Duda Salah Kamar

Duda Salah Kamar
BAB 51 | Gak Perawan Lagi!


__ADS_3

Happy Reading!


Jangan lupa tinggalkan like agar Author semakin semangat Update!




Anthony dan Nanas melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang ke rumah, jam dipergelangan tangan Nanas sudah menunjukkan pukul lima sore, entah sudah berapa lama mereka diluar sehingga mereka kebablasan begini.


"Aduh Om! Twinsnya nendang, habis pangkal rahim dua belas buku jariku ditendangin," keluh Nanas mengelus perutnya.


"Masa? Yaudah mau gimana lagi, nenangin nya aja aku bingung Nas, apalagi bentar malam mereka mau dikunjungi papanya," jawab Anthony yang membuat Nanas mengulas senyum sinis.


"Sempet-sempetnya mikirin itu," protes Nanas pada Anthony.


Anthony hanya tersenyum pada istrinya itu kemudian kembali fokus menyetir, sementara itu Nanas hanya diam menatap keluar jendela dan membaca beberapa tulisan random disepanjang perjalanan.


"Jangan seneng dipuji seksi, soalnya lucinta luna juga seksi," batin Nanas membaca tulisan random disalah satu truk.


Sontak hal itu membuat Nanas bengek dalam diam, andaikan saja Melon dan Terasi ada disana, mungkin sekarang mereka bertiga sudah tertawa-ria.


Nanas melanjutkan membaca tulisan random tersebut sembari menahan tawanya agar tidak lepas didalam mobil.


"Kutunggu dudamu!"


"Jangan bangga dibilang mirip boneka, soalnya Jelangkung juga boneka,"


"Yuk Keluarga Berencana, Makin banyak anak makin boros, eh buset!" batin Nanas membaca tulisan lainnya. "Untung suami gue kaya,"


Beberapa kalimat dan tulisan random menjadi hiburan bagi Nanas disepanjang perjalan pulang, entah apa letak lucunya yang terpenting Nanas merasa terhibur sampai tak lama kemudian, mobil yang mereka berdua tumpangi sudah tiba dirumah.


Anthony dan Nanas segera turun, Nanas langsung masuk kedalam rumah, sedangkan Anthony membuka jok belakang mobilnya dan mengambil beberapa kantong belanjaan mereka.


Sesampainya didalam rumah Nanas segera merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu, membuka ponselnya dan membaca info dari media sosialnya.


"Dicari pengasuh anak, gaji tiga belas juta perhari, cuma jagain anak yang lagi batuk, anak gunung krakatau," ujar Nanas membaca berita disosmednya. "Buset! Makin hari makin absurd aja,"


Nanas yang merasa cukup dengan sosmednya merasakan sesuatu yang berbeda yaitu, Anthony belum masuk sejak tadi, hal tersebut kemudian membuat Nanas menyusul Anthony keluar kembali dari rumah.

__ADS_1


Diluar Nanas melihat Anthony berbincang dengan seorang wanita yang asing bagi Nanas, Nanas segera menghampiri suaminya tersebut.


"Makasih Om Ganteng!" ujar Wanita tersebut pergi dibalas senyuman dari Anthony.


"Siapa Om?" tanya Nanas pada Anthony yang membuat Anthony membalikkan badannya menatap Nanas.


"Tadi dia nanya alamat," jawab Anthony berjalan kembali ke mobilnya dan mengambil belanjaan mereka.


"Oh jadi gitu yah, Om Ganteng!" sinis Nanas melipat kedua tangannya yang membuat Anthony menatapnya heran.


"Kamu kenapa? Nih bantuin," ujar Anthony menyerahkan sebuah kantong belanjaan kepada Nanas.


Nanas mengambil kantong tersebut dan berjalan masuk kedalam rumah. "Okey, Om Ganteng!"


Anthony yang melihat itu tidak ambil pusing, ia mengambil beberapa kantong belanjaannya kemudian menutup pintu mobil dan berjalan masuk kedalam rumah menyusul Nanas.


Didalam Anthony mendapati Nanas tengah duduk disofa dan memencet remote tv dengan wajah kesal, Anthony berjalan kedapur kemudian menaruh belanjaannya sebelum kembali menemui Nanas di ruang tamu.


"Nonton apa?" tanya Anthony duduk disamping Nanas.


Nanas memberikan jarak sedikit kepada Anthony dan masih terus memencet remote tv yang ada ditangannya. "Gapapa Om Ganteng!"


"Gak kok, Om Ganteng!" jawab Nanas melepaskan dagunya dan kembali memencet remote tv.


Jika Nanas melakukannya dalam kondisi tv menyala mungkin Anthony bisa tenang, tapi ini Nanas memencet remote tv dalam keadaan tv tersebut mati.


"Iya, Aku minta maaf kalau aku salah, udah dong jangan cemburu lagi, nanti Baby A ngambek terus nendang kamu dari dalam." ujar Anthony meraih wajah Nanas dan memencet pipi istrinya itu.


"Kamu gamau ngubah gitu panggilan dari Om ke Mas," lanjut Anthony yang membuat Nanas memasang mimik BIMOLI.


"Gak, Om Ganteng!" jawab Nanas memalingkan wajahnya dari Anthony.


"Kalau ngambek terus kamu makin cantik loh, pipi kamu juga tembem, gimana kalau aku kasih panggilan sayang ke kamu itu, Nastar," ujar Anthony mencubit pipi Nanas.


"Nastar kan keras, apa hubungannya sama pipi aku," protes Nanas pada Anthony.


"Sama-sama mengandung Nanas dan keras, kamu keras kepala kan," jawab Anthony menaik turunkan alisnya.


"Mana ada! Dulu aku itu PISANG MUDA," ujar Nanas menatap Anthony yang menunjukkan ekspresi penuh pertanyaan.

__ADS_1


"Apa itu?"


"Perawan Iseng, Menggoda Duda." jawab Nanas cengengesan.


Mendengar itu, Anthony hanya menyengir kecil dengan tampang mesemnya, namun disatu sisi Anthony merasa senang karena Nanas sudah tidak ngambek.


Bruk!


"Kak Thony! Beb Nanas!" teriak Melon menendang pintu rumah Anthony yang membuat Anthony dan Nanas berdiri dengan wajah kaget.


Melon berjalan ke arah Anthony dengan menyeret kerah baju seseorang yang familiar bagi Nanas. "Pak Dave?"


Dia adalah dosen Nanas, tapi bagaimana bisa dosen tersebut ada bersama Melon dan dengan pasrah diseret.


"Kamu kenapa?" tanya Anthony.


"Bentar, ngaso dulu!" jawab Melon mengatur nafasnya. "Jadi gini, tadi dedek nyasar dimana gitu diruangan kampus Terasi, terus dedek dengan tampang polos minta digodain Om-Om gak sengaja terlibat, One-One apa bahasa inggris siang?"


"Afternoon? Maap kalau salah," jawab Nanas.


"Nah iya, jadi pas tadi dedek gak sengaja terlibat One Afternoon Stand, sama Dosen ini nih, jadi dia mau tanggung jawab buat nikahin dedek, pokoknya besok harus nikah!" ujar Melon.


"Dosennya duda loh," lanjut Melon berbisik pads Nanas.


"Jadi?" tanya Anthony masih belum paham.


"Aku udah gak Perawan lagi, kalau Kak Thony salah kamar, aku salah ruangan, besok Kak Thony harus nikahin aku sama Pak Dave,"


"Hah?" kaget Nanas dan Anthony bersamaan.




TBC


Melon kenapa itu wkwkwkw


__ADS_1



__ADS_2