
DIM. 48
“Duchess!”
Sosok cantik yang baru saja muncul itu tampak tersenyum sumringah saat kedatangannya disambut begitu meriah. Dara dan Iris yang entah sedang apa di depan pintu kelas langsung menghadang jalan Duchess. Mereka juga sudah memberondong Duchess dengan berbagai pesan singkat sejak kemarin. Menanyakan kapan Duchess kembali masuk sekolah.
“Selamat pagi semua,” sapa Duchess hangat. Ia memang tidak pelit senyum. “Apa kabar kalian selama Duchess nggak ada?”
“Nggak baik,” jawab Dara terlebih dahulu. “By the way, seharusnya kita yang nanya gimana kabar lo. Udah mendingan? Sebenarnya lo sakit apaan sih? Kok tiba-tiba wali kelas kita ngasih tahu lo nggak masuk karena sakit.”
Duchess tersenyum seraya melangkah masuk. “Duchess sakit biasa kok. Cuma demam.”
“Kirain kamu sakit parah, soalnya tiba-tiba nggak masuk,” ujar Iris. “Pasti orang tua kamu yang langsung menghubungi wali kelas kita, ya? Makanya kamu nggak ada konfirmasi Day.”
“Iya. Soalnya waktu itu Duchess nggak pegang handphone. Mungkin daddy atau mommy nggak tahu harus menghubungi siapa dulu, jadi langsung ke Miss Mikaila.”
Duchess terpaksa berbohong soal orang tuanya yang melakukan konfirmasi cuti sakit pada Miss Mikaila—wali kelas mereka—padahal Dan yang melakukannya. Posisi Duchess sebagai sekretaris satu yang tiba-tiba tidak masuk kelas karena sakit, pasti akan memberatkan Dayita atau Day, selaku sekretaris dua.
“Itu sekarang udah nggak penting lagi,” ujar Dara seraya merangkul bahu Duchess. “Yang penting sekarang Queen kita sudah kembali.”
“Setuju!”
Seru anak-anak yang lain. Didominasi oleh suara kamu Adam yang terdengar sangat girang. Bagaimana tidak girang, orang kehadiran Duchess yang bagaikan magnet selalu berhasil memperbaiki mood ketika mereka suntuk di kelas. Duchess juga anaknya ramah, sekalipun ia termasuk selebriti muda di tanah air. Pembawaan Duchess yang baik, ramah, friendly, dan low profil sekali, membuat teman-temannya yang merasa tidak satu kasta dengan Duchess jadi bisa bergaul dengan nyaman.
“Hari ini kita ada jam olahraga loh. Kamu yakin mau langsung ikutan?” tanya Iris saat bel yang menandakan pergantian jam pelajaran terdengar.
Duchess yang sedang menata alat tulis miliknya sebelum dimasukkan ke dalam tas, tampak mengangguk tanpa pikir panjang. “Duchess udah nggak apa-apa, kok.”
“Yakin?” Kini giliran Dara yang membawa setelan olahraga miliknya yang buka suara.
Duchess mengangguk. Toh, sekarang kondisi tubuhnya juga sudah kembali fit. Masalah jam olahraga bukan hal yang riskan untuk ia lakukan. Ia juga sudah biasa menerapkan jadwal olahraga rutin dalam kesehariannya.
“Ya sudah. Tapi, kalau lo ngerasa pusing atau apa gitu, langsung ngomong sama kita. Nanti kita bawa lo ke unit kesehatan sekolah supaya bisa istirahat di sana.”
“Iya, Dara. Nanti Duchess bilang kalau nggak enak badan.”
__ADS_1
“Sip.”
Dara yang hari ini tampak menjumput rambut pendeknya, tersenyum seraya menunjukkan ibu jarinya.
