
Happy Reading!
•
•
Nanas dan Faredian kini tiba di rumah sakit, Faredian yang memapah Anthony langsung memanggil beberapa suster untuk membawa Anthony ke ruang pasien untuk ditangani.
"Dokter Faredian? Bukannya Dokter libur hari ini?" tanya seorang suster mendorong bangker pasien menuju ruangan yang sudah disiapkan.
"Jangan banyak tanya, cepat siapkan alat-alat medis." jawab Faredian.
Kini Faredian beserta beberapa suster sudah masuk kedalam ruangan periksa, Nanas hanya bisa menunggu diluar, sebelum masuk Faredian berusaha meyakinkan Nanas bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tak butuh waktu lama, Faredian beserta beberapa suster tadi keluar dengan wajah lega yang membuat Nanas bertanya-tanya dibuatnya.
"Anthony tidak apa-apa, hanya sedikit jahitan pada telapak kakinya akibat sobek dan pendarahan yang tidak terlalu parah, dia sudah sadar, mau menemuinya?" ujar Faredian yang membuat Nanas segera masuk kedalam ruangan tersebut.
Anthony sedang terbaring di ranjang dengan wajah yang sedikit pucat, mungkin karena kekurangan darah atau apa, yang jelas Nanas melihat bahwa kaki suaminya tengah diperban.
"Om!" teriak Nanas memeluk Anthony yang membuat Anthony balas memeluknya. "Om bikin khawatir aja!"
"Aku gak kenapa-napa," jawab Anthony mengelus kepala Nanas.
Nanas yang melihat ekspresi santai Anthony melipat tangannya kesal. "Masih bisa santai begitu, aku panik tau!"
Anthony yang melihat itu mencubit pipi Nanas kemudian menarik Nanas ke pelukannya. Ia memeluk erat istrinya yang membuat Nanas pasrah dalam pelukan Anthony.
Sementara itu Faredian yang masih berdiri dibalik ambang pintu hanya bisa menahan sesak didada-nya melihat keromantisan Nanas dan Anthony.
Sementara itu diluar sana Melon dan Terasi yang baru sampai di rumah sakit, gelabakan menuju resepsionis untuk menanyakan keberadaan Anthony dan Nanas.
"Mbak! Tadi liat gak, ada pasien itu udah tua tapi tampan, sama cewek masih muda lebih mirip anaknya ketimbang istrinya, dibawa kesini." tanya Melon mulai menjelaskan ciri Nanas dan Anthony.
__ADS_1
Resepsionis tersebut berpikir sejenak sebelum mengingat bahwa tadi ada sosok yang disebutkan Melon. Mbak Resepsionis tersebut kemudian memberitahu ruangannya yang membuat Melon menarik Terasi.
"Gue takut!" teriak Terasi yang masih trauma akan rumah sakit.
"Gausah takut, lagipula ga bakal ada setan, kan lo setannya." jawab Melon berjalan melewati koridor.
Melon yang sedikit berlari tanpa sadar menabrak sosok pria dewasa yang membuat Melon terjungkal ke belakang.
"Om Awan?" lirih Melon mengetahui bahwa orang yang baru dia tabrak adalah sosok Gunawan Salaka bersama Mangga disana.
Salak yang memang dipanggil Awan oleh Melon langsung membuang mukanya pergi dari sana menarik tangan Mangga tanpa membantu Melon berdiri.
"Dih mantan aja belagu! Songong amat lo!" teriak Melon tanpa di perdulikan oleh Salak yang terus berjalan.
"Mantan pacar lo?" tanya Terasi memastikan.
Melon mengangguk mengingat bahwa hubungan mereka dulu baik-baik saja sebelum Melon memilih ke luar negri dan tidak mau LDR.
"Buset Om-Om." ujar Terasi menahan tawanya.
Diruangan Anthony sendiri Nanas sedang duduk merenung menatap Anthony yang sedari tadi hanya diam sebelum Faredian masuk ke ruangan itu lagi.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Faredian memeriksa luka Anthony.
Anthony sendiri hanya diam enggan menjawab pertanyaan Faredian karena masih freak atas tingkah Faredian di Reuni tadi.
"Semuanya okey, tidak ada yang parah. besok pagi sudah bisa pulang." ujar Faredian.
Nanas mengangguk kemudian dengan reflek mengucapkan terima dan menggenggam tangan Faredian yang membuat Anthony berdehem kecil.
Nanas yang sadar langsung melepas tangan Faredian dan membuat Faredian terdiam sejenak.
"Dia milik orang! Bukan milikmu!" batin Faredian.
__ADS_1
Setelahnya Faredian pamit untuk pergi ke tempat lain, sebenarnya dia mengambil libur sebagai dokter hari ini tapi melihat Anthony dia memilih membatalkan cutinya.
"Seneng banget kamu kayaknya pegang tangan mantanmu." sindir Anthony pada Nanas.
"Jadi ceritanya cemburu?" tanya Nanas pada Anthony. "Jangan cemburu soalnya itu Om Thony adalah Filosofi pasangan KAMPRET yang paling aku idam-idamkan."
Anthony menautkan kedua alisnya.
"Iya KAMPRET, Kreatif, Aktif, Motivatif, Produktif, Rajin, Efisiens dan Tangguh." jawab Nanas. "Mau aku jabarkan?"
Anthony yang masih belum paham hanya mengangguk bingung atas semua penjelasan Nanas.
"Jadi Om itu Kreatif karena Om setiap romantisan ada aja tingkahnya, Aktif karena Om setiap malam Aktif banget minta jatah," kekeh Nanas yang membuat rahang Anthony terbuka.
"Perasaanku tidak enak." batin Anthony.
"Motivatif soalnya Om itu selalu memotivasi aku kalau manusia mesum juga berhak bahagia,"
"Kayaknya dia salah tangkap." batin Anthony.
"Terus Produktif, liat aja sekali main langsung dapat dua anak." Nanas melirik perutnya. "Terus rajin banget ngebuat adonan bayinya. Walaupun cuma jadi dua bayi doang."
"Astaga, jadi pemahaman dia selama ini seperti itu?" keluh Anthony dalam hati.
"Terus Efissien dan Tangguh kalau jumpalitan di-" Anthony segera menghentikan Nanas karena tidak ingin mendengar kata terakhir dari Nanas karena dia sudah bisa menebaknya sendiri.
Sementara itu Nanas hanya cengengesan setelah dihentikan oleh Anthony sementara itu Anthony hanya membuang mukanya.
"Halo Everybody! Supres! Supres Madefakah!" teriak Melon mendobrak pintu ruangan Anthony dengan sangat keras yang membuat Nanas dan Anthony kaget.
"Yah! Aku akan gila dalam beberapa menit lagi." batin Anthony.
- TBC
__ADS_1
Betewe semalaman Author edit ini wkwkwkw maksa banget