
Sesampainya diruangan sidang tersebut, Terasi segera melepaskan gandengan tangan Mangga dan berterima kasih padanya.
"Harusnya Kak Mangga ga usah ngelakuin itu, kan bener aku jomblo," ujar Terasi yang membuat Mangga menatapnya dalam.
"Siapa bilang? Kamu kan Calon Istri aku." jawab Mangga tersenyum simpul yang membuat Terasi kagok.
"Apaan sih? Kak Mangga sendiri yang nolak aku, sekarang ngaku calon istri," ujar Terasi dengan pipi yang merona. "Least Atitude, tau gak,"
"Aku kan nolak kamu jadi pacar, aku ga pernah bilang loh kalau aku nolak kamu jadi istri,"
Sontak kalimat tersebut semakin membuat pipi Terasi memerah sempurna, Terasi membalikkan badannya namun segera ditahan oleh Mangga yang memegang pundaknya. "Aku memang least dalam kata-kata, tapi apa cukup most handsome buat jadi suami kamu,"
Terasi tidak menjawab dia terdiam beku atas maksud Mangga, Terasi kemudian berjalan menjauh dari Mangga saat melihat Nanas dan Anthon beserta Dave dan Melon berjalan menuju ke arah mereka.
Tak lama kemudian sidang skripsi dimulai, Terasi dan Mangga melupakan kejadian tadi karena mereka sedang bimbang menunggu sidang mereka.
"Semoga bukan nama gue, apa kabar nanti kalau nama gue, ditanya siapa yang ngerjain skripsi, yakali gue jawab Om Thony," ujar Nanas pada Terasi dan Melon.
"Nanas Amanda Afdarianto," ujar suara panggilan yang membuat Nanas gemetar.
"Habis lo Nas, mampus!" bisik Melon dan Terasi memanas-manasi Nanas.
Nanas kemudian masuk kedalam ruangan tersebut untuk menjalani sidang, tampak tiga orang dosen yang siap menilai hasil skripsi Nanas.
"Perkenalan sebelum saya mengajukan pertanyaan." ujar salah satu dosen disana.
Nanas hendak melakukan perkenalan sebelum suara nada dering telepon membuat semua orang menatap ke arah sumber suara tersebut yang ternyata dari salah satu dosen.
"Maaf, sudah saya matikan, silakan lanjut," ujar Dosen tersebut.
Nanas kembali menarik napasnya panjang dan hendak kembali memperkenalkan diri.
"Ku menangis, membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku, kau duakan cinta ini, kau pergi bersamanya ho-ho-ho,"
Nanas kembali terhenti dan menatap ke sumber suara tersebut yang ternyata dari sound speaker ruangan sebelah.
"Maaf, kami sudah tidak bisa bantu lagi, soalnya lagu kesukaan kami berdua yang dia putar," ujar salah satu Dosen yang membuat Nanas mati-matian menahan tawa disana.
__ADS_1
Setelah berjuang cukup lama akhirnya Nanas selesai melakukan penjabaran dan dinyatakan lulus sebagai wisudawan, Nanas hanya tinggal melampirkan jurnal ilmiahnya dan bersiap menjalani sidang keesokan harinya.
Hari sidang dan wisuda yang mepet, bahkan hanya berselang satu hari, setidaknya Nanas sudah bisa bernapas lega karena menyelesaikan s1-nya.
•
•
Hari ini adalah hari wisuda Nanas dan Terasi, Nanas sudah rapi dengan toganya, perjuangan empat setengah tahun kini terbayar tuntas, Nanas berdiri dihalaman kampusnya dengan Anthony menggandeng tangannya.
Nanas terduduk di bangku halaman kampus tersebut sembari menunggu sesi wisudawan dimulai, raut wajah sedikit deg-degan dan sedih yang membuat Anthony bertanya-tanya, Anthony duduk disamping Nanas dan menatap istrinya itu penuh pertanyaan.
"Kamu kenapa?" tanya Anthony yang membuat Nanas membalikkan kepalanya menatap Anthony.
Setelahnya Nanas menyandarkan kepalanya dibahu Anthony dan menunduk lemas. "Orang tua aku gak datang Om, jadi sedih, padahal ini kan hari yang aku tunggu-tunggu banget,"
"Mungkin Mama sama Papa sedang sibuk, tadi aku udah telpon kok, memang ada kesibukan yang mendesak, kan masih ada aku," Anthony memgelus kepala Nanas mencoba menguatkan istrinya itu.
