
Happy Reading Kakak!
•
•
•
Hari ini adalah hari keberangkatan Nanas dan Anthony ke Cappadocia untuk menjalani Honeymoon, Nanas dan Anthony sudah mempersiapkan barang-barang mereka untuk tiga hari yang berkesan disana.
"Tidak yang ketinggalan lagi?" tanya Anthony pada Nanas.
Nanas mengangguk. "Gak ada, Om."
"Oke, masuk." ujar Anthony melirik mobil dan masuk kedalam disusul oleh Nanas.
Disaat Anthony ingin menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumahnya, tampak dua makhluk yang sangat tidak diharapkan Anthony menghadang dengan membawa koper mereka.
"Stop!" teriak Melon menghadang Anthony.
Anthony menghentikan mobilnya dengan wajah kebingungan, Melon dan Terasi kemudian segera membuka bagasi mobil dan memasukkan koper mereka kemudian duduk di job belakang.
"Jalan." perintah Melon yang membuat Anthony bertambah bingung.
"Kalian mau ngapain?" tanya Anthony pada Melon dan Terasi.
"Mau ikut." jawab Melon. "Kami udah pesan tiket pesawat yang sama dengan Kak Thony."
"Ga boleh." jawab Anthony yang membuat Melon dan Terasi cemberut.
"Ayolah Kak, masa kakak tega gak biarin kami ikut. Kita bertiga kan Squad Rujak Gemesh, jadi kalau ada yang pergi semuanya harus ikut." pinta Melon. "Kami gak akan ngerepotin sumpah."
Anthony menghela napas panjang kemudian melirik Nanas yang mengangguk tanda setuju, akhirnya Anthony menyerah dan membiarkan kedua bahan dapur berjalan itu ikut serta dalam bulan madunya.
"Bocah Akhlakless, biadab!" kesal Anthony dalam hati.
Anthony kemudian menjalankan mobilnya menuju bandara, pasalnya beberapa menit lagi pesawat yang akan membawa mereka dari indonesia ke Turki akan berangkat.
Tak butuh waktu lama bagi Anthony membawa mobilnya sampai ke bandara, sebelum naik ke pesawat Anthony terlebih dahulu menitipkan mobilnya kepada temannya Mangga, karena tidak mungkin dia membawa serta mobilnya ke Turki.
"Salam kenal, saya Mangga, Aditya Mangganang," ucap Mangga menyalami Melon, Nanas, Terasi bergantian.
Saat Mangga menyalami Terasi tampak getaran berbeda yang dirasakan Terasi, walaupun Mangga baru berusia dua puluh delapan tahun, tapi aura kedewasaannya membuat Terasi terpesona.
"T-Terasi." jawab Terasi saat Mangga menyalaminya.
Mangga tersenyum yang membuat Terask salah tingkah dibuatnya. Terasi buru-buru melepaskan tangan nya saat Mangga berdehem yang membuat pipi Terasi memerah.
Setelahnya, Anthony, Nanas, Melon dan Terasi bersiap untuk naik ke pesawat sebelum melakukan penerbangan, sebelumnya barang bawaan mereka juga sudah disimpan di cargo.
"Pokoknya setelah balik dari Cappadocia, gue harus kepoin Kak Mangga," batin Terasi menatap Mangga yang masih berdiri menatap kepergian mereka.
•
•
Setelah tiga jam penerbangan akhirnya Anthony, Nanas, Melon dan Terasi tiba juga di bandara Turki, dengan menaiki mobil yang sudah disewa sebelumnya oleh Anthony, mereka berempat menuju ke daerah Cappadocia dimana disekitar situ hotel yang mereka booking.
Cukup lama diperjalanan membuat Melon dan Terasi tepar, apalagi keadaan sudah malam, sesampainya dihotel, Melon dan Terasi langsung terbaring di kamar mereka sendiri yang membuat Nanas tertawa geli melihat sahabatnya.
"Akhirnya mereka tidur, jadi gak ada yang gangguin kita lagi," ujar Anthony menggandeng tangan Nanas keluar dari hotel.
Setelah berhasil terbebas dari Melon dan Terasi yang menghancurkan bulan madunya, Nanas dan Anthony memilih berjalan keluar dari hotel. Mencari makanan disekitar hotel tempat mereka menginap.
Suasana malam di Cappadocia menjadi sangat indah, walaupun Anthony dan Nanas belum menyempatkan diri untuk menikmati balon udara ditempat itu, tapi setidaknya mereka bisa menikmati malam yang panjang berdua.
"Nas? Kamu mau makan apa? Kita cari restoran dekat-dekat sini aja yuk, aku lapar." rengek Anthony yang memang sudah menahan lapar nya sedari tadi.
"Kita ke restoran yang disana aja yuk, Om! Kayak disana banyak makanan khas sini, aku jadi ngidam." jawab Nanas menunjuk sebuah restaurant yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
__ADS_1
"Baby A yang ngidam, atau kamu yang mau?" tanya Anthony melirik Nanas.
Nanas terdiam menelan ludahnya. "Baby A kok."
