Duda Salah Kamar

Duda Salah Kamar
BAB 84 | Tragedi Lampu Merah


__ADS_3

Setelah mendapat telepon dari Terasi dan Melon. Nanas dan Anthony segera mandi dan membersihkan tubuh mereka sebelum bergegas menuju lokasi Melon dan Terasi berada.


"Mereka ini melahirkan barengan?" tanya Anthony menyalakan mesin mobilnya.


Sebelumnya Aran dan Aren harus kembali dititipkan kepada Mama Nanas yang seperti biasa memiliki kekuatan flashlight yang bisa datang dalam waktu lima menit.


"Pecah perawan mereka barengan, Hamilpun barengan, kalau lahiran barengan gak heran lagi, tapi ini loh pertanyaannya ngapain mereka di lampu merah," jawab Nanas yang mulai setres dengan tingkah laku kedua sahabatnya.


Anthony segera menancap gas ke lokasi yang diberikan oleh Melon, didalam perjalanan Nanas sudah berusaha menelpon Melon lagi namun tidak ada jawaban, begitupun dengan Terasi, Dave dan Mangga yang tidak terhubung.


"Mereka pada ngapain sih?" kesal Nanas menaruh ponselnya di dashboard.


"Sabar, sayang," Anthony kembali fokus menyetir menuju lokasi yang tidak jauh dari rumah mereka.


Anthony membelokkan mobilnya ke kanan pada sebuah perempatan dan tak jauh dari sana bisa dilihat kerumunan orang-orang yang membuat Nanas khawatir.


Anthony memarkirkan mobilnya dipinggir jalan dan turun dari mobil bersama dengan Nanas, mereka berdua berlari menuju kerumunan tersebut dan mendapati Melon bersama Terasi sedang melakukan photoshot.


"Halo Bestie!" teriak Melon saat melihat kedatangan Nanas.


Melon kembali berpose bersama Terasi saat photographer tersebut mulai mengambil gambar untuk mereka berdua.


"Katanya kalian mau lahiran?" tanya Nanas menodong kedua sahabatnya dengan tangannya.


"Emang mau, ini udah pecah ketuban, tapi photoshot dulu biar estetik," jawab Melon disambut anggukan dari Terasi.

__ADS_1


"Tapi kenapa di lampu merah?" tanya Nanas pada mereka berdua.


"Konsepnya road-road kemacetan, membuat kemacetan karena wanita selalu benar, yang kena macet itu bisa apa," jawab Melon.


Sontak hal tersebut membuat Nanas mengangkat kedua bahunya, kenapa sahabat-sahabatnya tidak ada yang normal sedikitpun, bahkan dalam kondisi seperti ini mereka masih sempet melakukan ini.


Nanas mengedarkan pandangannya dan melihat Mangga serta Dave terduduk frustrasi ditrotoar melihat aksi istri mereka.


"Kasian bayiku," gumam Mangga dan Dave bersamaan.


Melihat itu Nanas dan Anthony tidak tahu harus tertawa atau iba kepada kedua pria berstatus suami itu, tak lama kemudian sesi photoshot Melon dan Terasi sudah selesai.


"Ah! Sakit! Anaknya udah ngeberontak," teriak Melon yang membuat Dave bangkit kemudian membopong tubuh istrinya masuk kedalam mobil.


"Kak Mangga! Sakit!" teriak Terasi juga, Mangga berdiri dan menghampiri Terasi dengan tatapan cengo.


Mangga segera menggendong Terasi dan membawanya juga masuk ke mobil, mereka berdua kini dengan mobil yang berbeda segera membawa istri masing-masing ke rumah sakit "Muara Kasih Buaya"


Anthony dan Nanas juga segera masuk kedalam mobil mereka dan menyusul Mangga serta Dave yang sudah cukup jauh dihadapan mereka.


Karena rumah sakit tersebut cukup dekat, tak butuh waktu lama untuk Anthony bisa memarkirkan mobilnya di halaman rumah sakit dan masuk kedalam sana bersama Nanas.


"Gimana?" tanya Anthony pada Dave dan Mangga.


"Lagi ditanganin," jawab Dave gugup dan berusaha berpikir positif.

__ADS_1


Nanas yang melihat kecemasan para suami itu, hanya melenggang masuk kedalam ruangan bersalin itu dan membuat Terasi serta Melon sumringah.


"Assalamualaikum, Gak jawab kafir, Halo Bestaik!" teriak Nanas mendatangi Melon dan Terasi guna memberinya semangat. "Semangat guys! Ayo dorong terus kepala bayinya udah dipintu itu.


Melon dan Terasi berusaha mengejan sebisa mungkin sampai suara tangisan bayi dari keduanya terdengar yang membuat Anthony, Dave dan Mangga membubar masuk kedalam ruangan tersebut.


"Anaknya sudah lahir," ujar dokter tersebut yang memerintahkan membawa anak Melon dan Terasi untuk dibersihkan.


Dave dan Mangga sontak bernapas lega kemudian mendatangi istri masing-masing untuk mencium puncak kepala istrinya karena sudah mengubah status mereka menjadi seorang ayah.


"Keren cuy! Rasanya kek gue bebas lagi, ngulang boleh gak?" ujar Melon mengusap keringat yang ada di keningnya.


Suster yang tadi membawa bayi Melon dan Terasi segera memberikannya kepada ibu masing-masing untuk disusui.


"Nama anaknya siapa?" tanya Nanas pada Dave dan Mangga.


Mangga dan Dave saling melempar tatapan dengan istri masing-masing dari mereka karena anak mereka berdua berjenis kelamin perempuan.


"Nama anak aku dan Melon itu, Lemonia Dhikejar Skripsi," jawab Dave yang membuat Anthony dan Nanas tercengang.


Buset gaada estetik-estetikanya, batin Nanas dalam hati.


"Kalau anak aku dan Terasi itu, Wortelia Vitamina Mangganang," lanjut Mangga yang membuat Nanas dan Anthony lebih tercengang lagi.


Nanas dan Anthony hanya saling bertatapan dab mengulas napas panjang, setidaknya mereka bisa merasakan kebahagiaan yang dirasakan sahabat mereka karena statusnya sebagai orang tua.

__ADS_1



TBC


__ADS_2