"Tapi cuma Om," Nanas menatap lurus kedepan atas perasaannya.
Nanas memandang Terasi yang entah sudah berapa lama berdiri disana, setelahnya Terasi menyodorkan jus alpukat kepada Anthony dan Nanas yang langsung diambil oleh Anthony dan Nanas.
"Gue juga ada kali, lagian lo gak sendiri, kita semua kan keluarga lo," timpal Melon datang bersama dengan menggandeng tangan Dave.
Nanas tersenyum melihat mereka semua, tak lama kemudian sebuah motor yang merupakan milik Faredian terparkir dihadapan mereka, tampak Faredian dan Salak turun dari sana dan melepas helm mereka.
"Tenang, saya juga ada kok," ujar Salak memberikan jempol kepada Nanas.
"Aku juga hadir," timpal Faredian menyisir rambutnya menggunakan jarinya.
Mendapati keluarga yang care dan saling support merupakan hal yang paling membahagiakan bagi Nanas, Anthony yang melihat Nanas kembali mengulas senyum diwajahnya mencubit pipi istrinya itu.
"Ehemm!" Terasi berdehem melirik Melon dan Dave yang membuat Faredian dan Salak segera membuang mukanya.
Nanas yang melihat itu segera ikut memancing. "Move On yuk,"
Melon dan Dave yang sadar dijadikan bahan oleh Nanas dan Terasi hanya diam dan tidak peduli, sementara Faredian dan Salak masih tetap membuang muka.
__ADS_1
"Mau jodoh gak? Kebetulan temen kami jomblo si Lengkuas dan Chinno." tawar Terasi berjalan kehadapan Faredian dan Salak.
"Gak, Makasih," jawab Faredian berjalan meninggalkan mereka disusul oleh Salak.
"Mau kemana?" tanya Anthony yang melihat kedua temannya pergi.
"Beli air, gerah soalnya," jawab Faredian disambut anggukan Salak.
Anthony yang mengetahui perasaan kedua temannya itu hanya terkekeh geli, sampai akhirnya sebuah pengumuman keluar yang membuat Nanas dan Terasi bersiap karena sebentar lagi akan menjalani wisuda mereka.
Nanas berjalan dengan digandeng oleh Anthony, sedangkan Dave dan Melon sudah berjalan duluan, Terasi sendiri hanya bisa meremas bajunya gemas karena tidak ada seorang pun yang bisa dia gandeng.
Nanas, dan Terasi mengambil tempat dikursi wisudawan sementara Anthony sama seperti Melon dikursi pendamping, sebenarnya Melon ingin ikut dengan Dave dikursi Dosen tetapi hal tersebut tidak diperbolehkan oleh MC yang membawakan acara wisudawan.
Mendapat larangan, Melon rasanya ingin berteriak keras pada MC tersebut bahwa Dave adalah suaminya dan dia berhak atasnya, namun Melon hanya menyimpan keluh kesah itu dalam hati karena sebentar lagi acara wisudawan tersebut akan dimulai.
Sementara itu ditempat lain, Mangga bersama Salak dan Faredian yang ternyata berada dikampus tersebut tampak membicarakan sesuatu dengan raut wajah serius.
"Gimana udah siap semuanya?" tanya Mangga pada Faredian dan Salak.
"Penghulu, Orang Tuanya Terasi dan semuanya Ready, tapi yakin nih idenya berhasil,.kalau Terasi nolak gimana?" jawab Faredian yang membuat Mangga melipat kedua tangannya.
"At least, kita sudah berusaha," jawab Mangga tersenyum akan rencananya.
"Sepuluh Ton minyak juga sudah siap," ujar Salak. "Nih tagihannya sampai jutaan, tenang udah aku lunasin, yang penting kau nikah,"
Mendengar itu Mangga segera memeluk Faredian dan Salak yang sudah mau membantunya menjalani misinya, sedangkan Anthony, Nanas, Melon dan Dave bertugas didalam sana mengabari jika sesi sidang selesai..
Akhirnya mereka bertiga kemudian segera mempersiapkan diri sembari menunggu sesi Wisuda dari Nanas dan Terasi selesai.
Mangga sudah rapi dengan jasnya, dia sudah memantapkan niatnya dan berbicara dengan orang Tua Terasi, pernikahannya akan menjadi pernikahan paling fenomenal.
•
TBC
__ADS_1