Duda Salah Kamar

Duda Salah Kamar
BAB 21 | And Cappadocia


__ADS_3

Happy Reading!




"Jadi Honeymoon-nya?" tanya Nanas pada Anthony yang sudah berpakaian rapi.


Mereka hari ini akan berangkat untuk memeriksa kandungan Nanas yang sudah memasuki bulan keempat karena besok mereka akan berangkat ke negeri 1000 Balon udara, Cappadocia.


Tempat yang selalu menjadi mimpi Nanas dan siapa sangka segala keinginannya akan terwujud sekarang, Anthony menggenggam tangan Nanas pelan dan menciumnya.


"Jadi, Pineapple." jawab Anthony pada Nanas.


"Om Ginting, emang paling best! Yuk takut ngantri lagi di Poli kandungannya." ujar Nanas pada Anthony.


Anthony mengangguk kemudian menggandeng tangan Nanas keluar dari rumah, sesampainya didepan mobil mereka, Anthony membukakan pintu untuk Nanas masuk.


Nanas merasa sangat bahagia, karena Anthony sudah tidak terlalu sibuk akan masalah pekerjaannya, dan selalu mempunyai waktu untuknya.


"Sudah siap?" tanya Anthony pada Nanas.


Nanas memberikan tanda "oke" yang kemudian membuat Anthony menjalankan mobilnya menuju rumah sakit tempat pertama Nanas dan Anthony cek kehamilan Nanas.


Niatnya disana Anthony ingin bertemu Evan, tetapi kabar kecelakaan dari Evan membuat Anthony hanya bisa mendoakannya terlebih Evan dirawat dirumah sakit berbeda.


Walaupun Anthony sendiri sudah mengganti dokter kandungan Nanas dengan dokter wanita, tapi Anthony tetap akan menemani Nanas jaga-jaga jika ada dokter pria yang salah ruangan.


Tak butuh waktu lama bagi Anthony dan Nanas, sampai di rumah sakit itu, namun baru beberapa langkah hendak masuk, Anthony mendapat sebuah panggilan telepon.


Anthony menyuruh Nanas menunggu sebentar untuk mengangkat panggilan telepon itu, setelah menelepon Anthony berjalan ke arah Nanas dengan ekspresi yang susah dijelaskan.


"Nas? Maafin aku yah, aku harus ke kantor sekarang, klien minta denah bangunan terbaru yang sudah aku revisi sebelum kita berangkat honeymoon besok," ujar Anthony pada Nanas.


Nanas menatap Anthony dan memegang tangan nya. "Gapapa Om, nanti aku bisa telepon Melon dan Terasi buat kesini nemenin aku."


"Serius?"


Nanas mengangguk yang membuat Anthony mencium puncak kepalanya dan hendak pergi dari sana sebelum Nanas kembali memanggilnya.


Anthony membalikkan badannya dan memberikan jempol kepada Anthony. "Semangat Ginting!"


Anthony mengangguk dan meninggalkan area rumah sakit itu, Nanas mengambil ponselnya dan menelepon Melon juga Terasi untuk datang ke rumah sakit menemaninya.


Setelahnya Nanas berjalan masuk kedalam rumah sakit, menuju poli-kesehatan, dan ternyata disana banyak pasien ibu hamil yang menunggu gilirannya juga.


"Apa sekarang lagi musim yak ngebuat anak?" tanya Nanas dalam hati.


Sementara itu ditempat lain, Melon dan Terasi baru saja dirumah sakit dan hendak masuk kedalam sana sebelum Terasi gemetar dan sedikit ketakutan.


"Sumpah gue trauma!" teriak Terasi pada Melon.


"Kenapa?"


"Nanti ada setan, lagi." jawab Terasi yang membuat Melon menggeleng malas kemudian menarik tangan Terasi masuk kedalam.


Nanas yang merasa bosan menunggu mencoba berjalan-jalan sejenak dan mendapati kedua temannya sedang berjalan dikoridor rumah sakit, seketika pikiran Nanas melayang kepada ide jahil untuk mengerjai Melon dan Terasi.


