
Happy Reading!
•
•
"Om gapapa?" tanya Nanas melihat lebam diwajah Anthony.
Anthony tidak menjawab, ia masih berusaha mengatur napas dan emosinya, ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah mereka, Nanas yang melihat itu hanya menunduk sedih.
Kandungannya sudah memasuki bulan keempat dan dia harus dihadapkan dengan masalah seperti ini, untungnya Nanas adalah tipe wanita yang tidak serius dan gampang setres serta depresi menghadapi masalah.
Karena pada dasarnya Nanas adalah orang yang tidak pedulian bila tidak terdesak, Nanas yang di abaikan hanya diam, dia menganggap bahwa itu hal biasa, namun hari ini pemahaman Nanas benar-benar terbuka, ia ingat bahwa Anthony bisa saja melihatnya bersama Faredian di toilet waktu itu.
Cemburu itu tanda cinta, jadi semua dugaan Nanas bahwa Anthony aneh karena memiliki wanita lain sudah terpatahkan.
Tak lama kemudian, mereka telah tiba dirumah mereka, Anthony segera masuk ke rumah meninggalkan Nanas, Anthony menuju kamar, membuka bajunya dan kini bertelanjang dada menatap wajahnya dicermin.
Sementara itu Nanas menaruh tasnya di sofa dan berjalan kedapur mengambil handuk dan air hangat, kemudian menyusul Anthony ke kamar.
"Ngapain kamu kesini!" ketus Anthony menatap tajam ke arah istrinya.
"Yah mau ngobatin Omlah, emang mau ngapain lagi," jawab Nanas tidak peduli.
"Saya gak perlu di obatin mending kamu keluar," teriak Anthony pada Nanas.
Nanas tidak menggubrisnya dan malah memilih menulikan dirinya sendiri lalu berjalan menuju Anthony untuk mengobatinya, namun sebelum itu Nanas juga mengambil kotak obat yang ada di meja riasnya, setelah mengambil kotak tersebut Nanas segera berjalan ke arah Anthony dan menarik tangan Anthony menuju ranjang.
"Kamu gak paham bahasa Indonesia yah saya kan dah bilang saya gak perlu di obatin," tolak Anthony kesal.
"Emang gak paham soalnya aku buah-buahan," jawab Nanas meneteskan cairan alkohol ke sebuah kapas untuk membersihkan darah Anthony.
__ADS_1
Nanas kemudian menarik kepala Anthony lebih dekat dengannya dan mulai mengolesi dengan cairan tadi ke sudut bibir Anthony walaupun ada sedikit penolakan tapi tetap tidak di hiraukan oleh Nanas
"Sakit, pelan sedikit," protes Anthony meringis dan mulai mencair kepada Nanas.
"Yah ini udah pelan kali Omnya aja yang gak usah banyak tingkah," jawab Nanas kesal kemudian beralih memeras handuk di baskom dan mengompres lebam Anthony.
"Nah udah selesai," tambah Nanas yang membuat Anthony segera menjauhkan kepalanya.
Ia kemudian segera menatap Nanas sekilas lalu dengan sigap menarik kepala Nanas ke pelukannya dan mendekapnya hangat
Nanas yang mendapat perlakuan seperti itu hanya terdiam dan menatap lekat wajah suaminya hingga akhirnya ia kini nyaman pada posisinya yang seperti sekarang.
"Maafin aku," lirih Anthony yang sudah merubah imbuhannya dari "saya" ke "aku"
"Om kenapa?"
"Maafin aku, Maafin aku, aku bodoh, aku salah, benar kata Faredian, jika terus begini, aku bakal kehilangan kamu, aku takut untuk itu, pada awalnya aku menerima menikah sama kamu, karena anak itu, namun sekarang, alasanku hanya karena aku mencintai kamu, dan takut kehilangan kamu," ujar Anthony mengeluarkan semua unek-uneknya.
"Kamu bakal menjauhi mantan kamu itu?" tanya Anthony pada Nanas.
Nanas mengangguk. "Jika itu menyelamatkan rumah tangga aku, kenapa gak,"
Anthony tersenyum lebar kemudian mendekatkan hidungnya sehingga menempel ke hidung Nanas, ia sangat merindukan momen seperti ini setelah Miss Komunikasi hampir dua hari.
"Om, lupa ini?" tanya Nanas memperlihatkan sebuah cincin dijari manisnya.
Anthony mengerutkan keningnya dan menautkan alisnya, pasalnya cincin itu sudah ia buang tempo hari, Nanas yang melihat wajah terkejut Anthony tertawa kemudian mencolek hidung Anthony.
"Aku nemunya tadi pagi, aku paham kenapa Om langsung berubah malam itu, makanya kali ini aku yang mau minta maaf," ujar Nanas.
"Baguslah kalau kamu sadar." sombong Anthony memiringkan senyumnya.
__ADS_1
"Jangan pede dulu, aku cuma minta maaf karena memang salah yah," jawab Nanas yang membuat Anthony segera menyambar bibirnya dan menciumnya lembut.
Nanas yang kaget membulatkan mata sempurna dan mengadaptasikan dirinya menerima ciuman dari Anthony.
Anthony kemudian melepas ciumannya kemudian menatap Nanas sekali lagi
"Susah untuk benci sama kamu ternyata," ujar Anthony tersenyum.
"Lagian siapa suruh berubah jadi arogan, gitu," jawab Nanas melipat kedua tangannya.
"Iya sayang, emang salah kalau aku cemburu," ujar Anthony memeluk dan mempererat pelukannya pada Nanas.
"Yah gak salah tapi cemburu Om tuh akut, susah nenanginnya jadi lain kali jangan gitu lagi yah!" tukas Nanas menyodorkan jari kelingkingnya. "Janji?"
"Janji!" jawab Anthony menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking milik Nanas. "Aku baca materi kamu buat presentasi hari ini tadi pagi, tentang ada yang tegak tapi bukan keadilan,"
"Terus?"
"Kamu tahu gak, sekarang ada yang lagi tegak tapi bukan keadilan," jawab Anthony membuat Nanas bergidik.
"Minions!" lanjut Anthony berbisik.
•
•
TBC
Akhirnya terpenuhi janji Author buat Crazy Up, insya allah besok Crazy up lagi tapi Author minta likenya yah supaya makin semangat ngetik, jadi jangan lupa like dan komentar! Terima kasih!
__ADS_1