
"Aran, Aren! Bangun! Sudah pagi tuh Papa Thon udah siap mau berangkat kerja, kalian sekalian aja ikut sama Papa buat ke sekolah soalnya Bunda mau ghibah sama tetangga," ujar Nanas mengikat rambutnya kemudian naik keatas ranjang anak kembarnya.
Aran dan Aren yang dibangunkan oleh Nanas tidak menggubris melainkan hanya menggelinjangkan badannya sembari saling menendang.
"Batu banget anak siapa sih?" geram Nanas berjalan ke arah kamar mandi yang ada didalam kamar si kembar.
Nanas mengambil gayung lope kesayangan Aran kemudian masuk kedalam kamar mandi untuk mengambil segayung air. "Main-main kalian sama Bunda,"
Nanas tersenyum penuh kepuasan saat tangannya menggenggam satu gayung penuh air, ia berjalan keluar dari kamar mandi dan mendatangi ranjang kedua anak kembarnya.
Byur!
"Banjir! Kapal Nabi Nuh mana?" teriak Aran dan Aren gelabakan dan terbangun dari tidur mereka.
Nanas yang melihat itu hanya tersenyum dan tertawa puas setelahnya kedua anak kembarnya memberi tatapan tajam kepada bunda mereka.
"Bunda! Kan Aran jadi basah," protes Aran disambut anggukan Aren.
"Bunda ga peduli, kalian berdua mandi, hari ini sekolah," jawab Nanas melipat kedua tangannya.
Aran dan Aren menautkan kening kemudian saling melempar pandangan, entah bagaimana mereka harus menjelaskan hal ini kepada Bunda mereka.
"Bunda dengerin Aren, baik-baik," Aren berdiri dan mencoba menjelaskan sesuatu kepada Nanas.
"Eh enggak! Enggak perlu! Bunda ga perlu penjelasan," tolak Nanas yang membuat Aran ikut bangkit.
"Dengerin dulu Bunda, kami sekolah kok," jelas Aran yang tetap mendapat penolakan dari Nanas.
__ADS_1
"Susah ngomong sama Bunda," kesal Aren melipat tangannya.
Nanas memegang dadanya Kemudian menodong kedua anaknya dengan gayung lope digenggamannya.
"Kalian tega ngomong gitu ke Bunda?" ujar Nanas dengan ekspresi sedih yang membuat Aran dan Aren menyerah.
"Bakal kami jelasin, tapi masalahnya Bunda udah tua dan semakin Bunda tua, Bunda gak bakal paham," ujar Aren yang membuat Nanas kembali tersentak.
"Kalian tega bilang Bunda udah tua?" keluh Nanas yang membuat Aren ingin berbicara namun ditahan oleh Nanas. "Oke Fine-Fine, Bunda udah tua, Bunda udah gak muda, tapi yakin cuma Bunda doang? Tetangga kita udah tujuh puluh tahun masih kuat nikah lagi,"
Aran dan Aren saling menepuk jidat, mereka tahu seberapa penggila drama seriesnya, Bunda mereka ini, Aren kemudian berdiri dan berjalan ke arah Nanas.
"Bunda, Aren cuma mau bilang kalau hari ii sekolah Online," jelas Aren yang seketika membuat pipi Nanas memerah.
"Kalian kenapa ga bilang?" ujar Nanas menggaruk tengkuknya.
"Kami udah mau jelasin, tapi Bunda gamau dengerin, salah kami apa coba?" tanya Aren yang disambut anggukan kepala dari Aran.
"Udahlah, capek ngomong sama kalian, Biasa anak kandung," jawab Nanas berjalan ke arah pintu kamar dimana ada Anthony disana.
"Bunda! Gayung kesayangan Aran," teriak Aran yang membuat Nanas melemparkan gayung lope tersebut kepada anaknya.
Hap!
"Untung gak jatuh," ujar Aren menangkap gayung tersebut untuk adiknya. "Nih Dedek, kamu yah kita ini orang kaya, pake shower masih pake gayung!"
Duk!
__ADS_1
Aran memukulkan gayung tersebut ke kepala Aren yang membuat Aren mengaduh pelan.
"Jangan, Bang Aren hina gayungku yah, sampai aku ketemu Duda buat jadi jodohku, Gayung ini akan jadi saksi," protes Aran turun dari ranjang dan berjalan masuk kedalam kamar mandi.
Aren yang melihat itu hanya menatap cengo kembarannya, ia lebih mengikuti sifat Papanya ketimbang Aran yang menurut ke Bundanya
Anthony yang melihat itu segera mendatangi putranya dan mengangkatnya ke gendongannya, Aren hanya menurut dan menatap Papanya itu sejenak.
"Sabar yah Ren, adek kamu itu memang titisan Bunda kamu sekali," ujar Anthony yang membuat Aren menatap wajah Papanya itu.
"Kalau Aran titisan Bunda, aku titisan siapa?" tanya Aren menatap polos papanya.
"Kamu titisan Duda!"
"Astaga! Aku gak suka Duda, sukanya Janda tapi gapapa, aku gamau jadi Duda kalau kepepet gaakan," Aren cengengesan yang membuat Anthony mengacak rambut putranya itu.
"Papa! Papa kenapa Gendong Aren!" teriak Aran menodong Anthony dengan gayung lopenya.
Anthony ingin menjawab namun ditahan oleh Aran yang membuat Anthony terdiam dihadapan putri kecilnya itu. "Oke Fine-Fine!"
"Ada dosa apa sih aku dimasa lalu! Sampai semua keluargaku hobi drama!" teriak Aren frustrasi saat adiknya ingin memulai kembali drama yang sudah terjadi.
•
TBC
maaf baru publish EXTRA Part Author sedang sakit guys
__ADS_1