Duda Salah Kamar

Duda Salah Kamar
BAB 63 | Duda Labil


__ADS_3

Setelah mata kuliah yang berlangsung selama satu kelas saja hari ini selesai, Nanas segera mengemasi barangnya bersama dengan Terasi, setelahnya mereka berdua keluar dari kelas menuju parkiran kampus mereka karena Nanas memang sudah dijemput oleh Anthony.


Sementara Terasi sendiri membawa mobilnya, jika saja Mangga menerima cintanya hari itu, mungkin sekarang Terasi sudah mendapatkan supir pribadi dadakan.


"Nanti malam lo mau lanjut ngerjain Skripsi? Padahal ini waktunya tiga bulan dan gak kerasa lusa dah mau sidang aja, selama tiga bulan terakhir kita ngapain aja sih?" keluh Terasi pada Nanas.


"Kita kan kerja sampingan jadi pemain Duda Salah Kamar. Tenang kok Skripsi gue aja belum kelar, nanti malam gue minta Om Thony buat ngerjain," jawab Nanas memegang pundak Terasi. "Oh iya, gue duluan yah, Om Thony dah jemput, lo pulang sendiri lagi?"


"Iyalah, dulu bareng lo, setelah lo nikah ada Melon, sekarang dah nikah semua, gue sendirian lah," Terasi memandang Nanas dengan lingkar mata sedih.


Nanas tersenyum kemudian menepuk pipi Terasi sebelum pergi meninggalkannya. "Makanya cari jodoh,"


"Lo kira jodoh segampang bersin apa?" teriak Terasi pada Nanas yang sudah berjalan menjauh dengannya.


"Yah kagak, makanya cari aja," teriak Nanas balik.


Terasi menghembuskan napas panjang kemudian berjalan ke mobilnya sendiri, dia berjalan dengan langkah lesu, sekarang kedua sahabatnya sudah memiliki suami, dan dia hanya bisa pasrah menerima keadaannya.


"Tunggu," Suara seorang pria menghentikan aksi Terasi yang sedang merogoh tas mencari kunci mobilnya.


"Kak Mangga?" lirih Terasi menaikkan alisnya kepada Mangga yang kini sudah dihadapannya.


Mangga mengatur napasnya dan menelan ludahnya sejenak menatap wajah Terasi yang sedang memberinya tatapan penuh pertanyaan.


"Kamu mau gak makan siang bareng aku?" tanya Mangga memejamkan matanya.

__ADS_1


Terasi menautkan alisnya. "Tumben? Dalam rangka apa ini? Kakak Ultah?"


"G-gak," jawab Mangga menatap Terasi dalam. "Sebagai permintaan maaf aja karena aku udah nolak kamu, yah aku takutnya kamu marah karena ditolak, aku gamau aja liatnya,"


"Oh, jadi makan siang adalah alibi kakak meminta maaf?" tanya Terasi tersenyum simpul. "Aku ga pernah marah kok, tapi kalau gini aku gak bisa kak, aku sedang dalam fase mencari pengganti, kalau kakak selalu memperlakukan aku begini sama aja memberi harapan,"


Terasi membuka pintu mobilnya, dan masuk kedalamnya. "Makasih yah kak, Next time aku ada kesibukan skripsi,"


Terasi menjalankan mobilnya keluar dari area parkiran tersebut meninggalkan Mangga yang masih berdiri disana menatap kepergian Terasi, wajahnya ragu menerawang jauh, padahal bukan itu maksudnya.


"Padahal aku cuma mau meyakinkan diri," batin Mangga berjalan menuju mobilnya sendiri.


Mangga yang sudah tiba didepan mobilnya segera masuk kedalam mobilnya dengan wajah pasrah, didalam mobil itu ada Faredian dan Salak.


"Gimana bro?" tanya Salak pada Mangga.


"Emang kau ngomong apa sama dia?" tanya Faredian yang duduk dibangku belakang.


Mangga berpikir sejenak apa yang salah dari kalimatnya sampai dia menyadari apa maksud Terasi. "Kayaknya aku berbuat salah deh,"


"Yah kok gitu, kau duda terlabil yang pernah aku kenal, kenapa sih pakai ditolak segala waktu itu," Faredian melipat kedua tangannya.


"Aku cuma mau ngeyakinin perasaan aku aja, aku perhatian ke dia karena cinta atau cuma teman," jawab Mangga mengerem mendadak.


Faredian dan Salak sampai tersentak kedepan, Mangga menatap lurus dan kembali menjalankan mobilnya. "Maaf,"

__ADS_1


Salak memegang pundak Mangga yang membuat Mangga menatapnya. "Kalau kau cinta sama dia yakinin dari sekarang, jangan sampai dia direbut orang lain,"


"Bener banget, karena yang berjuang bisa kalah sama yang salah ruangan, jadi kau harus bisa meyakinkan perasaan dari sekarang," timpal Faredian.


"Logika aja yah, Melon dan Nanas sudah menikah, Terasi sahabat mereka kan juga pasti mau, liat aja sifatnya, gak menutup kemungkinan Terasi dapat cowok lain dalam waktu sehari, Melon dan Nanas aja bisa dapat suami dalam satu hari," lanjut Salak disambut anggukan Faredian.


"Aku harus gimana?" tanya Mangga.


"Nikahin dia!" Faredian dan Salak berucap bersamaan yang membuat Mangga membulatkan mata sempurna.


"Membuat pernikahan yang fenomenal," ujar Salak.


"Mengalahkan pernikahan Anthony dan Melon," lanjut Faredian.


Mangga berpikir sejenak, bagaimana bisa, melakukan pernikahan membutuhkan momen yang pas, namun kalau diam bagaimana jika benar dia mencintai Terasi dan Terasi sudah bersama orang lain.


"Okey, aku setuju," Mangga meyakinkan tekadnya.



TBC


Terasi dan Mangga


__ADS_1



__ADS_2