
[Enam Tahun Kemudian]
"Langit bumi bersaksi! Derita kujalani!" teriak Aran kecil yang sedang menggosok giginya didalam kamar mandi. "Bagus sekali suaraku, Agnes MoNabok aja lewat,"
"Coba lagi ah," lanjut Aran sembari masih terus menggosok giginya. "Adikku melanggar hukum, aku yang menjadi saksi,"
Klik!
Seketika lampu didalam kamar mandi itu mati yang membuat Aran berteriak keras dan membuat Anthony serta Nanas yang sedang bersantai di ruang tv bergegas mendatangi sumber suara itu.
Aran kecil berjalan keluar dari dalam kamar mandi membawa gayung berbentuk lope kesayangannya kemudian mendatangi satu-satunya tersangka.
Plak!
Gayung tersebut melayang ke kepala Aren yang membuat Aren meringis dan melipat kedua tangannya kesel.
"Dedek Aran kok kasar sih!? Sakit!" protes Aren yang keluar dari tempat persembunyiannya
"Biarin! Kak Aren yang mulai duluan gangguin aku yah," kesal Aran memukul tubuh kakaknya itu pelan yang tidak memberikan efek apapun kepada Aren.
Anthony dan Nanas yang baru datang segera memisahkan kedua anaknya itu dengan cara menggendong keduanya, Anthony menggendong Aren dan Nanas menggendong Aren.
"Kalau berdua kerjanya berantem terus," tegur Anthony yang membuat Aran mengembungkan pipinya.
__ADS_1
"Kak Aren yang mulai!" kesal Aran menodong Aren dengan gayung yang dia sudah ambil kembali.
"Enak aja, Dedek Aran tuh, masa dia konser dikamar mandi, kan ngeganggu," protes Aren berusaha membela dirinya.
"Pokoknya Dedek benci banget sama Kakak! Benci banget gue ama lo!" teriak Aran yang membuat Nanas membulatkan mata sempurna atas Gue-Lo itu. "Maaf keceplosan Bunda,"
"Gapapa, Aran ga boleh marah dong sama Kakak Aren, kan Bunda ga pernah ngajarin kamu untuk dendam, kalau kita kesal sama seseorang santet aja daripada buang tenaga kan," nasihat Nanas yang membuat Anthony menepuk jidat.
"Jangan kalian dengerin Mama kalian, itu ajaran sesat!" protes Anthony yang membuat Nanas menatapnya tajam.
"Oh ngajak berantem," ujar Nanas menurunkan Aran dari gendongannya.
"Masalahnya pendapat kamu salah," tegas Anthony ikut menurunkan Aren.
"Asik tontonan pagi," ujar Aran disambut anggukan dari Aren.
"Tapi kok Bunda dan Papa sih yang berantem, kan harusnya kita," lanjut Aran pada Aren.
"Gapapa Dedek, lumayan hiburan kita ini," jawab Aren memakan popcorn yang ada dipangkuan Aran.
Gini nih kalau masih enam tahun udah nonton indosiar, gerutu Aran dalam hati.
"Kamu yang bener dong ngajarin anak-anak, selama ini kamu salah didik," ujar Anthony bersikeras atas pendapatnya.
__ADS_1
"Oh ga bisa, pendapatku udah benar, ngapain kita buang-buang tenaga kalau kita bisa santet orang tersebut, kan simpel," jawab Nanas melipat kedua tangannya.
"Wah kamu gila sih," Anthony bersandar pada counter dapur yang membuat Nanas kesal.
"Asal Om tahu yah, aku tiap hari ghibah itu buat siapa? Buat Om! Supaya aku bisa nambahin dosa suami, kurang baik apa aku, terus kenapa pas aku mau ngajarin santet menyantet Om malah protes?" teriak Nanas yang membuat Anthony berdiri tegap.
"Oke Fine-Fine! Aku tahu kamu ghibah demi nambahin dosa suami, tapi yakin gak nambahin dosa kamu? Kemana aja kamu?" balas Anthony.
Nanas melipat tangannya dan membuang muka kesal dibuat oleh Anthony. "Om juga kemana aja? Pas aku berak di wc terus kehabisan air, Om dimana?"
Anthony ingin menjawab namun suara bell membuat keduanya berhenti berdebat dan segera berjalan untuk membukakan pintu, begitupun dengan Aran dan Aren yang menyusul orang tuanya.
"Halo Bestie!" teriak Terasi dan Melon bersamaan.
Didepan pintu rumah Anthony sudah ada Melon, Terasi, Dave dan Mangga bersama anak mereka Wortel dan Lemon.
"Aran! Aren!" teriak Wortel dan Lemon langsung melipir ke pelukan Aran dan Aren.
"Akhirnya Squad Buah-Buahan Junior ngumpul lagi," ujar Aran kegirangan.
•
TBC
__ADS_1