
Aran dan Aren sudah selesai mandi, mereka berdua tengah terduduk rapi diruang tamu dengan menatap monitor laptop dimana wajah guru mereka terpampang jelas disana.
Bukannya Aran dan Aren doyan memandang wajah guru yang mereka nilai membosankan, namun ini terpaksa karena mereka sedang mengikuti kelas online.
"Baik, Anak-anak, karena materi hari ini sudah dibahas, jadi bisa kerjakan tugasnya yaitu menjelaskan tentang apa itu pohon, dalam bentuk video, dikumpul jam dua belas siang," ujar guru tersebut.
Sesat kemudian sambungan zoom diantara mereka semua terputus membuat Aran dan Aren saling melempar tatapan. Bagaimana caranya mereka membahas apa itu pohon.
"Jelasin ajalah bang, pohon itu adalah sejenis tumbuhan, udah selesai. Cuma lima menit," saran Aran yang membuat Aren menggeleng.
"Gak bisa, kita harus menjelaskan apa itu pohon secara detail," tolak Aren yang membuat Aran melipat tangannya.
"Apaan sih, apalah arti sebuah pohon bang, pohon hanyalah pohon," jawab Aran menatap sinis Aren.
"Tapi masalahnya saran kamu menjerumuskan opini," jelas Aren yang membuat Aran bertambah kelas.
"Bang! Kita masih bocil loh bang, gausah munafik kali, nanti dikiranya readers kita dewasa sebelum waktunya, perkara pohon aja," Aran bangkit kemudian mengambil ponselnya. "Aku buat sendiri aja dikamar, Bang Aren jangan ganggu,"
"Terserah," jawab Aren memilih memikirkan presenstasinya sendiri.
Aran berjalan kedalam kamar dengan langkah malas, ia menarik bonekanya yang ada di meja kemudian melangkahkan kakinya kembali masuk kedalam kamarnya, ia kemudian mengambil tripod miliknya dan mulai memasang kamera.
"Okey sip, dijamin dapat 100 kalau gak, kata bunda santet aja gurunya," batin Aran bersiap-siap merekam video.
Kling!
__ADS_1
Suara lampu kamera yang mulai menyala membuat ponsel Aran mulai merekam kamera, Aran yang sudah siap segera berpose layaknya sedang diwawancarai.
"Halo perkenalkan, saya Arandita Chow, siswi kelas 2, SD Kaktus beranak, akan menjelaskan-"
Kukuruyuk!
Deg!
Aran terdiam seketika saat suara Ayam bersahutan menganggu sesi wawancara yang berujung tugas itu, dengan mengambil napas panjang dan anxang-ancang, Aran segera berteriak kencang memanggil nama Nanas.
"Bunda!" teriak Aran kesal yang membuat Nanas yang sedang sibuk didapur bergegas menemui putrinya itu.
"Kamu kenapa sih de?" tanya Nanas membuka pintu kamar Aran dan mendapati putrinya tengah frustrasi dihadapan kamera.
Nanas yang melihat itu hanya menatap bingung dan bagaimana caranya mendapatkan solusi bagi putrinya.
"Gimana kalau Aran buat tugasnya dikamar Bunda sama Papa aja, disana gaada gangguan kok," jawab Nanas yang membuat Aran mengangguk.
Nanas segera membantu Aran membawa tripod kemudian menggandeng tangan putrinya itu menuju kamarnya, disaat mereka melewati ruang tamu, masih ada Aren yang tengah berpikir keras disana.
"Kamu ngapain Ren?" tanya Nanas pada Aren yang tengah mengeluarkan semua kemampuan otaknya.
"Sedang memikirkan puisi, merangkai bunga-bunga berguguran," jawab Aren cuek.
Melihat itu Nanas tahu bahwa putranya yang satu itu tidak ingin diganggu, sehingga ia memilih mengantarkan Aran secepatnya menuju kamar.
__ADS_1
Sesampainya didalam kamar, Nanas segera mengatur angle tripod sedangkan Aran sudah siap dengan wajah polosnya didepan kamera.
"Ini yah de, ini nanti tekan aja tombolnya, Bunda mau lanjut nyuci dulu," ujar Nanas keluar dari dalam kamar disambut anggukan dari Aran.
Ting!
Aran menekan tombol mulai, dan ponselnya mulai merekam, namun baru saja Aran ingin menjelaskan, tiba-tiba suara musik yang entah darimana datang nya mengacaukan semuanya.
Langit bumi bersaksi.... Derita kujalani....
Langit bumi bersaksi.... Derita hati ini....
Kembali dengan tarikan napas dan ancang-ancang yang luar biasa, Aran mengeluarkan segenap kemampuannya.
"Bunda!" teriak Aran benar-benar frustrasi.
Nanas yang sudah malas segera mendatangi Aran dan menanyakan apa yang terjadi pada putrinya itu.
"Kenapa lagi?"
Aran menatap tajam Nanas dan mulai menangis frustrasi. "Tertekan sekali batinku,"
•
Bersambung
__ADS_1