Duda Salah Kamar

Duda Salah Kamar
BAB 61 | In The Bathroom


__ADS_3

Dave bangkit dari posisinya dan sedikit menjauh dari Melon, Melon yang mendapat perlakuan seperti itu hanya terduduk diranjang memandang Dave yang gelagapan.


"Kenapa?" tanya Melon pada Dave.


Dave menelan ludahnya kasar, tungkainya melemas memandang tubuh Melon yang hampir terlanjang dihadapannya. "M-Maaf,"


"Yakin Pak?" tanya Melon pada Dave.


Dave mengangguk. "One day, tapi bukan sekarang, Maafin aku,"


Melon hanya menarik napas panjang dan mengambil handuk untuk menutupi badannya. "Katanya Gay dan Phillophobia permainan ranjangnya luar biasa, ini baru disentuh dan ketar, ketir,"


Dave menunduk atas ucapan Melon, ia kembali berjalan mendekati Melon dan duduk ditepi ranjang, Melon yang melihat wajah kacau Dave merasa sedikit iba.


"Sudah Pak, gue gapapa kok, lagipula pernikahan bukan cuma tentang malam pertama, lagipula pernikahan kita cuma satu semester," ujar Melon berusaha menguatkan Dave.


Melon memeluk Dave dari belakang, membuat Dave memilih menggenggam tangan Melon dan menatap Melon ragu. "Maaf,"


"Gausah minta maaf kali, gapapa Om, Its Okey," jawab Melon.


Melon kemudian menarik tangan Dave untuk tidur diranjang, Dave mengikuti Melon dan tidur diranjang, Dave menatap Melon, mereka berdua saling berpandangan dan menghirup oksigen yang sama.


Melon tersenyum sebelum memejamkan matanya begitupun dengan Dave yang ikut terpejam, terkadang sebuah pernikahan hanya sebatas mengetahui dan diketahui.


Selanjutnya biarkan Tuhan yang mengaturnya.


"Soalnya gue pernah nekat ngatur malah berantakan, biar Tuhan aja deh yang ngatur," batin Melon terlelap dalam tidurnya begitupun dengan Dave.



"Argh!" teriak Anthony saat Nanas mencabut paksa janggutnya.


Nanas berdiri dengan tatapan sangar yang sulit di deskripsikan, sedangkan Anthony hanya menatap Nanas kebingungan diatas ranjang dengan tatapan yang menanyakan apa maksud istrinya itu.


"K-Kamu kenapa?" tanya Anthony pada Nanas.


Nanas terdiam kemudian mengambil bantal dan memukulkannya ke badan Anthony yang masih bingung dengan apa yang terjadi pada Nanas, bukannya memberi penjelasan Nanas malah memberikan hantaman.


"Nas? Kamu kenapa sih?" tanya Anthony sekali lagi yang membuat Nanas memperlihatkan tangannya yang sedikit merah.


"I-itu kenapa?" tanya Anthony sekali lagi.

__ADS_1


"Om mimpiin apaan sih? Sampai tidur gelisah gitu, tau gak dari semalam aku udah dapat empat tendangan dari Om dan kali ini bikin tangan aku lecet, kalau kena perut aku gimana? Om ngeselin ih," jelas Nanas kesal.


Anthony menautkan alisnya, sebrutal itukah dia saat tengah tertidur, Anthony berusaha mengingat apa yang terjadi namun tetap saja didalam ingatan nya dia sedang tertidur.


Nanas melipat tangannya kesal dan duduk ditepi ranjang menatap Anthony yang masih kebingungan.


"Aku tuh udah sabar banget yah sama Om, Om ngorok, Om kentut, Om gelisah, Om banyak gaya, dari kodok ngangkang, kodok keseleo, kodok jumpalitan sama semua ***** bengek gaya tidur Om, aku tuh sabar banget," ujar Nanas pada Anthony. "Tapi semalam itu loh, Om mimpi jadi pemain bola gitu?"


Anthony yang menyadari kekesalan Nanas segera merangkak menghampiri Nanas dan menaruh kepalanya di pundak Nanas.


"Maaf yah, janji besok gak gitu lagi," ujar Anthony mengeluarkan ekspresi imut yang membuat Nanas cenderung ketakutan melihatnya.


"Yaudah sana Mandi, ini udah jam berapa, katanya ada kerjaan, aku juga ada kelas beberapa menit lagi," jawab Nanas menyingkirkan kepala Anthony dari pundaknya.


