Duda Salah Kamar

Duda Salah Kamar
Xtra Part 03 | Berkolaborasi Bang


__ADS_3

Aran terduduk dengan pipi dikempot, ia baru saja menyelesaikan tugas membuat Video yang membuat batinnya benar-benar tertekan.


Aran terduduk memangku dagu dengan kedua tangannya sembari menatap Aren dan Nanas yang tengah menyantap makan siang mereka.


Nanas dan Aren saling melempar pandangan sedetik saat Aran mulai melempar tatapan kepada Bunda dan abangnya.


"Kamu kenapa de?" tanya Nanas mengambil piring Aran dan mulai mengisinya dengan nasi.


"Masih tertekan batinku, aku kehilangan selera makanku," jawab Aran mendesah malas yang membuat Aren seketika tertawa.


Kling!


"Aw!"


Aren mendesah tertahan karena kesakitan akibat sendok yang ada ditangan Aran sudah melayang indah di kepala Aren.


"Kamu kasar banget dedek!" kesal Aren mulai kembali memakan makanannya.


"Bodo amat!" jawab Aren mengambil piring makannya yang sudah diletakkan Nanas didepannya.


"Anak Bunda jangan cemberut gitu dong, muka jeleknya mana?" ujar Nanas menghibur Aran.


Namun bukannya terhibur, Aran malah mendorong piring makannya dan menggebrak meja karena kesal, Nanas dan Aren tersentak menatap wajah kesal Aran yang sulit di deskripsikan, Aran memberikan tatapan elang yang membuat Nanas dan Aren memalingkan wajah ke samping demi menghindari kontak mata dengan Aran.


"Emang yah! Cuma Papa yang ngertiin Aran. Bunda sama Abang sama aja, gak pernah ngertiin Aran!" sentak Aran turun dari kursi dan berjalan masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


Bledug!


Kini wajah Aran sedang memadu kasih dan berciuman dengan lantai alias nyungsep akibat tersandung kaki meja, Aren dan Nanas yang melihat itu sontak hendak tertawa namun menahan tawa mereka melihat apa yang menimpa Aran.


"Terjungkal Bund," bisik Aren pada Nanas.


"Gausah tolongin Aran! Aran wanita mandiri soalnya, eh bukan, Aran BRI soalnya rekening Papa itu di Bank BRI bukan Bank Mandiri, jangan tolongin Aran! Aran gak perlu di tolong," ujar Aran berdiri dan berjalan masuk kedalam kamarnya.


Aren dan Nanas saling melempar pandangan, kemudian kembali membuang muka menghela napas panjang atas kejadian siang ini yang dilakukan oleh Aran.


"Adek kamu tuh Ren," ujar Nanas menyuap makanannya.


"Ih mana ada! Anak Bunda tuh," jawab Aren menolak segala presepsi yang diucapkan Bundanya kepada dirinya.


Mereka berdua kemudian kembali melanjutkan makan siang mereka, dengan tenang dan tanpa gangguan, melupakan sejenak apa yang terjadi pada Aran, setelah selesai makan siang, Aren memilih untuk menengok adiknya itu sementara Nanas membereskan meja.


Aren berjalan dengan langkah kecilnya menuju kamar dimana sudah ada Aran didalam sana yang sangat frustrasi seolah-olah dia sangat depresi.


"Gaada yang sayang sama Aran lagi, lebih baik Aran pergi dari rumah. Memulai kehidupan baru, terus cari sugar daddy," ujar Aran berbicara sendiri yang membuat Aren menahan tawa dibalik pintu mendengarkan keluh kesah adiknya.


"Tertekan gak tuh?" pikir Aren menahan tawanya.


"Aran sudah jadi anak terbuang, Aran tidak akan mendapatkan harta warisan lagi, karena Papa dan Bunda pernah bilang mau punya anak sepuluh, nanti Aran gak kebagian harta warisan, lebih baik Aran pergi dan mencari Om-Om." lanjut Aran mengacak rambutnya yang dikuncir dua.


"Astagfirullah, kuatkan imanku," batin Aren yang sudah tidak kuat mendengarkan keluh kesah adiknya.

__ADS_1


"One day! Aran akan menjadi wanita Mandiri eh BRI, agar Aran bisa punya harta warisan sendiri, soalnya sekarang Aran sudah jadi Crazy Rich bank Monopoli," lanjut Aran kembali


"Kasian padahal masih muda," gumam Aren yang ikut frustrasi melihat adiknya.


Aren terduduk lemas dibalik pintu, ia sudah tidak bisa mendekripsikan segala kebengekan yang dilakukan adiknya itu. Selang beberapa menit tidak adalagi suara yang terdengar dibalik pintu tersebut membuat Aren langsung membalikkan badannya dan mendapati pintu sudah terbuka dengan Aran yang berdiri diambang pintu.


Deg!


"Eh!" kaget Aren memegang dadanya sehingga suasana hening kembali tercipta diantara kedua saudara kembar berbeda kelamin ini.


Brutt!


"Eh!" kaget Aren lagi karena tidak sengaja membuang angin disaat suasana seperti ini. "Keceplosan dek,"


Aren menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat Aran tidak bergeming dari posisinya berdiri saat itu.


Bruttt!


"Eh!" kaget Aren kembali karena yang kali ini membuang angin adalah Aran.


"Berkolaborasi bang," jawab Aran yang membuat keduanya bengek seketika. "Terkentut-kentut,"



TBC.

__ADS_1


Mau Visual Aran dan Aren gak?


__ADS_2