
Setelah acara pernikahan absurd dikampus tadi, kini Terasi dan Mangga memilih pulang dan Terasi kini harus tinggal di rumah Mangga karena Mangga sudah sah sebagai suaminya.
Mangga tinggal sendiri dirumahnya karena kedua orang tuanya berada di kota lain, Mangga merupakan seorang Ketua Divisi keuangan di perusahaan milik Salak.
Mangga membawa Terasi masuk kedalam kamarnya, jam di sudut ruangan tersebut sudah menunjukkan pukul sembilan malam, setelah bersih-bersih kini Terasi dan Mangga sudah berada didalam kamar dalam keadaan canggung.
Setelah acara panjang dari pagi sampai sore membuat Terasi dan Mangga tidak lelah, Justru Terasi dan Mangga bingung bagaimana memulai malam pertamanya.
Untungnya Mangga sudah bekerjasama dengan Anthony, Salak serta Faredian untuk memberi kode malam pertama mereka.
- Flashback On
"Buset kau kan duda, masa malam pertama nanya lagi sih, harusnya udah berpengalaman," ujar Salak saat Mangga kebingungan saat malam pertama nanti.
Anthony dan Faredian hanya terdiam menggelengkan kepalanya menatap Mangga, Seharusnya jika dilihat dari logika Mangga sudah berpengalaman dari pernikahan pertamanya.
"Aku ngelakuin itu udah beberapa tahun lalu, ga mungkin banget aku udah lupa caranya, cara masukin rudal ke anunya Terasi," jawab Mangga frustrasi.
"Aku sih no koment, aku belum pernah nikah," ujar Faredian mengangkat bahunya.
"Kalau mainan sabun sering yah," sindir Salak pada Faredian.
"Kayak situ aja ga pernah," ujar Faredian melipat kedua tangannya.
Anthony berpikir sejenak bagaimana membantu masalah Mangga, Anthony berjalan mondar mandiri dihadapan Mangga, sementara itu Faredian dan Salak hanya menatapnya malas.
"Hah aku tahu! Bagaimana kalau kita pake teknik ting aja," ujar Anthony yang membuat ketiganya menautkan alisnya.
"Ting apaan?" tanya Mangga pada Anthony.
Anthony kemudian mengode ketiga sahabatnya itu untuk mendekat kepadanya dan membisikkan sesuatu kepada mereka.
"Yakin?" tanya Mangga ragu.
"Dijamin tokcer! Paten ini, cek aja toko sebelah," jawab Anthony mengacungkan jempol nya.
"Menurutku boleh juga, gimana kalau pakai itu aja?" saran Salak mengelus dagunya.
"Bagus juga sarannya, aku sih ikut aja," timpal Faredian.
"Iya juga sih, oke deh aku setuju, jadi nanti aku harus gimana?" tanya Mangga menatap Anthony penuh pertanyaan.
__ADS_1
"Simpel, nanti kalau aku, Salak dan Faredian datang kami akan misscall kamu. Nah pas itu harus udah full naked, sekali ting kamu masukin rudalnya, kalau ada ting lagi keluarin, ikutin ritme ting-nya keluar masuk okey," jawab Anthony menjelaskan rencananya.
"Okey deh," ujar Mangga pasrah akan rencana ketiga sahabatnya itu.
- Flashback Off
Mangga menatap Terasi malu, sementara Terasi hanya membuang muka karena ditatap Mangga.
"Kak? Kita ngapain sekarang?" tanya Terasi yang membuat Mangga gelabakan.
"Masukin anu-nya," jawab Mangga salah tingkah. "Eh itunya,"
Terasi yang melihat pipi Mangga memerah hanya mengerutkan kening, Terasi kemudian mulai melepas atasannya yang membuat Mangga sedikit menjauh.
"Kenapa kak?" tanya Terasi pada Mangga.
"Gapapa," jawab Mangga kembali mendekat ke arah Terasi. "Aku buka juga yah,"
Terasi mengangguk, Mangga kemudian membuka kemejanya dan terlihatlah roti sobek yang selalu didambakan Terasi selama ini, Mangga sedikit malu saat Terasi terpusat pada perutnya.