Nanas kemudian bersembunyi di dinding koridor lain dan hendak mengagetkan mereka ketika mereka berdua melewati koridor tersebut.


Melon dan Terasi kini sudah melewati koridor tempat Nanas bersembunyi dan dengan sekali ancang-ancang, Nanas mengambil tempat untuk mengejutkan mereka.


"Po!" teriak Nanas yang membuat Melon dan Terasi berteriak kencang.


"Ah! Setan!!!" teriak Terasi berlari meninggalkan Melon dan pergi entah kemana karena kini ia hanya berpikir untuk menyelamatkan diri dan tidak memikirkan dimana kini ia berada.


Seketika tawa dari Nanas meledak hebat melihat ekspresi teman-temannya terlebih lagi Terasi yang sudah lari entah kemana, Melon yang menyadari bahwa sosok itu adalah Nanas langsung berdiri dan menatap tajam ke arah Nanas dan dengan sekali injakan, Melon menginjak kaki Nanas.


"Ah! Kualat lo sama Bumil." Nanas menjerit kesakitan karena kakinya yang di injak oleh Melon tanpa aba-aba sebelumnya.


"Kampret lo yah? Kalau gue jantungan terus gue mati gimana?" ujar Melon menatap tajam Nanas.


"Yah di kuburin lah kalau lo mati terus mau di apain lagi? Yakali mau di dandanin terus di ikutkan karnaval," jawab Nanas santai.

__ADS_1


"Gak ada akhlak emang lo!" geram Melon berjalan kembali mendahului Nanas.


"Dih! Akhlak gue sempurna makanya kek gini kalau gue gak ada Akhlak berarti gue gak hidup dong?," protes Nanas berjalan menyusul Melon


Nanas hanya diam dan memilih tidak meladeni Melon yang sedari tadi sudah mengoceh tak karuan membuat telinga Nanas sakit sampai mereka tiba di ruang Poli-Kesehatan.


Cukup lama menunggu, akhirnya nama Nanas dipanggil yang membuat Nanas segera masuk kedalam ruangan tersebut, sementara Melon hanya menunggu diluar dengan ponsel ditangannya.


Namun baru saja Nanas ingin masuk, seorang ibu-ibu datang dan berusaha menyalip Nanas.


"Saya dulu dek, saya mau periksa kandungan." ujar ibu tersebut pada Nanas.


Nanas yang melihat itu hanya berkacak pinggang menatap ibu tersebut. "Jadi ibu pikir, saya disini mau ngapain? Gali kubur gitu?"


Nanas kemudian masuk kedalam ruangan pemeriksaan tanpa memperdulikan ibu-ibu yang tadi.


Setelah selesai Nanas keluar dari sana, dan menghampiri Melon dengan wajah sumringah. "Ada kabar bahagia apa ini?"


"Anak gue kembar!" jawab Nanas memperlihatkan hasil USG kandungannya.


Melon berdiri dan berbinar menatap Nanas kemudian mengambil hasil USG Nanas. "Ponakan gue kembar dong?"


Nanas mengangguk kemudian memeluk Melon cepat.


"Congrats! Beb!" teriak Melon saat melepas pelukannya.


"Makasih beb! Yaudah yuk pulang." ajak Nanas pada Melon.


Melon mengangguk kemudian berjalan beriringan dengan Nanas sebelum mengingat sesuatu.


"Eh tunggu," cegah Melon pada Nanas yang sudah melangkah di depannya.


Nanas yang hendak pergi dari tempat itu langsung membalikkan badannya dan mengangkat bahunya menatap ke arah Melon yang menatap sekitar.


"Ada apa?" tanya Nanas pada Melon


"Terasi mana yah?" tanya Nanas balik.


"Eh iya, emang Terasi kemana? Pasti tuh anak lari sampe nyasar di rumah sakit ini, bikin repot aja sih tuh bocah," ujar Nanas.


"Dah gak usah ngebacot lo di situ mending buruan kita cari Terasi mungkin masih ada di sini atau pingsan kali yah? Gue kagak tau yang penting kita cari dulu tuh bocah kupret," jelas Nanas menarik tangan Melon menuju koridor rumah sakit tempat mereka berjumpa tadi.


