
Happy Reading!
•
•
Nanas berdiri didepan gerbang kampusnya, kelasnya sudah berakhir beberapa menit yang lalu, biasanya dia akan dijemput oleh Anthony, namun karena Nanas sadar bahwa Anthony agak berbeda membuat Nanas enggan menelepon suaminya itu.
Harusnya dia pulang bersama Terasi, namun karena Terasi ada tugas tambahan yang membuatnya harus dikampus dalam tenggang waktu yang lama membuat Nanas harus pulang sendiri.
Nanas tengah celingukan menatap kekanan dan kekiri, mencari keberadaan taksi yang tak kunjung lewat, ia ingin memesan taksi online namun sinyal serasa tidak bersahabat sekali dengan dirinya.
"Oh sial, lengkap sudah penderitaan gue," batin Nanas.
Nanas melipat kedua tangannya menunggu taksi yang mungkin lewat, namun nihil sudah hampir setengah jam dia menunggu hingga pada satu titik dia benar-benar menelepon Anthony sebelum suara klakson motor yang mengagetkannya.
"Om Thony?" Nanas membalikkan badannya mengira bahwa itu Anthony yang ternyata bukan. "M-Maaf, Aku kira Om Thony."
Faredian turun dari motornya dan berjalan ke arah Nanas dengan ekspresi biasanya. "Sedang apa?"
"Atraksi lumba-lumba, gak liat apa, kan aku lagi nunggu taksi," jawab Nanas memajukan bibirnya beberapa centi.
"Suami kamu? Gak jemput?" tanya Faredian memastikan.
"Gak, gatau juga gausah bahas dia," jawab Nanas yang membuat Faredian menggeleng sejenak.
"Yaudah sama aku aja, nanti ku antar sampai rumahmu," tawar Faredian yang membuat Nanas berbinar.
"Serius?" tanya Nanas yang membuat Faredian mengangguk. "Ah, Makasih kak! Yaudah yuk langsung pulang,"
"Tapi, kalau kita naik motor, nanti Om Thony cemburu ngeliatnya," lanjut Nanas hendak naik ke atas motor. "Ga usah deh kak, Om Thony lagi mode sensi, nanti dia makin sensi lagi,"
"Lah kok? Kita kan gak ada apa-apa, jadi kenapa harus cemburu? Kayaknya suami kamu kelebihin bucin sama kamu," ujar Faredian melepas helm-nya yang belum ia lepas dari tadi.
Nanas menggeleng. "Walaupun bobrok gini, harus tetap jaga perasaan suami ku, walaupun tingkah Om Thony lebih mirip bocah menurutku,"
Faredian terdiam, hatinya terasa sakit, bahkan di situasi seperti ini, Nanas masih memikirkan perasaan Anthony, namun Faredian menyembunyikan semua itu dengan tetap berusaha tersenyum.
__ADS_1
"Yaudah deh gini kita lomba lari, kalau aku menang kamu harus mau ikut aku kemana aja, tapi kalau kamu yang menang kamu boleh minta apa aja dari aku," ajak Faredian menantang Nanas.
Nanas berpikir sejenak, dalam kondisi hamil begini Nanas mana mungkin bisa menang lomba lari dengan Faredian, tapi bukan Nanas namanya kalau Nanas tidak memiliki ide cemerlang.
"Yaudah tapi janji yah kalau aku menang, aku boleh minta apa aja," jawab Nanas menyodorkan tangannya pada Faredian. "Deal?"
"Deal!" jawab Faredian menjabat tangan Nanas.
Faredian, dan Nanas kemudian segera bersiap-siap di jalan raya yang sepi itu dimana mereka sudah menentukan garis start dan finishnya dan bersiap mengambil ancang-ancang.
1
2
3
"Mulai!" teriak Nanas yang segera berlari dengan sangat kencang.
Sementara itu Faredian juga mempercepat larinya sehingga ia dapat mendahului Nanas, sementara Nanas yang kini dalam kondisi hamil tampak kesusahan tapi sekali lagi, bukan Nanas namanya kalau dia tidak punya seribu akal dan pikiran busuk di kepalanya.
Di saat Faredian hampir menyentuh garis Finish, Nanas segera memulai akting yang sering ia tonton dengan duduk di aspal jalanan ia kemudian mulai mengeluh sakit di perutnya.
Faredian, yang tinggal selangkah lagi menyentuh garis Finish segera membalikkan badannya dan panik ketika melihat Nanas tampak kesakitan, Faredian segera memutar langkahnya dan berlari ke arah Nanas.
"Kamu gak apa-apa kan Nas?" tanya Faredian panik.
"Aduh maafin aku yah, aku harusnya gak tantang kamu begini bentar aku ambil motor dulu," tambah Faredian berlari ke arah motornya.
Di saat Faredian tampak panik mengambil motornya, Nanas segera berdiri dan lari dengan kecepatan tinggi ke arah garis Finish.
"Yuhuuu aku menang!" teriak Nanas yang membuat Faredian mengerutkan kening dan membalikkan tubuhnya.
"Yah kamu nipu aku yah, curang nih aku gak setuju gak adil," protes Faredian melipat kepalanya sembari menggelengkan kepalanya. "Udah panik juga rupanya bohongan,"
"Gak apa-apa kan yang penting, aku menang," jawab Nanas cengengesan.
"Yaudah sesuai perjanjian aku boleh minta apapun kan?" tambah Nanas tersenyum puas.
"Iya, kamu mau minta apa heh?" tanya Faredian melipat tangannya kesal.
__ADS_1
"Mari sini kunci motornya Kak," ujar Nanas menyodorkan tangannya meminta kunci motor.
"Buat apa?" tanya Faredian menyerahkan kunci motornya.
"Aku mau naik motor sendiri aja, kalau boncengan sama kakak, nanti Om Thony beneran cemburu." jawab Nanas.
"Kakak bawain tas aku yah naik taksi, dan motor kakak biar aku yang bawah," lanjut Nanas memakai helm Faredian dan menyalakan motor gede itu.
"Tapi kan Nas, emang kamu bisa bawa?" tanya Faredian ragu.
"Bisalah Kak yaudah aku tunggu di rumah, Babay!" jawab Nanas menyalakan mesin motor itu dan mengendarainya meninggalkan Faredian yang nista terdiam.
Faredian hanya terdiam kesal dan berjalan mengambil tas Nanas sembari mencari taksi di sekitaran situ sementara Nanas hanya tersenyum puas sembari menikmati angin yang menerpa wajahnya itu.
"Untung otak gue cerdas gak sia-sia gue sekolah dua belas tahun," gumam Nanas merasa puas.
•
•
"Makasih yah kak, udah nganterin aku," ujar Nanas menyerahkan kunci dan helm kepada Faredian yang baru turun dari taksi.
"Sama-sama. Ini Tas kamu, Kalau ada apa-apa kabarin aku aja yah," jawab Faredian mengendara motornya meninggalkan Nanas.
Nanas berjalan masuk kedalam rumahnya yang ternyata sudah ada Anthony disana dengan tampang penuh interogasi.
"Sama siapa?" tanya Anthony pada Nanas.
"Sama Mantanku," jawab Nanas To The Point.
"Saya sudah bilang yah, jangan deket-deket sama Faredian, Faredian itu," tegur Anthony berdiri dan berjalan ke arah Nanas.
"Kenapa? Bukannya gak peduli?" jawab Nanas yang membuat Anthony menarik pinggang Nanas sehingga mereka kini bersentuhan.
•
•
TBC
__ADS_1