
Happy Reading!
•
•
"Jadi kalau Om gak suka? Om mau apa?" tanya Nanas berusaha menantang Anthony.
"Kalau kamu deket-deket sama Faredian, saya bakal talak kamu," ancam Anthony melepaskan tangannya dari Nanas.
"Oh gitu? Jangan salahkan, aku, kalau pergi ninggalin Om," jawab Nanas yang membuat Anthony kesal.
Anthony menyambar jaketnya dan mengambil kunci mobil kemudian membanting pintu saat keluar rumah meninggalkan Nanas dirumah itu dan pergi dalam keadaan kesal.
"Om! Om kenapa sih? Aku tanya kesalahan aku apa, Om gamau jawab! Capek aku Om!" teriak Nanas yang membuat Anthony berhenti sejenak kemudian melanjutkan langkahnya masuk kedalam mobil.
Nanas hanya menatap kepergian suaminya dengan perasaan yang kesal.
•
•
Malam menyambut Nanas, terdiam melamun, berbagai pesan chat dari Terasi dan Melon tidak ya buka karena hati nya terus saja Khawatir kepada Anthony.
Sedangkan Anthony belum pulang sedari tadi hal itu benar-benar membuat Nanas khawatir pasalnya tadi Anthony pergi dengan keadaan kesal.
Di saat Nanas larut dalam lamunannya tiba-tiba terdengar suara ketukan yang lebih ke arah gedoran dari pintu rumahnya, Nanas segera beranjak menuju pintu untuk membukanya.
"Buka!" teriak Anthony yang kini telah berjalan sempoyongan.
Nanas ya mengenali suara itu segera membukakan pintu dan betapa kagetnya dia mendapati Anthony kini tengah berdiri dalam kondisi mabuk.
Nanas, kali ini tidak mau bertanya lebih dalam lagi tentang apa yang terjadi walaupun dia sadar bahwa isi dalam hatinya terus berbisik untuk menampar saja suaminya itu tapi rasa cintanya seolah sudah menutupi perasaan kesalnya.
Nanas kemudian menutup pintu rumah dan membawa Anthony ke kamar, setelah menidurkan Anthony di ranjang, Nanas hendak keluar dari kamar namun tangannya kini di tarik kencang oleh Anthony sehingga ia terhuyung jatuh ke pelukan suaminya itu.
"Om, Lepas," pinta Nanas pada Anthony.
Bukannya dilepas Anthony malah makin mempererat pelukannya dan membuat Nanas semakin terjerat.
"Jangan tinggalin aku, Nas," racau Anthony. "Tadi kamu mau ninggalin aku, aku cinta sama kamu,"
__ADS_1
Perlahan Anthony menangis dan merengek seperti seorang anak yang takut ditinggal ibunya. Nanas yang melihat itu terkejut.
"Om? Om sadar," Nanas menepuk pipi Anthony sekilas namun tidak berhasil.
"Jangan tinggalin aku! Aku takut kehilangan kamu, aku sudah hampir gila tidak berbicara denganmu seharian ini, aku rindu sama kamu," Anthony memeluk erat Nanas. "Biarkan aku begini, sekali saja."
"Aku bodoh, aku bodoh, aku bodoh, jangan tinggalin aku,"
"Iya, gak bakal," jawab Nanas yang membuat Anthony mempererat pelukannya.
Entah ini tulus atau bagaimana yang pasti Nanas bingung soalnya Anthony kini dalam pengaruh minuman beralkohol.
"Jangan tinggalin aku," ujar Anthony yang perlahan memudar berganti kepada suara dengkurannya yang halus.
Nanas tidak bisa berbuat apa-apa saat itu melainkan hanya diam dan perlahan tertidur di pelukan suaminya sembari menunggu esok kan datang.