Sementara itu di lain tempat, Terasj terus berlari tanpa memperhatikan sekitarnya dan tanpa sadar ia memasuki sebuah ruangan yang tak seharusnya dia masuki.


"Ah! Akhirnya kita selamat Lon," ucap Terasi mengelus dadanya.


Terasi kemudian mengumpulkan fokusnya dan akhirnya menyadari bahwa dia sekarang sedang seorang diri tanpa Melon di sampingnya.


"Lah gue dimana?" gumam Terasi bertanya dalam hati.


"Lah kok banyak ranjang gini sih? Di tutup kain putih lagi?" tanya Terasi yang mulai di penuhi pikiran negatif.


"Jangan bilang kalau gue ada di kamar mayat," pikirnya dalam hati.


Terasi kemudian berjalan mundur dan tanpa sengaja membentur sebuah ranjang yang berisi sesosok mayat yang tak sengaja terbuka kain penutupnya.


"Tuh kan apa gue bilang!" protes Terasi mendumel dalam hati. "Please lah jangan gangguin gue mayat baik,"


"Tuh muka serem beut dah," lanjut Terasi.


"Bentar lebih baik kalau gue tutupin aja yang muka lo daripada nakutin gue," ujar Terasi berjalan ke arah mayat tersebut. "Eh tapi rencana Authornya kan gue bakal pingsan yah? Gimana sih thor?"


Terasi kemudian berlari berjalan mundur menjauhi mayat tersebut dan akhirnya tiba di sudut ruangan tersebut.


"Ya allah gue dimana ini?" tanya Terasi dalam hati.


Terasi kemudian menutup matanya sampai ada seseorang yang tanpa dia ketahui menepuk pundaknya dan tanpa sadar ia berteriak kencang dan histeris.


"Dasar setan lo kampret jangan ganggu gue!!!" teriak Terasi asal yang berlari dan membentur tembok sampai akhirnya ia tak sadarkan diri.


"Lah nih bocah muka cantik begini di bilang setan," keluh Melon melipat kedua tangannya.


"Lah lo apaan anak orang sampe semaput gitu?" tanya Nanas yang baru datang dan melihat Terasi tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Lah emang pengen gue apaan nih orang, di jual pun kagak ada yang mo beli, sumpah dah," jawab Melon melipat kedua tangannya.


"Yaudah deh mending nih anak kita bawa aja dulu keluar dari sini, dia pingsan pas liat muka lo tuh, kayak hantu mungkin," ujar Nanas menyeret tubuh Terasi untuk keluar dari ruangan itu.


"Dih enak beut tuh mulut berkicau, orang cantik kayak selena gowes begini kok," protes Melon membantu Nanas menyeret tubuh Terasi.


"Gomes! Maemunah!" ralat Nanas.


"Iya maaf gue lupa dikit lagian apa bedanya sih?" jawab Melon yang kini mengusung tubuh Terasi berdua dengan Nanas.


Nanas dan Melon kemudian membawa Terasi keluar dari ruangan tersebut dan menaruhnya di kursi ruang tunggu, tak lama kemudian Terasi tampak mengerjapkan matanya sejenak sebelum akhirnya ia membuka matanya sempurna.


"Setan!" teriak Terasi mengagetkan Melon dan Nanas yang ada di sampingnya.


Plak!


"Bisa diem gak lo? Berisik banget sih!" ujar Melon kesal menampol kepala Terasi.


"Ah! Sakit tau," protes Terasi meringis memegang kepalanya sementara Nanas hanya bisa tertawa geli.


"Bodo amat! Siapa suruh lo teriak gak jelas kan gue kesel jadinya," tukas Melon menjelaskan.


Terasi hanya bisa menahan sakit di kepalanya sementara Melon hanya melipat kedua tangannya kesal dan Nanas malah memilih untuk tertawa geli melihat tingkah kedua temannya itu.


"Yaudah yuk pulang," ajak Melon berdiri dari duduknya.