"Mandiin," ujar Anthony frontal yang membuat Nanas menampar pipinya.


"Kenapa ditampar sih?" tanya Anthony memegang pipinya yang membuat Nanas terdiam.


"Maaf Om, reflek," jawab Nanas masih dengan ekspresi kesalnya.


Anthony masih tidak menyerah ia kemudian berdiri dan menggendong Nanas dengan gaya Face To Face menuju kamar mandi, Nanas yang digendong tiba-tiba hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan Anthony yang kini membawanya ke kamar mandi.


"Cukuran dulu yah, biar janggutnya gak kamu tarik lagi pas kamu kesel," ujar Anthony mengoles setiap sudut brewoknya dengan krim pencukur.


Melihat cara Anthony yang belepotan, membuat Nanas mengambil krim tersebut dari tangan Anthony dan mengoleskannya lagi dengan rapi.


Anthony hanya diam dengan berpengengan pada ujung wastafel saat Nanas mengoleskan krim tersebut, dan disaat Nanas lengah Anthony dengan sengaja mendekatkan wajahnya sehingga kini wajah Nanas juga terkena krim tersebut.


"Apaansih Om? Jahil banget parah," protes Nanas menatap Anthony kesal.


Anthony terkekeh dan mencubit pipi Nanas yang sedikit tembem, sebelum mendekatkan wajahnya lagi ke wajah Nanas dan menempelkan hidungnya disana.


"Kamu lucu loh," ujar Anthony yang membuat Nanas memajukan bibirnya beberapa senti.


"Apanya yang lucu," Nanas menjauhkan wajah Anthony dan mengambil cukuran yang ada di kotak yang sama. "Ngadep keatas Om!"


Anthony kemudian menghadap keatas menuruti perintah Nanas, Nanas segera mencukur brewok Anthony menjadi lebih tipis dari sebelumnya, tidak butuh waktu lama untuk Nanas mengerjakan hal tersebut.


"Udah selesai," ujar Nanas mengambil tissue dan mengelap bekas krim diwajah Anthony.


"Makasih sayang, yang dibawah gamau dicukur juga," genit Anthony menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Dih! Gamau, Om cukur aja sendiri," jawab Nanas merapihkan kotak tadi.


Anthony tersenyum kemudian mencium pipi Nanas yang berujung pada Anthony mengigit kecil telinga Nanas. "Telinga kamu kayak jelly,"


"Penunda lapar gitu?" jawab Nanas tanpa menolah ke arah Anthony.


"Bibir kamu,"


Nanas segera membalikkan kepalanya menatap Anthony dan dengan sigap Anthony mencium bibir Nanas cepat, membuat Nanas terdiam kaku.


"Bibir kamu masih manis, ini masih bekas aku kan?" lanjut Anthony melepas ciumannya.


Nanas menarik napas panjang kemudian menghembuskannya keluar. "Menurut Om? Aku nyium orang lain gitu setelah Om? Ngotak dong!'


"Maaf," Anthony menggendong Nanas dan mendudukkannya didalam bathup.


Anthony membantu Nanas melepas bajunya sehingga dia kini dalam keadaan full naked sebelum Anthony melepas pakaiannya sendiri.


Setelahnya Anthony menyalakan shower yang perlahan mengisi bathup tersebut, Anthony masuk kedalam bathup dan memangku Nanas dan berendam dalam air hangat.


Sementara itu diluar pekarangan rumah Anthony. Terlihat Melon dan Dave yang baru saja turun dari mobilnya.


"Morning calon janda!" teriak Terasi yang juga ada disana.


Melon dan Dave membalikkan badannya kepada Terasi yang berjalan ke arah mereka.


"Eh jomblo datang, ngapain neng? Cari jodoh?" ujar Melon pada Terasi.


"Sembarangan, gue bukan Jomblo, gue single," jawab Terasi. "Eh Pak Dave,"


Terasi meraih tangan Dave dan menyalaminya karena Dave adalah dosen dikampus Terasi jadi begitulah adab Mahasiswa ke Dosen.


"Nih tangan Nyonya Dave, gamau lo salamin?" Melon mengulurkan tangannya.


Terasi menatap kesal Melon kemudian mengambil tangan Melon namun tidak menciumnya melainkan menjilat tangan sahabatnya itu.


"Astaga! Dasar lo yah! Bahan dapur berjalan gak manusia lo!" teriak Melon saat Terasi melenggang dengan wajah tanpa dosa.



TBC

__ADS_1


__ADS_2