Ayayayayaya, Bang Joni Suka Jablay
Suara miss-call diponsel Mangga yang merupakan tanda dari Anthony, Salak dan Faredian, membuat Mangga segera membuka celananya dan semua pakaian Terasi.
"A-Aku mulai yah," izin Mangga malu-malu.
Terasi memalingkan wajahnya dengan pipi memerah, sementara Mangga hanya tersenyum simpul, meletakkan juniornya di pintu masuk Terasi yang masih perawan.
Ting!
Mendengar itu Mangga langsung menerobos masuk pintu Terasi yang membuat Terasi sedikit menjerit karena ukuran rudal Mangga.
"Ah, sakit kak, keluarin!" teriak Terasi kesakitan.
"Ga bisa, belum ada bunyi Ting," jawab Mangga yang membuat Terasi meringis menahan ngilu.
Ting!
Mangga mengeluarkan rudalnya dari dalam milik Terasi yang membuat Terasi sedikit bernapas lega.
Ting!
__ADS_1
"Ah!" Terasi kembali menjerit atas aksi tiba-tiba Mangga yang langsung menerobos keperawanan Terasi, Terasi meremas seprei menahan ngilunya.
Ting! Ting! Ting! Ting!
Mangga mulai mengerakkan keluar masuk rudalnya sesuai ritme yang diberikan oleh ketiga sahabatnya. Sementara diluar sana, Anthony, Faredian dan Salak yang bermarkas diatas pohon mangga samping kamar Mangga dan Terasi hanya bisa memukul pentungan terus menerus padahal mereka berharap melihat siaran langsung Mangga dan Terasi.
Disaat Anthony bosan memukul pentungan dengan ritme sedang, tiba-tiba pandangan mereka bertiga dialihkan oleh seorang maling yang sedang menggasak rumah sebelah.
"Maling woi!" teriak Salak yang membuat Faredian dan Anthony segera menatap ke arah maling tersebut.
"Iya maling, cepetan bunyiin pentungannya panggil Warga," ujar Faredian merebut pentungan tersebut dari Anthony.
"T-Tapi nanti Mangga-"
"Gaada waktu!" potong Salak.
Salak dan Faredian segera melompat dari pohon mangga dan mengetuk pentungan tersebut cepat.
Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting!
Mereka berdua mengetuk pentungan tersebut tanpa jeda dengan tempo yang cepat membuat Anthony yang masih diatas pohon hanya mendengus malas melihat aksi kedua sahabatnya.
"Maafin aku Nga, selamat bertempo cepat," lirih Anthony memikirkan kondisi Mangga yang sedang mengikuti ritme kentungan dalam memaju mundurkan rudalnya.
Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Ting!
Mangga yang tadi dalam tempo sedang langsung memulai tempo cepat seiring dengan kode kentungan yang dia dengar, Terasi yang ditindih terguncang dibawa sana dengan napas ngos-ngosan memaksa Mangga berhenti.
"Ah! Ah! Ah! Ah!"
Suara lenguhan menjadi nuansa musik dalam momen Tersebut, Terasi sudah protes berulang kali agar Mangga bisa lebih lambat.
Namun Mangga yang juga sudah ngos-ngosan karena temponya tidak bisa berbuat apa-apa sampai akhirnya Mangga ******* dan tumbang diatas tubuh Terasi.
Mangga lemas seketika dan tidak memperdulikan pentungan itu lagi, Mangga merebahkan dirinya disamping Terasi yang sama lemas nya, bercak darah menempel di rudal Mangga yang mulai melemas.
"Hardcore banget!" protes Terasi.
Mangga tidak menjawab dia mengelap rudalnya dengan tissu dan membersihkan sisa-sisa cairan yang merembes keluar dari milik Terasi kemudian tertidur disamping Terasi.
"Dasar sahabat sialan!" keluh Mangga memeluk Terasi dan tertidur disana.
__ADS_1
•
TBC