
Happy Reading!
•
•
Minggu yang cerah bagi Anthony dan Nanas, kini Anthony sedang mengikat tali sepatu nya, dengan setelah kaos putih dan celana training pendek berwarna hitam serta sepatu dengan warna senada, pagi ini Anthony berencana lari pagi sebelum Nanas memaksa untuk ikut dengannya.
"Om! Iketin!" pinta Nanas menyodorkan kakinya yang sudah terpasang sepatu kepada Anthony yang sedang berjongkok.
Anthony hanya menggeleng paham, kemudian mulai mengikat tali sepatu Nanas, Nanas yang melihat itu tersenyum gemas, sebenarnya Anthony kesal tapi dia lebih menahan diri untuk tidak terjadi peran dunia kembali.
"Udah siap?" tanya Anthony pada Nanas.
"Sun cream, sun block, maskeran, terus skincarean, udah, mandi belum," jawab Nanas mencium ketiaknya. "Masih harum kok, lagian setelah nunaninunaninu brot, semalam aku mandi, masih harum kok, tenang, gak malu-maluin banget kalau aku di ajak lari pagi."
Anthony mengangguk, kemudian mulai berjalan disusul oleh Nanas, mereka berdua memilih lari pagi disekitaran komplek perumahan mereka berdua, tidak hanya mereka berdua, ada banyak tetangga yang ikut lari pagi dengannya.
Mereka baru berlari setengah jam, tetapi Nanas mulai kelelahan dengan itu semua yang membuat Anthony pasrah melihat istrinya itu.
"Bentar Om! Engap, ngaso dulu bentaran," ujar Nanas melambaikan tangannya kepada Anthony yang masih lari-lari santai.
Anthony mendatangi Nanas, kemudian duduk disampingnya. "Kan aku udah bilang, gausah ikut."
"Kalau aku gak ikut, nanti Om jelalatan lagi disini, disini kan banyak cewek-cewek cantik, mana pakaian Om memperlihatkan aurat dan urat, jangan sampai ada orang ketiga Om," jawab Nanas yang membuat Anthony terkekeh.
"Lagian, mau seberapa banyak pun wanita di dunia ini, aku tetap milih kamu, Nanas mudaku," jawab Anthony mengacak rambut Nanas.
Tak lama kemudian, sosok pria yang tak asing lagi bagi Nanas dan Anthony tiba-tiba saja muncul dihadapan mereka yang membuat Anthony dan Nanas berdiri.
"Kak Faredian? Ngapain disini?" tanya Nanas pada Faredian.
__ADS_1
Faredian tersenyum. "Gapapa, aku cuma ngucapin selamat kalian udah baikan, dan aku juga mau pamit, aku bakal pindah ke pulau kalimantan besok dan bertugas disana, sepertinya kita akan berpisah cukup lama."
Anthony yang mendengar itu, hanya tersenyum sekilas sedangkan Nanas juga ikut tersenyum. Faredian kemudian memegang bahu Anthony dan menatapnya lekat. "Bang? Maaf atas pukul semalam."
"Abang kayak bocah sih," tambah Faredian meninju kecil dada Anthony. "Pembaca yang bilang, bukan aku."
Anthony tersenyum, kemudian memeluk Faredian sebagai tanda perpisahan. "Terima kasih selama saya tidak bisa, kamu selalu ada disamping Nanas."
Faredian mengangguk. "Maaf sudah membuat Abang cemburu, aku udah sadar sepenuhnya, apa yang sudah kita lepas tidak bisa kita miliki kembali, aku dan Nanas pacaran hampir dua tahun, sedangkan Abang bisa menikahinya hanya dalam satu malam, itu takdir, dan saatnya aku belajar ikhlas."
"Aku titip Nanas, Bang, jaga dia!" Faredian tersenyum kemudian pergi meninggalkan Nanas dan Anthony yang menatap punggung Faredian menghilang dari hadapan mereka.
"Om, haus gak?" tanya Nanas pada Anthony.
"Lumayan,"
"Yaudah aku beli dulu yah," Anthony mengangguk.
Nanas kemudian berjalan ke salah satu kedai toko kecil untuk membeli minuman, namun baru saja Nanas sampai disana sebuah percakapan abzurd membuat jiwa-jiwa bengek Nanas keluar seketika.
Sementara itu tak jauh dari sana, tampak Melon, Terasi, Mangga dan Salak yang entah kapan kedua Squad absurd ini bersatu membututi Nanas dan Anthony.
"Eh mereka sudah baikan ternyata," ujar Mangga bernapas lega.
"Yah, gue kira bakal lebih lama gitu, Kak, ternyata mereka egoisnya sehari doang, gak asik," timpal Melon. "Tapi kayaknya baikan deh, soalnya ekspresi Kak Thony kalau udah buka puasa gitu tuh, sumringah."
"What? Kuat gak tuh si Nanas, di bobol? Kalau dia mau estafet sih gue mau-mau aja," ujar Terasi yang mendapat geplakan dari Melon.
"Sembarangan, nikah aja belum lo!" Melon kini beralih menginjak kaki Terasi kesal.
"Ih apaan sih kan gue juga mau cobain tapi nanti deh pas aku nikah sama Kak Mangga, eh maksudku Zac Efron," jawab Terasi cengengesan.
__ADS_1
"Ih minggir, mulut lo, bau Kaos kaki basah masa," ujar Melon belaga menutup hidungnya.
"Yah bully! Bully aja aku terus! Lelah hayati!" teriak Terasi kesal.
"Gak kok bercanda gue, bau mulut Lo kayak sabun Harmoni masa," jawab Melon menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Diem woi!" teriak Salak kesal.
"Lo mantan! gak usah ngegas juga kali!" teriak Melon tidak terima.
"Kalian berdua sama-sama ngegas!" teriak Mangga yang membuat Nanas yang tak jauh dari sana mengetahui keberadaan mereka
Nanas kemudian berjalan menuju semak-semak tempat persembunyian mereka berempat yang membuat mereka gelagapan.
"Ngapain kalian disitu?" tanya Nanas memainkan alisnya.
"Eh itu si Om Salak, lagi nyari kodok buat di gadoin katanya," jawab Melon gelagapan.
"Mampus kan ketahuan nama saya di jual, gitu aja teros, sampai bebek ngelahirin ayam," ujar Salak kesal.
"Mohon bersabar ini ujian tapi lo kalau kesel gini tampan loh sumpah," ujar Melon menimpali.
"Ah masa?" tanya Salak sumringah.
"Iya kalau di lihat dari Server televisi rusak," jawab Melon cengengesan.
•
•
TBC
__ADS_1
Betewe TBC itu To Be Continue! Bukan penyakit ges wkwkwkw.