Duda Salah Kamar

Duda Salah Kamar
BAB 36 | Drama Hekter


__ADS_3

Happy Reading!




"Ibu Kantin! Pinjam hekter dong," pinta Terasi pada penjaga kantin yang usianya sudah terlihat sudah tua.


"Hekter itu apa nak?" tanya Bu Kantin yang tidak tau.


"Nah itu Hekter, yang ibu pegang, pinjam dong Bu," jawab Terasi menyodorkan tangannya hendak menerima benda tersebut.


"Oalah nak ini toh namanya Stepler kenapa jadi Hekter," protes ibu Kantin tersebut yang membuat Terasi menatapnya malas.


"Tapi Bu ini tuh namanya Hekter bukan Stepler," jawab Terasi tak mau kalah.


"Nak ya Allah berapa kali ibu harus jelaskan, ini tuh Stepler bukan Hekter," jelas ibu itu sekali lagi


Sementara itu, dari kejauhan, sang Ketua BEM, Lengkuas yang melihat obrolan seru di antara Terasi dan ibu Kantin pun segera berjalan menghampiri keduanya dan dengan wajah polos tanpa dosa ia mulai bergabung dalam obrolan unfaedah tersebut.


"Pada ngerebutin apa sih? Oh jegrekan," timpal Lengkuas yang di sambut tatapan malas dari Terasi dan Ibu Kantin.


"Eh tapi di kampung gue ini namanya Pegokot loh," tambah Siomay seorang anggota organisasi kampus yang baru saja tiba di kantin untuk membeli air minum.


"Eh elah, May, ini tuh Hekter," ujar Terasi berusaha menjelaskan.



Sementara itu Nanas yang baru saja sampai diantar oleh Faredian, segera melepas helm yang dia pakai dan memberikannya kembali kepada Faredian.


"Last! Makasih yah kak udah nganterin aku, lain kali aku ga bakal minta tolong terus," ujar Nanas merapihkan rambutnya.


"Kenapa?" tanya Faredian.


"Suamiku posesif, aku gak mau aja hubunganku makin renggang," jawab Nanas.


"Bukankah itu yang kuinginkan?" batin Faredian menatap Nanas.


"Kakak, paham kan?" tambah Nanas yang membuat Faredian mengangguk.


"Kalau gitu kakak pergi dulu yah, kamu semangat kuliahnya," jawab Faredian disambut tanda jempol dari Nanas.


Setelah kepergian Faredian, Nanas berjalan memasuki area kampusnya dan tujuan utama nya adalah kantin, namun baru saja ia melangkahkan kakinya kedalam kantin matanya sudah tertarik oleh pembahasan di antara Terasi, Siomay, Lengkuas dan Bu Kantin.

__ADS_1


Nanas kemudian berjalan dengan langkah cepat menuju ke empatnya yang terlihat sedang berdebat kecil.


"Stop!!! Lagi pada debatin apa sih?" tanya Nanas yang mengambil benda yang sedang diperdebatkan sedari tadi.


"Oh ini kan Cekrekan kenapa dengan cekrekan ini, apakah dia bersalah?" tambah Nanas mendramatisir yang kini membuat empat orang tersebut terdiam.


"Tersereh, daun salam dan kunyit, sereh!" teriak Terasi meninggalkan area kantin tersebut di susul oleh Lengkuas dan Siomay yang berjalan menuju kelasnya.


"Dih, gue kan cuma ngejawab," ujar Nanas menaikkan alisnya lalu kembali menaruh benda tersebut.


Nanas kemudian berjalan menyusul Terasi karena sebentar lagi kelas mereka dimulai, Terasi mengambil posisi duduk di kursi nya sementara Nanas yang kursinya bersebelahan dengan Terasi ikut duduk disana.


"Hari ini ada Presentasi mata kuliah Bu Jengkol, lo udah siap?" tanya Terasi pada Nanas.


"Udah dong, Judulnya itu-" Belum sempat Nanas menyelesaikan kalimatnya Terasi kemudian segera menghentikannya.


"Gausah dijawab gue bisa tebak, pasti jawabannya aneh-aneh," ujar Terasi yang membuat Nanas diam.


