
Happy Reading!
•
•
"Om? Aku ambil minum dulu yah." ujar Nanas yang disambut anggukan Anthony.
Anthony kembali berusaha menelan kue yang dijejelkan langsung kedalam mulutnya sementara Nanas pergi mengambil air minum untuknya dan Anthony.
Nanas berjalan ke stand dimana terdapat beberapa gelas jus dan beraneka ragam minuman, sebelum tangannya yang sudah mengambil dua gelas minuman terhenti saat melihat sosok yang sudah sangat bosan dia lihat.
Dina, Dinamo Tereomoreana, hampir saja Nanas lupa nama lengkap mantan istri suaminya itu, Nanas menatap heran Dina, kenapa dia bisa ada diacara reuni sekolahnya, sedangkan Dina jauh usia darinya, sangat tidak mungkin dia adalah lettingan dari Nanas.
"Kita bertemu lagi," sapa Dina pada Nanas.
Nanas hanya memutar bola matanya malas melihat tingkah sok ramah dari Dina.
Tak lama setelahnya seorang remaja seumuran Nanas yang Nanas ingat betul musuh bubuyatannya yaitu Diana Abekicothea, alias Bekicot datang menghampiri Dina dan memanggilnya dengan sebutan kakak.
"Oh, bersaudara rupanya dua makhluk astral ini." batin Nanas menatap sinis Bekicot dan Dina.
"Oh jadi ini Kak, cewek yang ngerebut Kak Thony dari kakak?" tanya Bekicot yang membuat Dina mengangguk.
"Dia juga hamil diluar nikah, ih apa gak malu yah orang tuanya." timpal Dina yang membuat Bekicot memasang ekspresi congkak.
Bekicot yang memang musuh bebuyutan Nanas segera mendorong Nanas sehingga Nanas terjatuh kebelakang akibat tidak siap, membuat gelas ditangannya hancur berantakan ditanah.
"Makanya kalau jadi cewek jangan sok keras! Giliran gue kerasin balik lo malah takut, cewek lemah kayak lo, cuma bisa nyampah tau gak." ujar Bekicot yang membuat Nanas mengepal tangannya kesal.
Anthony yang melihat itu, langsung menghampiri Nanas, melihat Nanas sedikit kesakitan Anthony menjadi sedikit emosi apalagi ada Dina disana.
Anthony berjalan ke arah Dina tanpa melihat pecahan kaca yang membuat sepatunya yang memang hanya sepatu sneeakers biasa ditembus oleh pecahan tersebut yang membuat kaki Anthony terluka dan mengeluarkan darah.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Anthony pada Dina sembari meringis menahan sakit di kaki nya.
"Hanya memberi pelajaran pada orang yang menjadi penghalang hubungan kita Anthony." Dina hendak menggenggam tangan Anthony namun ditepis oleh Anthony.
"Aku rasa kau sudah tidak punya urat malu! Kau yang selingkuh dengan Kiwi! Dan buruknya itu adikku sendiri." jawab Anthony mengingat sosok adiknya Tristan Dakiwi Gilbert Chow, yang ia lihat sedang beradegan ranjang dengan Dina istrinya yang membuat Anthony menjatuhkan talak saat itu.
"Aku khilaf!" teriak Dina memancing orang yang ada disana sehingga mereka menjadi pusat perhatian.
Melon, Terasi dan Faredian yang tidak jauh dari sana segera menghampiri Anthony dan Nanas.
Melon dan Terasi kemudian membantu Nanas untuk berdiri, Nanas kemudian berjalan menghampiri Anthony dan menggandeng tangan nya cepat.
Anthony hendak mengeluarkan suara namun rasa sakit dikakinya sudah menjalar yang membuat dia tidak bisa bersuara.
Nanas yang sedari tadi hanya diam dan sudah merasa kesal mulai menyiapkan kalimat balasan untuk Dina dan Bekicot yang mungkin akan menjadi kalimat penutup dari pertemuan mereka.
"Gue tahu, kalau orang tua kalian udah gak ada, dan hidup kalian hanya bergantung pada pekerjaan kakak lo itu, gue sebenarnya gak mau ngelakuin ini, tapi sudah dibatas kesabaran gue, jadi gue cuma minta kalian denger ini baik-baik."
Nanas mengambil ponselnya dan menelepon sosok Danu, ayahnya.
[Halo sayang? Ada apa?]
[Aku bisa bicara sebentar gak?]
[Bisa]
Nanas melirik Dina dan Bekicot kemudian mulai mengaktifkan fitur speaker dari panggilan telepon tersebut.
[Kantor Cabang Jakarta Selatan, Papah punya Divisi Umum Marketing, atas nama Dinamo Tereomereana kan?]
[Iya]
[Aku mau Papah pecat dia sekarang, aku rasa dia sudah bosan jadi divisi perusahaan Papah. Karena waktunya hanya dihabiskan untuk menganggu kehidupanku, Ini Permintaan dari putri tunggalmu, harus dituruti]
__ADS_1
Tidak ada jawaban sampai beberapa saat sebelum Nanas kembali bertanya kepada Danu, Papahnya.
[Baik sayang, surat pemecatAlan Dina sudah diurus oleh kantor cabang, ada lagi?]
Nanas menyeringai kecil dan membuat Dina serta Bekicot tertegun dengan mata membulat sempurna.
[Tidak ada, i love you]
Nanas mematikan telepon tersebut kemudian melipat tangannya, Nanas mengambil segelas lagi air dan berjalan ke arah Dina.
"Kalian lupa kalau dibelakang nama Nanas ada Afdarianto, kalian juga lupa bahwa pemilik nama Afdarianto hanya keluarga, Ardanu Afdarianto, liat bagaimana aku menghancurkan hidupmu dalam hitungan detik." sinis Nanas tersenyum puas.
"Ini untuk suamiku!" Nanas kemudian menyiramkan minuman tersebut ke arah Dina dan Bekicot. "Kalau masih mau makan, perhatikan langkahmu, have fun yah, calon gelandangan, ups."
Setelahnya Nanas kemudian berbalik ke arah Anthony yang kini sudah tidak bisa menahan sakit nya dan limbung ke tanah, Faredian yang melihat itu segera memapah tubuh Anthony, dan dengan bersama Nanas yang panik mereka membawa Anthony kerumah sakit terdekat.
Sementara itu Melon dan Terasi yang tidak ikut. Memilih ikut mengambil gelas air minum dan menumpahkannya ke tubuh Dina dan Bekicot.
"Bok yah cocote dijaga baik-baik, kalau sekarang udah nyesel kan? Gak jadi wong sugi lagi." ledek Terasi.
"Sekali lagi lo gangguin hidup kakak gue, gue pastiin lo harus belajar jalan pakai kaki." ujar Melon yang membuat Terasi kaget.
"Jadi selama ini kita jalan pakai tangan gitu?" tanya Terasi.
"Eh salah, kalau lo berani macam-macam, gue pastiin lo bakal belajar berjalan tanpa kaki." ralat Melon.
Setelahnya Melon, dan Terasi bergegas menyusul Nanas dan Faredian yang membawa Anthony ke rumah sakit.
•
•
TBC
__ADS_1
TimAnthonyNanas Check!