•
•
Anthony membuka matanya perlahan setelah cahaya matahari pagi masuk melalui cela jendela dan membuat Anthony merenggangkan sedikit badannya serta mengerjaplan matanya namun betapa terkejutnya ia mendapati sosok istrinya kini memeluknya erat.
"Bangun!" teriak Anthony yang membuat Nanas terbangun dari mimpinya.
"Nih orang belum tua-tua amat, udah pikun, kan semalam dia yang meluk gue," batin Nanas menatap malas ke arah suaminya.
"Ya sudah sana kamu mandi!" perintah Anthony yang membuat Nanas beranjak ke kamar mandi untuk segera bersiap.
Sementara Nanas masih terdiam dalam pikirannya sendiri tentang apa yang terjadi padanya semalam dan kali ini dia benar-benar menyesal karena telah menghancurkan janjinya sendiri untuk tidak menyentuh minuman beralkohol lagi.
"Arghh!" kesal Anthony memukul tembok dan berjalan ke arah kamar mandi yang sudah kosong.
Setelah semuanya siap Anthony dan Nanas segera keluar rumah, Anthony tampak rapi dengan koas turtle bed dengan jaket simple, sementara Nanas yang kali ini tampil lebih feminim hanya memakai bando pink serta rambut coklat yang di urai kebawah.
Anthony kemudian masuk kedalam mobilnya di susul oleh Nanas, namun baru saja Nanas ingin naik terlihat mobil itu bergerak meninggalkan Nanas yang belum naik ke atas mobil tersebut.
"Om kenapa sih? Sentimen banget dan sensitif lagi," gerutu Nanas dalam hati.
Nanas kemudian segera melangkahkan kakinya keluar dari area halaman rumah sebelum ia di kagetkan oleh motor Faredian yang sudah ada di depannya.
"Kak Faredian?" gumam Nanas menatap sosok berjaket kulit hitam serta lengkap dengan pakaian kemeja hitam senada.
__ADS_1
"Asik pucuk di cinta, kak Duku pun tiba," batin Nanas.
Nanas berjalan menghampiri Faredian dan tersenyum manis pada mantan pacarnya dulu itu.
"Kak Faredian, mau kemana?" tanya Nanas pada Faredian.
"Eh tumben nanya, emang ada apa?" jawab Faredian bertanya balik.
"Yah gak apa-apa emang Kakak mau kemana sih?" tanya Nanas masih dalam posisi tegak dan tersenyum manis.
"Mau ke pelaminan, kamu mau ikut sekalian kamu jadi pasangannya," jawab Faredian dengan nada bercanda
"Ih pede kocak, Kak Faredian mau kerja yah? Anterin aku ke kampus, bisa gak?" ucap Nanas memohon.
"Eh emang suami kamu dimana?" tanya Faredian memiringkan senyumnya.
"Gak usah bahas dia, mungkin lagi datang bulan, aku bingung sama siklus hidupnya Om Thony," jawab Nanas yang kini wajahnya berubah masam.
"Siklus? Emang datang bulan pake siklus," ujar Faredian mengacak rambut Nanas.
"Mentang-mentang dokter lo!" batin Nanas.
"Ih jangan di acak-acak, gimana nih kak mau kan anterin aku," protes Nanas menyingkirkan tangan Faredian dari kepalanya.
"Emang aku tukang ojek apa? Tapi gak apa-apa deh demi kamu aku rela kok jadi tukang ojek," jawab Faredian tersenyum genit.
"Yaudah nyerah aja, jadi apapun aku siap, jadi suami kamu aja aku siap," tambah Faredian tersenyum simpul yang membuat Nanas kesal.
"Mimpi aja teros!" teriak Nanas beranjak naik ke atas motor.
•
•
TBC
Enak jadi Tim Faredian atau Tim Anthony, Kalau Author sih Tim Anthony :)
Maaf yah Up cuma Satu BAB kalau sempet Malam ini Author up lagi tapi kalau gak besok Author Crazy up, jangan lupa like yah kakak :)
__ADS_1