"Yasudah," Anthony berjalan ke arah restaurant itu sementara Nanas hanya diam memikirkan ucapannya tadi.
Lama Nanas dalam diamnya, Nanas kemudian menggoyangkan bahunya ke kanan dan ke kiri. "Maafin Bunda yah Baby A, semoga malaikat gak nyatat dosa Bunda fitnah kamu."
Nanas masih terdiam sebelum Anthony berteriak memanggilnya karena jarak mereka yang lumayan cukup jauh, Nanas segera menyusul Anthony memasuki restaurant tersebut.
Sebuah restaurant yang cukup bagus, dengan banyak pengunjung serta berbagai macam makanan khas turki, Nanas dan Anthony berjalan memasuki restaurant tersebut namun belum sempat mereka memilih meja, Nanas sudah heboh sendiri saat matanya menangkap sosok yang sangat ia kenali.
"Arr!" teriak Nanas menghampiri seorang gadis yang hampir seusia dengannya.
"Nanas?" jawab Aarin membulatkan mata sempurna kemudian berlari juga ke arah Nanas sehingga kini mereka saling berpelukan.
Kedua teman lama tersebut saling melepas rindu, semenjak memasuki bangku perkuliahan Nanas dan Aarin tidak pernah bertemu lagi, padahal dulu mereka ada teman di sekolah menengah atas.
Disaat sedang asik melepas rindu, Anthony dan pria yang bersama Aarin menghampiri kedua teman itu dan berdehem pelan untuk menyadarkan mereka.
"Eh, Om Thon, kenalin ini temen aku, Aarin." ujar Nanas memperkenalkan Aarin pada Anthony.
Gadis berusia dua puluh dua tahun itu bernama lengkap Humairah Airin Ashab Lemos. Dia adalah teman Nanas di bangku sma dahulu, sifat mereka yang sama-sama gesrek dan mesum, membuat keduanya tidak terpisahkan, namun siapa sangka mereka bertemu lagi, ditempat seperti Cappadocia.
"Eh, Panggil Ar, aja Om, Om nya Nanas yah?" tanya Aarin pada Anthony yang membuat Anthony merubah ekspresinya datar.
Nanas yang melihat itu mati-matian menahan tawa atas pertanyaan Aarin.
"Saya Anthony, Saya suaminya." jawab Anthony se formal mungkin kemudian melepaskan jabatan tangan itu.
"M-Maaf Om, aku kira Om-nya." kekeh Aarin cengengesan. "Oh iya, Nas, Om, Kenalin ini Brayen, suami aku."
Brayen tersenyum, Pria berusia sama dengan Aarin itu menyalami Nanas dan Anthony bergantian. "Panggil aja, Bray."
Nanas menjabat tangan Brayen kemudian tersenyum padanya yang membuat jiwa posesif Anthony bangkit.
"Tenang, gimana kalau tukaran suami aja?" bisik Aarin pada Nanas.
"Enak aja, walaupun bentukannya begitu, aku sayang sama Om Thony." jawab Nanas pada Aarin. "Omg! Aku gak nyangka banget lo. Kita bisa ketemu disini, bareng suami masing-masing lagi."
"Sama, aku juga gak nyangka. Betewe kalian mau makan juga? Barengan sama kami aja yok, sekalian temu kangen." jawab Aarin. "Bolehkan Bray?"
Brayen yang diajukan pertanyaan oleh Aarin hanya mengangguk setuju. "Gapapa Ar."
Akhirnya mereka berempat memilih memesan meja di sudut restaurant itu, tentunya dengan banyak celotehan dari Nanas dan Aarin yang membahas banyak hal aneh yang membuat suami mereka menautkan alis mendengarnya.
"Kamu mau pesen apa?" tanya Nanas menatap buku menu.
"Aku ngikut aja deh, kan kita lama gak ketemu, aku pengen coba makanan pesanan kamu." jawab Aarin pada Nanas.
"Gak boleh gitu dong, kamu aja yang pesan." tolak Nanas.
"Kamu aja beb." jawab Aarin yang menimbulkan adegan saling mendorong buku menu.
Anthony dan Brayen yang melihat itu hanya menatap mereka cengo tanpa suara, pasalnya yang sedang merasa kelaparan disini adalah kedua suami ini, sedangkan istri mereka hanya bertugas menemani.
"Gimana kalau kami aja, yang pesan?" tawar Brayen disambut anggukan Anthony.
"Diam!" jawab Nanas dan Aarin bersamaan.
Anthony dan Brayen hanya bisa diam, kalau sudah begini mereka tidak bisa melakukan apapun, selain menikmati drama saling mendorong buku menu antara istri mereka.
Setelah hampir setengah jam saling mendorong, akhirnya Nanas dan Aarin sepakat memesan "Baklava Roti" semacam nastar gandum yang diberi topping kacang pistachio dan susu kental manis.
Mendengar keputusan final istrinya, Anthony dan Brayen akhirnya bisa bernapas lega, setelah setengah jam menunggu akhirnya mereka bisa memesan juga.
Sembari menunggu pesanan ada saja, Obrolan yang terjadi antara Nanas dan Aarin, baik secara formalitas bahkan yang berbau kemesuman mereka berdua.
