwaan Dian. Apalagi kejadian itu terjadi belum genap satu tahun pasca insiden tenggelamnya Duchess di brith-day party Dan yang ke-delapan. Oleh karena itu, selain Dan, Dian adalah orang ke-dua yang akan paling menderita jika melihat Duchess terluka.


Tiga atau empat tahun ke belakang, Dian mengetahui fakta jika ada yang disembunyikan oleh keluarga Princess Daneen. Saat mencoba mencari tahu dengan berbagai macam cara, Dian akhirnya tahu apa yang disembunyikan oleh keluarga Princess Daneen demi menjaga citra calon Ratu itu.


Faktanya, Princess Daneen sengaja melepaskan pet hearness dog yang mengikat anjing poodle miliknya, sehingga hewan tersebut menyerang Duchess.


Setiap mengingat fakta tersebut, benci yang bersarang di hati Dian selalu menggebu-gebu.


“Ian, kamu sudah bangun?”


Si pemilik nama yang baru saja membuka mata itu mengerjapkan mata beberapa kali, baru bisa memusatkan pandangan pada beberapa sekon kemudian.


“Di mana?”


“Di rumah sakit. Kamu kecapean dan asam lambung kamu naik,” sahut suara yang sama. Datang dari kanan hospital bed tempat Dian tengah berbaring.

__ADS_1


“Em?”


Lawan bicara Dian yang berjenis kelamin female itu tersenyum kecil seraya mengangguk. “Yes, I’am.”


“Kenapa kamu bisa ada di sini, Em?” Dian beranjak, mencoba merubah posisi menjadi duduk bersandar pada sandaran hospital bed.


“Kamu kehilangan kesadaran setelah briefing dengan calon relawan yang akan berangkat ke Palestina.”


Gadis cantik yang sebaya dengan Dian itu berkata seraya memberikan satu gelas air putih untuk Dian. Dian kemudian menerima pemberian itu, karena memang tenggorokannya terasa kering kerontang.


“Orang tua kamu sedang dalam perjalanan ke sini.”


Dian menoleh. “Kamu memberi tahu mereka?”


“Tidak. Mungkin ada salah satu peserta briefing yang menghubungi orang tua kamu.”


“Lalu kenapa kamu masih ada di sini, Em? Bukan kah kamu harus pergi ke kementrian?”


Gadis cantik yang mewarisi marga Atmarendra itu menggelengkan kepala. “Karena temanku sakit, aku absen memenuhi panggilan Negara.”


Dian yang sejak tadi menampilkan raut wajah flat akhirnya bereaksi juga. Ia melepaskan senyum kecil, amat kecil sampai-sampai lawan bicaranya tidak dapat melihat. “Memangnya tidak masalah jika kamu tidak pergi, Em?”


“Jangan ungkit masalah itu terus, Ian. Setelah enam bulan tidak bertemu, apa kamu tidak ingin bertanya sesuatu?”



“Bagaimana London? Senang belajar di sana?”


Gadis muda berwajah cantik itu mengangguk. Namanya Emily Atha Atmarendra. Putri sematawayangnya Edwar Atha Atmarendra—kakak Evelyn yang kedua. Selain cantik, Emily juga mewarisi kejeniusan sang ayah yang menjabat sebagai salah satu Menteri di kabinet RI.


Dian dan Emily memiliki hubungan yang cukup dekat, namun pertemuan di antara mereka terbilang cukup terbatas. Saat ini Emily sedang mengenyam pendidikan di London, Inggris. Lewat program akselerasi, Emily yang memiliki otak cerdas bisa langsung menyelesaikan sekolahnya lebih singkat dari anak-anak yang lain. Semenjak pindah ke London, Inggris, mereka juga jadi jarang berkomunikasi karena kesibukan masing-masing.


“Kamu masih belum bisa move on?”


Pertanyaan yang tiba-tiba terlontar itu kontan mengundang lipatan di kening Dian. “Maksud kamu apa, Em?”


“Tadi kamu sempat panggil-panggil nama Duchess beberapa kali. Itu berarti kamu belum bisa move on, ‘kan? kamu masih sakit.”


Dian menghela napas pendek. Ia memang tidak dapat membohongi Emily—salah satu sosok yang mudah membaca ekspresi orang lain dalam satu kali analisa.


“Jatuh cinta itu kayak mandi air hujan, Ian.”

__ADS_1


“….”


“Awalnya memang menimbulkan rasa senang dan bahagia, tapi ujung-ujungnya sakit juga.”


Dian setuju dengan perkataan Emily. Jatuh cinta memang seperti mandi di bawah guyuran air hujan. Awalnya memang menimbulkan rasa senang dan bahagia, namun ujung-ujungnya jatuh sakit juga.


“Lalu aku harus apa?” tanya Dian dengan perasaan gamang.


“Sembuh,” jawab Emily tanpa ragu. “Kamu harus punya tekad bulat untuk sembuh dari rasa sakit itu.”


“Caranya?”


“Ada banyak cara, Ian. Kamu bisa coba satu per satu.” Emily berkata seraya menatap Dian cukup lama. Ia sudah mengenal ia sejak lama, namun hingga saat ini ia masih belum bisa menyelami hati temannya itu.


“Kalau begitu ajari aku, Em.”


“Ajari apa, Ian? Bukankah kamu sendiri menutup hati kamu rapat-rapat supaya tidak ada yang memasukinya lagi, kecuali Duchess?”


Dian terdiam. Namun, saat ia kembali menatap Emily, ada seulas senyum tulus yang tersungging di wajah lawan bicaranya. “Kalau kamu masih tetap bersikeras untuk mendapatkan Duchess, mungkin akan butuh banyak usaha. Namun, entah apa hasil yang akan kamu dapatkan. Mengingat sepupuku—Dan juga memiliki tekad yang sama besar untuk mempertahankan gadis yang dia cintai.”


“Aku tahu.”


“Lalu apa keputusanmu?”


“Belajar membuka hati untuk orang lain.”


Emily tersenyum kecil mendengarnya. “Semoga berhasil, Ian. Aku berharap kamu maupun Dan bisa kembali berteman seperti dulu, jika sudah tidak lagi memperebutkan Duchess.”


Dian tersenyum seraya menatap lawan bicaranya lekat. “Apa kamu tidak mau mencobanya, Em?”


“Mencoba untuk?” Emily menatap Dian dengan tatapan kebingungan. Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum misterius dengan kebisuan yang terus bertahan sampai pintu ruangan tempatnya dirawat terbuka.


“Dian.”


Muncul dua wajah familiar dari luar sana, siapa lagi jika bukan Dean Wijaya beserta istri tercintanya. Pasangan suami istri—pasutri—itu masih tampak mengenakan pakaian kerja. Itu berarti mereka berdua baru saja kembali dari tempat kerja.


Sang ibu langsung mendekati hospital bed dan memberondong Dian dengan berbagai pertanyaan. Sedangkan sang ayah tampak mematung beberapa saat di depan pintu masuk, dengan tatapan tertuju pada Emily yang mewarisi rupa cantik milik saudari perempuan ayahnya, yaitu Evelyn. Sosok yang menjadi cinta pertama Dean Wijaya puluhan tahun silam.


✈️✈️


TBC

__ADS_1


Tanggerang 07-10-22


__ADS_2