Selain anak laki-laki, anak perempuan di kelas juga sangat care pada Duchess. Namun, Duchess belum tahu apa mereka semua tulus care kepadanya, atau cuma pansos. Mengingat efek berteman dengan Duchess Aretha Darchelle yang memiliki gelar young, beauty, and rich, membawa keberuntungan tersendiri. Misalnya saat mereka berhasil mengambil satu gambar dengan Duchess berada di dalam frame yang sama, media sosial tempat mereka mengunggah gambar tersebut akan langsung diserbu oleh para fans Duchess. Followers juga bisa langsung naik secara pesat, karena efek gambar Duchess.
Mereka juga tidak munafik, siapa sih yang tidak mau berteman dengan orang penting seperti Duchess. Apalagi Duchess termasuk orang yang tidak pilih-pilih. Ia juga royal terhadap teman-temannya, belum lagi kedua orang tua Duchess. Kendati demikian, di luar sana pasti tetap saja ada yang namanya haters. Sekumpulan manusia yang selalu mencari-cari kesalahan dan kelemahan Duchess. Mereka iri setiap kali melihat Duchess senang. Mereka benci setiap kali Duchess dekat dengan para pemilik hati. Siapa lagi jika bukan anggota inti 4 HANDS?
“Panas banget, njir. Enaknya panas-panas gini makan ice cream, gelato, atau sorbet.”
Rombongan siswa-siswi kelas sepuluh dua yang baru saja turun ke lapangan, langsung disajikan teriknya sinar sang surya. Ditambah lagi pantulan cahaya sang surya pada lapangan membuat sebagian besar dari mereka worry lama-lama berolahraga.
“Harusnya tadi pakai sun cream,” sahut Iris yang berdiri di samping Duchess. “Panas begini kulit pasti gampang hitam.”
“Iya nih. Nanti kulit gue nggak glowing plus shining lagi kayak kulit Irene RED VELVET.”
Iris dan Duchess kompak tersenyum mendengar ucapan Dara yang sejak tadi mengeluh karena cuaca yang sangat panas. Apalagi jam pelajaran mereka dimulai dari pukul Sembilan sampai pukul sepuluh lewat lima belas menit. Dijeda waktu istirahat dua puluh menit, kemudian lanjut lagi setelah jam istirahat selesai.
“Duchess bawa sun cream kok. Sun cream yang biasa dipakai Mommy sama Duchess.”
“Demi apa?” Dara langsung tertarik dengan topik pembicaraan Duchess. “Sun cream yang pernah lo iklanin di Instagram bukan sih? brand produk kecantikan yang dari Korea?”
Dara langsung memekik heboh. Membuat beberapa orang yang berada di dekat mereka menoleh.
“Kalau mau, Dara pakai aja. Iris juga boleh pakai. Sun cream nya ada di loker Duchess.”
“Mau banget, bestie. Pertama, karena gue nggak mau kulit gue item. Kedua, karena sun cream yang lo tawarin dari brand produk kecantikan langganan nyokap. Gue masih belum dibolehin nyoba, karena harganya fantastis.”
“Pakai aja. Daripada kulit Dara terpapar sinar ultra violet secara langsung.”
Dara mengangguk tanpa berpikir dua kali. “Kalau gitu gue ambil dulu, ya?”
Duchess kembali mengangguk. Loker yang ia maksud adalah loker buku yang ada di kelas. Setiap siswa dan siswi di SMA Wijaya mendapatkan masing-masing tiga loker, yaitu loker buku, loker baju, dan loker sepatu. Semua loker itu berada di tempat yang berbeda-beda. Loker sepatu berada di depan kelas, sedangkan loker buku ada di dalam kelas. Untuk loker baju, ada di ruang ganti. Semua loker itu juga memiliki fungsi masing-masing, serta ukuran yang berbeda-beda.
Karena Dara pergi ditemani Iris, Duchess yang tinggal seorang diri kemudian ikut bergabung dan siswi yang lain. Saat ini ada dua kelas yang sedang melangsungkan jam olahraga, yaitu kelas sepuluh dua—kelas Duchess, dan kelas dua belas satu—kelas Dan and the geng. Karena jam pelajaran belum dimulai, anak-anak kelas sepuluh bisa puas menikmati para kakel alias kakak kelas yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng.
