Duda Salah Kamar

Duda Salah Kamar
BAB 45 | Gelud Aja Kita, Yok!


__ADS_3

Happy Reading!




"Kita kemana sih?" tanya Nanas saat Anthony memarkirkan mobilnya disebuah taman.


Karena tidak jadi pulang, Anthony memilih mengajak Nanas untuk me-time berdua kesebuah taman yang banyak terdapat stand minuman dan makanan.


"Gak dijawab ih, mau kemana," tanya Nanas kembali setelah turun dari mobil disusul oleh Anthony.


"Jalan-jalan," jawab Anthony menggandeng tangan Nanas masuk kedalam area berisi stand makanan, tentunya itu adalah hal yang paling Nanas sukai.


Mereka berdua berjalan pelan menikmati pemandangan sekitar, yang pada dasarnya hanya jejeran stand makanan.


"Ganteng banget,"


"Gagah yah,"


"Tapi yang cewek itu anaknya gak sih?"


"Kayaknya itu cewek bayaran deh,"


"Hah gimana?"


"Itu cewek istilahnya kupu-kupu malam,"


Sebuah percakapan diantara orang-orang pada sebuah stand, terdengar panas ditelinga Nanas yang berniat ingin menegur mereka atas omongannya.


"Mulut sampah, beban negara," batin Nanas kesal.


Sedangkan Anthony yang mendengar kekesalan Nanas hanya tertawa pelan kemudian tersenyum dan menghampiri orang-orang tersebut yang kebetulan ada di sebuah stand minuman.


"Beli Jus Alpukatnya, dua yah," Anthony tersenyum yang membuat orang-orang tadi terpesona seketika akan ketampanan Eks-Duda satu ini.


Melihat itu Nanas hanya melipat tangannya semakin kesal, apalagi tatapan para orang itu seakan-akan suaminya adalah objek cuci mata yang bagus dan siap menerkam suaminya.

__ADS_1


"Sayang? Nih minum," Anthony memberikan segelas jus alpukat yang sudah jadi kepada Nanas.


Nanas segera mengambil jus tersebut dari tangan Anthony dan meminum jus tersebut sampai habis untuk mengurangi rasa haus dan panas dihatinya.


"Anaknya yah?" tanya salah satu dari mereka.


Byurr!


Jus yang diminum Nanas langsung muncrat dari mulutnya atas pertanyaan yang sama, setiap ada orang baru yang melihatnya, Nanas rasanya ingin sekali berteriak kalau itu adalah suaminya, namun image gadis ramah yang melekat dan masih diragukan padanya membuat dia tetap tersenyum kalem.


"Maaf yah, tapi Om-Om ini suami gue, emang kenapa.kalau dia kayak bapak gue? Situ ada masalah?" jawab Nanas kesal.


"Hehe, Maaf mbak, tak kirain, bapaknya mbak, soalnya usianya kayak beda jauh," jawab salah satu dari mereka gelagapan.


"Gak jauh-jauh banget kok, lagian suami gue gak tua-tua amat." protes Nanas. "Cuma agak gans aja,"


"Iya, suaminya masih gagah kok, cocok sama mbak," jawab salah satu dari mereka gugup sedangkan yang lainnya hanya diam.


Mendengar pujian tersebut Anthony hanya mesem-mesem sendiri dan merasa bangga akan pencapaiannya, sementara itu Nanas langsung menarik tangan suaminya pergi dari sana.


"Ingat yah woi, jangan menilai dari luar, ada baiknya sesat sebelum bertanya dijalan,"


"Iya itu," ujar Nanas kembali menarik tangan suaminya meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke mobil mereka.


"Suka yah dipuji gitu, seneng banget tuh pasti," sindir Nanas melipat kedua tangannya dan masuk kedalam mobil.


"Emang kamu gak suka kalau suami kamu dipuji," jawab Anthony menengok Nanas dari luar via jendela pintu mobil.


"Gak usah sok romantis," ketus Nanas. "Muka On sebenarnya mirip keset welcome cuma agak beruntung aja nikah sama orang secantik aku,"


"Kamu kalau kayak gini bikin aku jadi pengen makan kamu aja," Anthony kemudian masuk kedalam mobil dan mencium Nanas cepat sebelum menjalankan mobilnya menuju rumah mereka karena Nanas sudah malas dengan sesi me-timenya.




"Kak Thony dah datang Woi!" teriak Melon berdiri dari duduknya saat melihat Anthony dan Nanas keluar dari mobilnya.

__ADS_1


Untungnya pekerjaan bersih-bersih mereka sudah selesai, Melon yang berdiri segera berjalan kearah Anthony dan Nanas tanpa sengaja menginjak kaki Terasi.


"Dih sakit tahu, gak ada akhlak lo yah," keluh Terasi kesakitan.


"Kalau aku mau nabur akhlak aja deh!" antusias Mangga berlari menghampiri Anthony dan Nanas dipintu, dan tanpa sadar ikut menginjak kaki Terasi yang masih meringis kesakitan.


Spontan Terasi berteriak dengan sangat kencang menahan sakit di kedua kakinya yang telah di injak oleh dua orang tersebut, sedangkan Melon dan Mangga lebih memilih untuk pura-pura tidak tahu.


"Gimana pekerjaan kalian udah beres belum?" tanya Faredian yang baru saja datang setelah kedatangan Nanas dan Anthony.


"Si sialan udah datang," batin Melon.


"Udah dong semuanya udah aku bereskan tapi agak capek sih karena kerja sendirian," jawab Salak yang seketika mendapat tatapan tajam dari Melon, Mangga dan Terasi.


"Om Awan kan gak ngerjain apapun malah tidur aja dari tadi," protes Melon.


"Ho-oh, bener tuh kita yang capek tahu," timpal Mangga setuju.


"Lo juga sama, rebahan bareng si Adonan Kembang Gula ini," protes Terasi menunjuk Melon yang kini telah memasang wajah polos tanpa merasa dosa.


"Udah-udah gak usah paduan suara!" tegur Faredian.


"Debat Woi! Debat!" teriak mereka semua bersamaan. "Gelud aja kita! Yok?


"Gak usah teriak juga kali!" teriak Faredian tak mau kalah.


"Lah si taik, lo yang teriak!" protes Melon ikut teriak.


"Woi, diam!" teriak Mangga.


"Gak usah ngegas," ujar Terasi berteriak.


"Lo juga ngegas cinta!" balas Melon ikut berteriak.


Sementara itu Anthony dan Nanas hanya bisa diam dan menatap kejadian yang ada di depan mereka sampai mereka semua benar-benar selesai berdebat.


__ADS_1



TBC


__ADS_2