__ADS_1
"Kamu mau tahu gak? Suamiku si Bray, kalau main bisa dua ronde, pakai gaya berbeda lagi," sombong Aarin menceritakan tentang Brayen kepada Nanas.
"Suami aku lebih oke lagi, dia Duda, kami ketemu karena salah kamar, sekali main, langsung hamil, dan yang paling penting dia tahan lima jam, lima menit kalau main." jawab Nanas.
"Serius?" tanya Aarin tidak percaya.
"Iya, lima jam nyari lobang, mainnya lima menit." jawab Nanas yang sontak membuat Aarin tertawa.
Sedangkan Brayen hanya berusaha menahan tawa atas candaan Nanas dan Anthony hanya bisa diam dengan rahang terbuka lebar.
"Kamu tahu gak? Brayen lebih parah! Masa dia gaya doggy harus cek tutorial di google dulu, malam pertama kami berasa belajar diruangguru." kelakar Aarin yang membuat Nanas tertawa.
Kini keadaan berbalik, Anthony yang menahan tawanya sedangkan Brayen yang rahangnya terbuka lebar mendengar candaan istrinya.
Setelahnya banyak lagi obrolan absurd yang terjadi antara Aarin dan Nanas yang kadang membuat suami mereka melebarkan mata sempurna atas semua candaan dan obrolan itu.
"Eh betewe kamu berubah banget beb, kamu makin cantik, beda sama yang dulu, dekil, petakilan dan jorok." ujar Aarin yang mulai membahas masa lalu mereka.
Nanas tertawa sejenak. "Kamu juga, dulu kamu itu paling jorok juga, ingat gak dulu pas kita ospek, kamu kan keceplosan berak di celana, jangan bohong, nauzubillah baunya dulu itu bsrsulam jannah."
"Mana ada yah!" protes Aarin yang merasa tidak pernah mengalami kejadian itu, sebelum dia teringat bahwa ia memang pernah mengalami itu. "Ada sih, tapi cuma dikit, gak sebau itu kan."
"Tetap aja, kamu berak di celana." ledek Nanas yang membuat Aarin hanya melipat kedua tangannya kesal. "Bercanda beb, jangan ngambek ah."
Nanas kemudian mulai membujuk Aarin yang tampak kesal sedangkan nasib kedua suami mereka hanya diam, menahan tawa atas obrolan absurd istrinya, dan menahan lapar karena makanan yang tak kunjung diantar.
Tak lama kemudian, seorang pelayan membawakan empat porsi Baklava Roti pesanan mereka, yang membuat Brayen dan Anthony berbinar karena menahan lapar sedari tadi.
"Mbak! Ada es teh, gak?" tanya Nanas dengan bahasa indonesia yang membuat Pelayan tersebut menatapnya bingung. "Ah, lupa, bahasa inggrisnya es teh apa sih?"
"Nah iya, Cool Tea! Please, four gelas, eh bahasa inggrisnya gelas apa? Itu anu, ah pokoknya mah yah, es teh empat gelas." lanjut Nanas frustrasi.
Aarin yang melihat itu tertawa puas dan mengusap punggung Nanas. "Sabar yah beb, bukan Cool Tea kamu tuh, tapi Khuldi."
Akhirnya Aarin yang memiliki kemampuan di bahasa inggris mempersilahkan pelayan tersebut untuk pergi, Brayen dan Anthony sudah tidak memperdulikan tingkah istri mereka, yang ada dipikiran mereka adalah makan sekarang.
Namun belum sempat Brayen dan Anthony menyantap makanan tersebut, Nanas dan Aarin sudah menghentikannya.
"Stop!" tahan Nanas dan Aairin bersamaan?"
"Kenapa?" tanya Brayen kesal.
"Upload di instastory dulu Bray! Sayang banget kita di Cappadocia tapi gak ngepost." jawab Aarin pada Brayen mengeluarkan ponselnya.
Begitupun dengan Nanas yang mengambil ponselnya dan mulai memotret makanan yang mereka pesan, lagi-lagi Brayen dan Anthony harus menahan diri dan menahan lapar.
Cukup lama mereka meng-upload instastory mereka, akhirnya Nanas dan Aarin sudah selesai dan siap menyantap pesanan mereka, namun betapa kagetnya mereka melihat suami mereka dalam keadaan lemas, dan pucat.
"Kalian kenapa?" tanya Nanas dan Aarin bersamaan.
"La-lapar." jawab Anthony dan Brayen terbata-bata.
Melihat itu Nanas dan Aarin hanya saling melempar tatapan bengek kemudian tertawa sejadi-jadinya melihat suami mereka.
- TBC
Bab ini adalah Bab Kolaborasi yang ditulis Author dengan Ide bersama Penulis Kisss
Hai Guys! Kenal Aarin dan Brayen dong! Ayok kepoin kekocakan dan kebucinan mereka dalam "Bucin Dari Kecil"
Terima kasih!
Jangan lupa komentar! Walaupun Author gak sempet balas tapi Baca Komentar kalian adalah Moodbooster banget.
See u!
__ADS_1