
Terasi berdiri dihadapan Mangga dengan wajah kebingungan menjawab pertanyaan Mangga, dia tidak tahu harus berkata apa, kalau sekedar berpacaran dia mau, tapi ini untuk menikah.
"Aku mohon," lirih Mangga pada Terasi.
Terasi menatap sekeliling yang masih menatap cengo kepadanya, Terasi juga tak luput menatap ayahnya yang ada diatas panggung, sedang Nanas dan Melon sedari tadi mengodenya untuk menerima lamaran Mangga.
"Terima! Terima! Terima!" teriak semua yang ada disana termasuk dewan kampus Terasi.
Semuanya ikut tegang menanti keputusan Terasi yang masih simpang siur, semua mata kini tertuju pada Mangga dan Terasi.
Terasi menarik napasnya dalam dan bersiap mengambil keputusan. "I-Iya, Aku mau,"
"Serius?" tanya Mangga dengan mata terbuka lebar atas pernyataan Terasi.
Terasi mengangguk yang kemudian membuat Mangga langsung berdiri dan memeluk erat Terasi, Terasi yang baru pertama kali dipeluk oleh pria, hanya terdiam kaku saat Mangga langsung menggendongnya. "Kalau gitu langsung nikah aja yah!"
Terasi mengangguk kemudian pasrah digendong oleh Mangga, Mangga kemudian mengode Faredian dan Salak, yang membuat Faredian dan Salak segera kembali membopong Penghulu dan Ayah Terasi keluar dari ruangan wisuda tersebut karena akad nikah aja diadakan dilapangan kampus.
Melon, Dave, Anthony dan Nanas beserta semua mahasiswa dan mahasiswi juga Dosen lain menyusul Mangga keluar dari ruangan sidang.
Diluar sana sudah ada dua puluh Ton besar dengan masing-masing sepuluh Ton Minyak Goreng dan Zaitun, Mangga membawa Terasi ke kursi yang sudah disediakan dan mendudukkan Terasi disana, begitupun dengan Faredian dan Salak yang mendudukkan Penghulu serta Ayah Terasi yang berperan sebagai Wali dalam pernikahan itu.
"Ini maharnya yah, dua milyar, gak dipotong pajak, bulan depan balikin, bunga dua puluh persen," ujar Nanas menyimpan dua koper uang diatas meja.
Mangga memang sengaja meminjam uang dari Anthony namun karena Nanas memiliki dua rekening berisi masing-masing satu Milyar yang tidak pernah dia gunakan, membuat Nanas menyerahkan uang tersebut kepada Mangga tanpa harus meminjam nya.
Setelahnya Nanas berjalan kembali ke arah Anthony, Melon dan Dave yang tidak jauh dari meja ijab kabul itu, mereka berempat beserta yang lain nya tanpa khusyu saat penghulu memulai akad nikah antara Terasi dan Mangga.
Setelah mengucapkan kalimat ijab kabul tersebut, Penghulu segera menanyakan kesah-an pernikahan tersebut kepada para saksi yang terdiri dari dosen beserta mahasiswanya.
"Bagaimana Sah?" tanya Penghulu tersebut.
"Sah!" teriak mereka semua yang menggema dihalaman kampus tersebut.
Kini Terasi dan Mangga sudah resmi menjadi pasangan suami istri, nama mereka berdua akan tercatat dalam sejarah kampus tersebut, Mangga segera mencium kening Terasi
Melon dan Nanas kemudian berlari ke arah Terasi dan saling berpelukan dalam suasana haru, Terasi mengusap air matanya dan menjulurkan tangannya pada kedua sahabatnya.
"Akhirnya misi Squad Rujak Gemesh berhasil, menikahi duda karena kesalahan!" ujar Nanas menjulurkan tangannya juga disusul oleh Melon yang membuat mereka bertiga melakukan selebrasi.
__ADS_1
"Selanjutnya misi apalagi?" tanya Melon pada Nanas yang merupakan pencetus dari nama grup tersebut.
"Misi Hamil," jawab Nanas pada Melon dan Terasi.
"Hah? Pecah perawan aja gue belom, gimana mau hamil," jawab Melon.
"Malam pertama juga belom gue tuh," timpal Terasi.
