
"Skripsi udah jalan belum? Lo ngambil tema apa?" tanya Terasi duduk disamping Nanas.
Nanas berpikir sejenak, kedua tangannya tampak menopang dagunya, ia berpikir atas Materi apa yang akan dia bawakan nanti untuk sidang skripsinya.
"Ada sih, nanti gue minta bantuan Om Thony," jawab Nanas mengunyah permen karet yang ada di mulut nya.
"Emang judulnya apa?" tanya Terasi kembali.
"Keadilan bagi anak yang lahir dari perkawinan campuran, so time ini ngawur sih tapi kalau diangkat jadi bahan skripsi, bisalah," jawab Nanas.
Terasi mengangguk-anggukkan kepalanya atas jawaban Nanas, sementara itu dari arah koridor berlawanan, terlihat seorang Mahasiswi sedang ditindas oleh seniornya.
Nanas dan Terasi yang melihat itu tidak langsung kesana melainkan hanya menatap apa yang akan terjadi diantara dua mahasiswi itu, Nanas kenal betul siapa mereka berdua, Bengkoang dan si Senior Cempedak.
"Lo kalau gue suruh gak pernah bener yah, gue gamau tahu pokoknya lo harus ganti ini makanan gue," teriak Cempedak berusaha mengintimidasi Bengkoang.
"M-Maaf kak, tapi aku udah gak punya uang lagi," Bengkoang menunduk dihadapan Cempedak membuat Cempedak merasa geram dan hendak menampar Bengkoang.
"Stop!" teriak Nanas berjalan ke arah mereka berdua bersama Terasi.
Nanas dan Terasi yang sudah memperhatikan sedari tadi, akhirnya memilih untuk mendatangi kedua orang tersebut guna menanyakan apa yang terjadi.
"Ada apa sih?" tanya Terasi pada Cempedak.
"Ini lo si Junior, masa aku suruh beliin Cappuchinno malah dibeliin Latte, kan kesel, mana kusuruh ganti gamau lagi, padahal harga minuman itu kan murah," jawab Cempedak menunjuk Bengkoang.
Nanas mengangguk atas penjelasan Csmpedak kemudian mengambil gelas es kopi tersebut dari tangan Cempedak kemudian berjalan kehadapan Bengkoang.
__ADS_1
"Bener lo, salah beli?" tanya Nanas pada Bengkoang.
"Iya kak," jawab Bengkoang semakin menundukkan kepalanya.
"Terus kenapa gak lo ganti?" tanya Nanas sekali lagi.
"Aku udah gak punya uang lagi," Bengkoang enggan mengangkat kepalanya dan menatap Nanas.
Nanas membalikkan badannya menatap Cempedak sementara Terasi sedari tadi hanya diam saja melihat kejadian ini, Bengkoang semakin merendahkan kepalanya, sebegitu senioritasnya kah kampus ini.
"Bohong! Lagipula harga minuman ini murah kenapa gak mau lo ganti!" bentak Cempedak pada Bengkoang.
"Oh? Jadi harga minuman ini murah?" tanya Nanas pada Cempedak.
"Iyalah! Miskin banget kalau gak mampu beli," jawab Cempedak melipat kedua tangan nya.
"Kenapa bukan lo aja yang beli sendiri, kalau emang murah!" ujar Nanas menyiram Cempedak dengan kopinya sendiri.
"Ingat ada yang lebih senior disini," bisik Terasi menepuk pundak Cempedak yang geram atas perlakuan Nanas padanya.
Nanas dan Terasi kemudian berjalan menuju kelas mereka yang kebetulan akan ada Mata Kuliah dari Dave.
Sesampainya didalam kelas Nanas dan Terasi langsung mengambil tempat dibangku mereka sebelum mata kuliah dimulai.
"Pagi," Dave berjalan masuk kedalam kelas bersama dengan Melon disampingnya.
Nanas dan Terasi saling melempar pandangan dengan alis yang tertaut, melihat Melon yang kini ikut duduk disamping Dave yang sudah duduk dikursi dosen.
__ADS_1
"Bawa pawang pak?" tanya Nanas melirik Melon yang berusaha santai dengan apa yang dia lakukan.
"Takut banget suaminya di ambil orang, sampai seposesif itu," sindir Terasi pada Melon.
Dave mengelus tengkuknya akibat malu, sebenarnya dia sudah melarang Melon untuk ikut, namun pada dasarnya Melon sendiri yang takut kalau Dave bertemu dengan mahasiswa yang pernah berciuman dengan Dave.
"Cie, aduh indahnya pengantin baru," teriak Chinno.
"Syalalalala," sambung semua Mahasiswa dan Mahasiswi dikelas itu.
"Bocah-bocah kematian, biadab," batin Melon menatap tajam ke depan.
Dave yang melihat mereka semua segera berdiri dan memulai mata kuliahnya agar Mahasiswa dan Mahasiswinya tidak terlalu membuat Melon risih.
"Aduh Pak, kok keringatan sih," Melon mengambil tisu dan mengelap wajah Dave yang sebenarnya masih kering.
Membuat para Mahasiswi dan Mahasiswa disana memandang iri kecuali Nanas dan Terasi, sementara Melon kini sedang tersenyum bangga bisa membuat mereka semua iri.
"Nas? Kok gue jijik yah?" ujar Terasi melempar pandangan kepada Nanas.
"Kalau gue udah sering begini sih sama Om Thony, tapi ga separah manusia laknat didepan itu, sumpah jatuhnya mual," jawab Nanas kembali menatap fokus kedepan.
•
TBC
Dave dan Melon
__ADS_1