
Happy Reading!
•
•
Nanas dan Faredian mulai meninggalkan area kampus, sementara Nanas yang sedari tadi ragu hanya memperlihatkan ekspresi takut bila nanti Anthony memergokinya, walaupun dia tidak memiliki hubungan apapun dengan Faredian.
"Nanas, kamu kenapa sih?" tanya Faredian.
"Gapapa,"
"Serius?"
"Emang aku kenapa kak?" tanya Nanas balik.
"Muka kamu makin cantik kalau lagi ragu," goda Faredian yang membuat Nanas tersipu.
"Apaan sih," jawab Nanas yang yakin bahwa kali ini pipinya benar-benar merah.
"Yah gak apa-apa kan kata kamu tadi gak apa-apa," jawab Faredian.
"Kumat deh kalau kayak gini," ucap Nanas tersenyum simpul.
"Kumat? Emang aku gila yah?" tanya Faredian yang senang karena kali ini Nanas tidak ragu lagi.
"Iya gila, pake banget alias gila banget," jawab Nanas di sambut ledakan tawa dari mereka berdua.
Kini suasana di atas motor itu tidak begitu canggung seperti tadi karena tampaknya Faredian sudah berhasil mencairkan suasana dengan membuat Nanas kembali mengukir indah senyum di raut wajahnya.
"Kamu cantik Nas, kalau lagi senyum sayang banget orang yang nyia-nyiain kamu," gumam Faredian dalam hati.
"Kak? Makasih yah kakak udah buat moodku baik lagi," ucap Nanas.
"Hah? Makasih aku gak ngasih apa-apa kali emang aku bedah rumah apa," jawab Faredian dengan nada bercanda.
__ADS_1
"Tuh kan mulai lagi," tukas Nanas mencubit pinggang Faredian.
"Aww sakit, emang aku mulai apa sih?" tanya Faredian sambil meringis kesakitan.
"Mulai lagi gilanya," jawab Nanas singkat.
"Emang aku gila yah? Iya sih aku gila tergila-gila sama kamu," jawab Faredian yang di sambut tawa dari Nanas.
Mungkin bagi Nanas itu adalah sebuah bahan bercandaan, tapi bagi Faredian itu adalah hal serius yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam, dan hanya dia yang tahu apa yang kini ada dalam hatinya.
Sementara itu Anthony yang kesal kemudian segera menyusul Nanas dan Faredian dengan perasaan yang sudah tidak bisa ia deskripsikan.
Anthony melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, menyusul Nanas dan Faredian sampai ia melihatnya. dan melingkarkan mata sempurna kala ia melihat istrinya kini berboncengan dengan mantannya.
Dengan penuh emosi Anthony kemudian menambah kecepatan mobilnya dan berhasil menyalip kendaraan Faredian dan dengan sigap, Faredian segera mengerem mendadak sehingga kini, Nanas terperanjat kedepan dan tidak sengaja memeluk Faredian.
Faredian dan Nanas yang masih kaget di buat lebih kaget lagi ketika melihat Anthony keluar dari mobil itu dan dengan ekspresi marah menghampiri mereka berdua.
"Turun!" teriak Anthony dingin dan menarik tangan Nanas untuk turun dari motor itu.
Setelah melihat istrinya sudah masuk kedalam mobil, Anthony segera menarik kerah Faredian, sehingga kini Faredian berdiri dengan keadaan tertarik.
"Ngapain kamu sama istri saya?" tanya Anthony yang sudah di sulut emosi.
Faredian tidak menjawab dan masih mengenakan helmnya sembari menatap wajah Anthony, ia kemudian pasrah tidak melakukan apa-apa.
"Jauhi Nanas! Dan jangan dekati dia," ancam Anthony melemparkan Faredian sehingga ia kembali terduduk di job motornya.
Anthony kemudian mengatur napasnya dan membalikkan badannya dan berjalan menuju mobilnya sampai langkahnya terhenti oleh panggilan dari Faredian.
"Tunggu!" cegah Faredian yang membuat Anthony menghentikan langkahnya.
Faredian kemudian melepaskan helmnya dan menjatuhkannya begitu saja dan berjalan menuju tempat Anthony berdiri.
"Abang mau pukul saya? Pukul Bang, pukul sekarang! Pukul!" teriak Faredian yang membuat Anthony tertegun.
__ADS_1
Faredian kemudian mengambil tangan Anthony dan mengarahkannya ke wajahnya sendiri sembari menatap nanar Anthony.
"Abang takut, tapi Abang belagak tidak tahu, jangan sampai kehilangannya Bang, kalau Abang gamau pukul saya, semoga Abang sadar dengan pukulan ini!" teriak Faredian dihadapan Anthony.
Bugh
Satu bogeman mentah yang panjang lepas dari Faredian ke wajah Anthony sehingga menimbulkan luka di sudut bibir Anthony, tapi hebatnya Anthony masih bisa tetap diam, dalam keadaannya yang seperti itu.
Anthony yang tadi sedikit terhuyung sampai dia jatuh terduduk ke tanah, segera bangkit dan menatap Faredian, Nanas yang melihat itu segera keluar dari mobil dan menghampiri Anthony dengan perasaan khawatir.
"Om gapapa?" tanya Nanas mmegang tangan Anthony panik.
"Argh!" teriak Anthony melepaskan secara kasar tangan Nanas.
Anthony kemudian segera berdiri dari duduknya dan berjalan pelan masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan Faredian dan Nanas diluar.
"Mending kakak pulang dulu aja kayaknya aku mau di sini nemenin Om Thony, maafin Om Thony, tapi seharusnya kakak gaboleh begitu, biar nanti aku yang bicara dengan Om Thony," ujar Nanas yang membuat Anthony mengerutkan dahinya.
"Ngapain lagi kamu di sini dia itu udah gak cinta, sama kamu, mending kamu aku antar ke rumah mamah sama papah kamu aja gimana?" ajak Faredian yang khawatir dengan keadaan Nanas nanti.
"Gak usah kak, aku gak mungkin lari, ini urusan aku sama suamiku dan aku yang harus menyelesaikannya," jawab Nanas masuk kedalam mobil menyusul Anthony, yang sesaat kemudian mobil itu berjalan meninggalkan area itu.
Faredian hanya menatapnya sekilas dan membalikkan tubuhnya hendak pergi meninggalkan tempat itu.
"Memang bener kata Anthony, Nanas itu perempuan yang spesial dia lain daripada yang lain," batin Faredian.
•
•
TBC
Hareudang Euy!
__ADS_1