Mereka bertiga melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit tersebut, sebelumnya Nanas sudah memesan taksi untuk mereka bertiga, memasuki Trimester kedua kehamilannya, perut Nanas mulai sedikit membesar, mungkin karena ada dua janin yang hidup didalamnya.


Sembari menunggu taksi mereka, Rencana Nanas ingin membeli Toge Goreng kesukaan Anthony, entah apa yang suaminya suka dari makanan itu, yang penting menurut Nanas itu sangatlah pahit.


Disaat menunggu pesanan, dan taksi mereka, Nanas, Melon dan Terasi memilih berghibah ria, untuk mengurangi kebosanan, disaat tengah asik-asiknya berghibah sosok manusia yang entah darimana asalnya menganggu momen mereka bertiga.


"Biar ku tebak, kamu kesini buat beli Toge Goreng dulu saya sering masakin itu buat Anthony." tanya Dina yang membuat Melon dan Terasi bersiap mengambil ancang-ancang, namun ditahan oleh Nanas. "Anthony, Anthony, itu kan makanan kenangan kami, dia masih aja makan makanan itu, apa itu artinya Anthony masih sayang sama saya?"


Nanas terkekeh kemudian berdiri dan menghadap kepada Dina, kedua tangannya melipat dan menatap Dina remeh. "Biar gue tebak juga, Lo kesini buat Open BO? Soalnya gue pernah denger kabar perempuan kepergok main ranjang sama adik suaminya sendiri."


Dina terdiam, ia tidak kehabisan akal tapi kehabisan kata-kata atas balasan telak Nanas kepadanya.


"Tante gaada kapok-nya yah, udah gue bilang kan sebelumnya jangan terlalu bermimpi indah, kalau Tante terlalu tinggi mimpinya, pas jatuh kemungkinannya cuma dua, Mati atau Patah tulang." lanjut Nanas tersenyum sinis dihadapan Nanas.


Nanas mengode Melon dan Terasi untuk maju dan meladeni wanita satu itu, pasalnya Nanas sudah lelah berkata kasar untuk yang ke sekian kalinya.


Melon berdiri dengan menggenggam jus jeruk yang sudah dia pesan tadi dan menumpahkannya ke wajah Dina, Dina yang mendapat perlakuan seperti itu tampak kaget dan hendak menampar Melon namun dengan sigap ditahan oleh Melon.


"Pekerjaan sebagai pelakor tengah booming yah sekarang? Buktinya banyak juniornya sampai detik ini!" ujar Melon melepas tangan Dina.


Melon kemudian menunjuk keningnya dan dengan gaya sinis nya dia berdiri dihadapan Dina. "Gue ragu, Lo dilahirin dari rahim atau bukan? Soalnya kalau dari rahim, ibu Lo gak mungkin ngajarin Lo ngerebut suami orang."


Sementara itu Terasi yang ada disana hanya diam dan tidak melakukan apa-apa sampai Melon mengodenya. "Lah, gue harus apa?"


Melon menepuk jidatnya yang membuat Terasi mengerti. "Sorry, gue lupa dialog gue tadi."


Terasi kemudian berjalan ke arah Dina dan memegang pundaknya dan berbisik ditelinga-nya. "Udah gak laku yah? Sampai ngebet ngerebut punya orang?"


Setelahnya Melon, Terasi dan Nanas pergi dari sana karena pesanan mereka sudah datang, meninggalkan Dina yang frustasi dan sakit hati akibat perbuatan ketiga sahabat itu.


"Squad Rujak Gemesh, dilawan." ujar Melon merangkul Nanas dan Terasi.


Dina memilih pergi dari sana, daripada lebih lama menanggung malu akibat penghinaan yang sudah kesekian kalinya dia dapatkan.





TBC


Author selalu sempatkan Triple Update buat kakak-kakak semua, tapi Maaf kalau Author ga sempet balas komentarnya yah kak.


Jangan lupa like! Have A Nice Day!


Ekspresi Anthony mengetahui Squad Rujak Gemesh tidak gampang ditindas:

__ADS_1



__ADS_2