__ADS_1
Hal itu lumrah terjadi, apalagi jika kakel mereka memiliki visual yang mendekati kata sempurna. Contohnya saja para pentolan sekolah yang saat ini mandi keringat sambil mengover bola kulit berwarna oranye di bawah teriknya sinar mentari.
Ada Elang yang tampak menonjol dengan tinggi badan serta beanie di atas kepala. Ia tampak gesit mengover bola ke sana dan kemari. Rambut panjang laki-laki itu menjadi daya Tarik tersendiri, apalagi saat ia memainkan rambutnya karena kepanasan. Maka tidak heran jika tidak sedikit siswi yang rela menghabiskan suara demi meneriakkan namanya, supaya di-notice oleh Elang.
Wasit yang hari ini bertugas mengamankan jalannya pertandingan juga tidak kalah famous. Ia tampak berkharisma saat menampilkan wajah serius. Siapa lagi jika bukan Daru yang memiliki kriteria seperti itu. Siswa berkacamata yang memiliki pesona cukup luar biasa.
“KAK DAN, KAK DIAN, FIGHTING?!”
Namun, terlepas dari semua itu, dua nama yang sejak tadi disandingkan dan selalu diteriakkan secara histeris adalah Dan dan Dian. Dua laki-laki yang tampaknya biasa saja saat bermain, karena tidak caper seperti yang lain, atau gasspol seperti sebagian yang lain. Mereka bermain secara professional. Tidak tengok kanan dan kiri, hanya fokus pada ring basket.
“Mereka kok bisa ganteng begitu, ya? Herman.” Seorang siswi berkata dengan gurat terkagum-kagum di wajahnya.
“Heran, bukan herman,” koreksi Duchess.
“Ah, iya. Itu maksudnya.” Siswi dengan surai ikal itu tampak tertawa geli. “Omong-omong, kamu ‘kan kayak deket banget sama kak Dian dan kak Elang. Terus, kamu deket juga nggak sama kak Dan?”
“Bisa dibilang begitu.”
“Woah, enak banget dong. Mereka ‘kan ganteng banget dan berkesan untouchable. Bisa deket sama mereka itu kayak keajaiban dunia nomer delapan versi On The Spot.”
Duchess tidak bisa lagi menahan tawanya. Maka tawa manis itu keluar, tawa yang ditunjukkan secara langsung pada dunia. Dikarenakan Duchess selalu menutup mulut saat tertawa. Itu adalah salah satu adab tidak tertulis yang ia pelajari sejak kecil. Ia bebas tertawa, tetapi jangan sampai tertawa terbahak-bahak. Tertawa dengan pelan, serta menggunakan nada yang jelas. Jangan tertawa tanpa alasan, dan jangan tertawa sambil main tangan—misal memukul teman yang ada di samping.
Dengan tawa Duchess saat ini saja, mampu membuat ekosistem di sekitar langsung berhenti bergerak. Semua mata langsung tertuju padanya yang tampak bercahaya di bawah pohon mangga yang memberi keteduhan.
“Eh, kenapa? Kok pada diam?" Bingung Duchess kala ia kembali menampilkan ekspresi biasa.
Belum sempat lawan bicaranya menjawab, sebuah suara yang terdengar begitu lantang melontarkan kalimat yang membuat siswi lain iri berjamaah.
“DUCHESS ARETHA DARCHELLE JANGAN KETAWA. KAKAK NGGAK KUAT, TAKUT DIABETES DEK.”
Kontan lapangan olahraga indoor milik SMA Wijaya langsung riuh oleh sorak-sorai. Si pelaku dari lontaran kalimat cheesy itu juga langsung menjadi bulan-bulanan teman-temannya yang lain. Namun, di antara kehebohan itu, Duchess malah tidak enak hati saat melihat raut wajah sang tunangan yang tampak tidak suka.
Cemburu kah? Jika iya, tolong ingatkan Elang Gaharu supaya tidak melakukan hal itu lagi. Karena ada hati yang terbakar api cemburu karena ulahnya.
💐💐
__ADS_1
TBC
Sukabumi 25-08-22