Duda Salah Kamar

Duda Salah Kamar
BAB 09 | Suamiku Sayang, Suamiku Sialan


__ADS_3

Happy Reading!


•••••


Setelah cukup jauh dari Dina, Nanas segera melepas tangan Terasi dan berjalan menuju kelas mereka, belum sampai dikelas mereka, seorang teman Nanas langsung menyapanya yang membuat Nanas dan Terasi menghentikan langkahnya.


"Cie, yang nikah sama. Om-Om," kelakar seorang gadis yang seumuran dengan Nanas, sebut saja Lengkuas, namanya adalah Lengkuas Adyninhsih Damayanti, seorang KETUA BEM yang paling populer disana.


"Cie yang masih jomblo." jawab Nanas meneruskan langkahnya meninggalkan Lengkuas disana.


Nanas dan Terasi melangkahkan kakinya kembali menuju kelas dikarenakan sebentar lagi kelas dari Pak Gagah akan dimulai, namun baru sempat di ambang suara gunjingan dari para mahasiswi membuat Nanas memberikan kode untuk Terasi menghentikan langkahnya.


"Tau gak? Si Nanas itu hamil diluar nikah dan dia udah nikah Pak Gilbert Chow si Arsitek terkenal itu." ujar salah seorang Mahasiswi. "Paket pelet apa sih dia?"


Telinga Nanas merasa gatal mendengar itu, ia segera berjalan masuk dan memukul meja dengan kedua tangannya sehingga membuat Mahasiswi yang ada disana kaget dan melihat ke arahnya.


"Siapa yang ngomongin gue, tadi?" tanya Nanas pada semua yang ada disana, sementara Terasi dengan gayanya berada dibelakang Nanas dengan melipat kedua tangannya.


Semua mahasiswi dan mahasiswa disana hanya diam tak bersuara, sementara Nanas memberikan tatapan tajam nya kepada mereka semua.


"Jujur aja kalian pada! Mau gue apain? Gue kasih dua pilihan nih, mau gue suruh bekingan bapak gue, ngehadang kalian pas pulang, terus nyulik kalian dan bunuh kalian, terus gue ambil lidah kalian dan cacah-cacah sampai halus dan gue kasih makan ke kucing perliharan gue."


"Atau, My Santet or Teluh, is waiting-waiting for you?" lanjut Nanas.


"Njir, Pisisopet eh Psikopat!" batin Terasi.


Nanas disusul Terasi berjalan ke meja mereka dengan tatapan tajam diiringin tatapan horor penuh ke-bungkaman dari semua yang ada disana.


Setelah kejadian itu kelas dimulai oleh mata kuliah, Pak Guna, cukup lama dan akhirnya waktu selesai. Nanas sedang berdiri didepan gerbang kampus, sementara Terasi sudah pulang sedari tadi.


Nanas menunggu Anthony untuk menjemputnya pulang, namun sudah hampir dua jam Anthony tak kunjung datang. "Si Om, kemana sih? Awas aja, gue somasi titid-nya."

__ADS_1


Spam chat yang ditujukan kepada Anthony hanya menandakan centang biru tanpa balasan yang membuat Nanas semakin kesal, semua skenario ngambek, sudah ia siapkan dan praktikkan ketika Anthony datang.


Tak lama kemudian sebuah Mobil berhenti didepan Nanas, Nanas mendecak kesal kemudian masuk kedalam mobil tersebut menemui Anthony yang sudah menunggunya.


"Bagaimana hari ini?" tanya Anthony menjalankan mobilnya.


"Gatau."


Anthony masih belum peka terhadap rasa kesal Nanas. "Langsung pulang atau kamu mau ke suatu tempat?"


"Gatau!" kesal Nanas dengan nada tinggi dan Anthony masih belum sadar.


"Saya sudah menebus vitamin kamu. Di apotek, jangan lupa di minum nanti."


Nanas semakin kesal kemudian membalikkan badannya menatap Anthony. "Om gak peka banget sih, kan gue lagi kesel sama Om!"


"Oh, lagi kesal? Kenapa?" tanya Anthony santai. "Lo-Gue lagi dong, capek saya negur kamu."


"Biarin!"


Sesampainya dirumah Nanas, segera lari ke kamar dan menguncinya dari dalam, membuat Anthony bingung, ia mencoba mengetuk pintu kamar itu berakhir menyerah dan meninggalkan Nanas dikamar sendiri.


"Apakah dia kesal karena aku terlambat menjemputnya? Hah, hanya dua jam." batin Anthony merenggangkan badannya dan tertidur di sofa.


Nanas membuka pintu kamar dan melihat Anthony masih santai tanpa berusaha membujuknya yang membuat Nanas sangat-sangat kesal.


"Ahhhh." teriak Nanas kesal yang hanya ia dengar sendiri karena dia takut untuk berteriak lantang.


•••••


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Nanas keluar dari kamar dan hendak memesan makanan online sebelum melihat Anthony masih terbaring dengan lelah di sofa.

__ADS_1


Nanas hendak bersuara, ia ingin membangunkan suaminya itu, tapi tampaknya bermain-main sedikit untuk membalas perlakuannya tadi itu cukup bagus.


"Mampus lo, Om." batin Nanas.


Nanas tersenyum sinis kemudian menduduk paha Anthony dan menggoyangkan tubuhnya sembari mengelus pipi Anthony lembut.


Anthony yang merasakan ada gerakan tertentu membuka matanya dan mendapati Nanas sudah ada diatasnya.


"Nas, apa kau berniat untuk-" Belum selesai Anthony mengucapkan kalimatnya ia sudah dibungkam dengan telunjuk jari Nanas dibibirnya.


"Nikmatin aja," bisik Nanas menggoda.


Anthony sudah seperti tidak tahan kemudian memegang pinggang Nanas namun ditepis Nanas dengan meletakkan kedua tangan suaminya diatas kepalanya sendiri.


"Ah," Anthony mendesah kecil sebelum akhirnya berusaha menahan untuk tidak tergoda.


"Om suka?" Nanas menghentikan tubuhnya dan merasakan bahwa detak jantung Anthony sedang tidak normal.


"Ayo Om, jawab." Nanas memberi sedikit goyangan yang membuat Anthony kembali mendesah kecil.


"Aku-"


"Lanjutkan?" tanya Nanas seerotis mungkin pada suaminya itu.


"Aku tidak tahan lagi," teriak Anthony berusaha menarik Nanas ke pelukan nya namun dengan cepat Nanas berdiri dan melangkah memberi jarak dari Anthony.


"Udah makan malam, dan aku mau pesan makanan dulu, sampai jumpa di meja makan, hubby." Nanas memberi kiss bye nya kemudian meninggalkan Anthony yang kepalang tergoda dengan aksinya.


"Saya akan membalas mu, Nanas Mudaku," Anthony memperbaiki posisi celana dan kemejanya kemudian berjalan ke kamar mandi untuk melemaskan rudalnya yang sudah berdiri.


Setelahnya ia bergegas menuju meja makan untuk menemui Nanas.

__ADS_1


- TBC



__ADS_2