"Makanya malam ini lo berdua harus pecah perawan, gue udah masuk trimester terakhir kehamilan gue," jawab Nanas pada Melon dan Terasi.
"Okelah malam ini gue bakal perkaos Pak Dave, gue udah belajar tutorialnya di google," Melon menaik turunkan alisnya.
"Kalau gue nunggu diperkaos suami aja deh biar bisa lapor terus dapat tunjangan," jawab Terasi cengengesan.
"Iya juga yak, tunjangan janda di kota ini lumayan, gimana kalau misi selanjutnya jadi janda," ujar Melon yang mendapat geplakan dari Nanas.
"Enak aja, emang gampang cari suami, apalagi kek Om Thon, susah sister! Cuma satu dari seribu orang," protes Nanas melipat kedua tangannya.
"Yah maap," jawab Melon cengengesan.
Disaat mereka semua sedang mengobrol, baik itu Squad Duda Tropis yang memberikan selamat kepada Mangga, tiba-tiba dari atas mereka berjatuhan terasi sachetan, seperti terjadi hujan terasi mereka semua memandang bingung satu sama lain dan melihat keatas dimana ada Faredian yang diatas mini helikopter yang dikendarai oleh pilotnya.
"Buset, biasanya orang pengennya hujan duit, ini malah hujan terasi, lumayanlah buat makan malam Pak Dave," ujar Melon mengambil topi toga Terasi dan Nanas kemudian mengumpulkan terasi yang berjatuhan.
Nanas dan Terasi saling memandang kemudian melebarkan pandangan mereka kepada Duda Tropis, Anthony, Salak dan Mangga yang sedang membuang muka karena ini rencana dari mereka.
"Ya ampun! Kelakuan suami gue gini amat," ujar Terasi menepuk jidat nya disambut gelengan kepala dari Nanas.
Sementara itu Melon sendiri sibuk mengumpulkan terasi yang lumayan banyak, Nanas dan Terasi hanya memandang malas ke Melon yang bernotabene tidak mau rugi.
Dan dalam hitungan detik kemudian Nanas dan Terasi kemudian merebut terasi yang sudah dikumpulkan oleh Melon sehingga terjadi adegan rebut-rebutan disana.
"Punya gue!" teriak Terasi merebut terasi tersebut.
"Buset rebutan terasi," ujar Nanas mengelus dadanya.
"Gue lah!" balas Melon kekeuh.
"Yang nikah gue!"
__ADS_1
Duk!
Suara benda menghantam kepala Melon membuat Melon memandang keatas dimana yang kali ini disebarkan oleh Faredian adalah buah mangga. Sontak semua orang yang ada disana memilih berteduh karena bisa-bisa kepala mereka benjol semua akibat mangga tersebut.
"Jangan main-main dong woi! Sakit!" teriak Melon pada Faredian.
"Tapi ini pernikahannya aja udah main-main bos, sah sih sah tapi gini amat!" ujar Terasi membalas perkataan Melon.
Faredian yang sibuk menyebarkan buah mangga dari atas sana tidak mendengar keluhan dari Melon, sedangkan Duda Tropis kembali membuang muka karena semua ini ide dari mereka.
"Suami-suami sialan, biadab," lirih Nanas memandang malas mereka semua.
"Eh Om Salak, masih jomblo, dia suami siapa?" tanya Terasi pada Nanas.
"Iya juga yah," jawab Nanas terkekeh.
Akhirnya mereka semua hanya pasrah menunggu Faredian menyelesaikan menebar buah mangga, setelah selesai mereka semua berlarian mengambil buah mangga tersebut yang sudah memenuhi halaman kampus, disaat semuanya sibuk, Faredian berteriak dari atas sana yang membuat semuanya mendongakkan kepala menatap Faredian.
"Siap-siap semua!" teriak Faredian.
"Apa lagi sih?" teriak Melon balik.
"Buah DURIAN!" jawab Faredian melemparkan durian tersebut yang membuat suaminya bubar seketika.
Nanas, Melon dan Terasi memandang Duda Tropis sekali lagi yang membuat Anthony, Salak dan Mangga menyilangkan tangannya.
"Bukan ide kami!" ujar mereka serempak.
•
TBC
Pernikahan siapa yang paling absurd?
__ADS_1