Tak lama kemudian Bu Jengkol yang akan mengajar memasuki ruangan kelas dan membuat semua Mahasiswa dan Mahasiswi disana mengambil posisi siap


Kelas kemudian dimulai, dan seperti biasa Nanas hanya duduk, mengangguk dan tidak paham sama sekali apa yang dijelasin dosennya


Terkadang Nanas berpikir setelah kelas selesai bahwa. "Segitu bodohnya, kah gue?"


"Saya Bu?"


"Iya, emangnya siapa lagi Nanas yang ada disini?"


Nanas hanya menyengir kecil kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Nanas segera maju ke depan dan mulai mempresentasikan hasil karyanya.


"Ah banget, gue benci sesi ini," batin Nanas.


Nanas kemudian mulai mempresentasikan apa yang dia susun dalam Materi berjudul "Ada yang tegak tapi bukan keadilan" sangat ambigu bahkan beberapa mahasiswa disana hanya menyengir mendengar apa yang akan dibacakan Nanas.


"Maka dari itu, Keadilan di negara kita tidak benar adil, bahkan sogok menyogok populasinya lebih tegak dari keadilan yang berlaku, padahal semua orang lupa, bahwa disetiap harta kita ada hak-haknya, Hak anak yatim. Hak fakir miskin, dan Hak Janda, nah malah nyambung ke agama gue kan, jadi intinya itu kasus suap dinegara kita yang lebih tegak sangat mempengaruhi keadilan yang berlaku," Epilog Nanas menyelesaikan persentasenya.


Bu Jengkol yang mendengar presentasi Nanas hanya mengangguk-anggukkan kepalanya Kemudian membuka sesi tanya jawab.


"Kenapa kasus suap masih saja belum tercium dipihak yang hukum, bahkan terciumnya setelah bertahun lamanya," tanya Chinno salah satu teman Nanas yang bernama lengkap CappuChinno Paradhiba itu.


"Pertanyaannya rumit banget sih? Lo bisa nanya yang lain kagak?"


"Gak,"

__ADS_1


"Yaudah gue jawab yah, gak bisa kecium bisa jadi pihak hukumnya positif covid atau gak, pake masker dia, jadi gak kecium, protes? Hantam." jawab Nanas.


"Menurut lo, hal yang mempengaruhi tindakan suap menyuap itu apa?" tanya Chinno kembali.


"Romantis mungkin, suap-suapan coklat aja uwu, apalagi dana bansos, blt dan bantuan pemerintah," jawab Nanas.


"Menurut lo, kenapa itu bisa terjadi,"


"Itu takdir,"


"Menurut lo, untuk menanggulangi tentang 'suap' ini kayak gimana," tanya Chinno lagi.


"Bocah akhlakless, pertanyaan satu, tapi bercabang," batin Nanas kesal.


"Gue tanya balik nih, kenapa tangan kita punya ibu jari, Tapi gak punya ayah jari? Yang jawab karena ibu jarinya janda gue gampar," tanya Nanas menatap semuanya.


"Gatau," jawab Chinno.


"Nah tepat sekali, itu jawabannya," jawab Nanas. "Udah yah untuk pertanyaan lebih lanjut, bisa menghubungi 911,"


Nanas kemudian kembali ke kursinya setelah presentasinya selesai dan semuanya hanya menatap cengo Nanas yang sudah duduk di bangkunya.




Nanas berdiri menunggu taksi kembali sama seperti semalam dia hanya pulang sendiri karena Terasi ada tugas tambahan, Nanas tidak menelepon Anthony karena tadi pagi Anthony saja meninggalkannya begitu saja.


Namun belum lama Nanas menunggu sosok Faredian sudah ada di depannya dan mengodenya untuk naik.


"Tapi, aku naik taksi aja," jawab Nanas menolak Faredian.


"Naik aja, gapapa," ujar Faredian membuat Nanas ragu walau pada akhirnya Nanas segera naik keatas sana.


Sementara itu Nanas tidak menyadari bahwa jauh disana terlihat Anthony yang memandangnya kesal, karena hari ini dia sudah bertekad untuk meminta maaf duluan dan menjemput Nanas namun seketika dia kembali kesal melihat Faredian bersama Nanas.




TBC


Imut si Nanas tuh

__ADS_1



__ADS_2