DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
MARAH DIAM


__ADS_3

Setelah memantapkan hati, Asna akan mengikuti alur suaminya. Ia juga sudah mengosongkan waktu seharian untuk Arkan.


"Jam berapa kita akan berangkat, Mas?" tanya Asna sembari mengambil baju untuk suaminya.


"Setelah mengantar Imel sekolah saja, Dik. Mas juga sudah membuat janji dengan dokternya." Arkan sudah komunikasi sebelumnya dengan dokter. Bahkan, sejak kemarin bertanya mengenai masalah yang dialami, melalui rekan kerjanya.


Hati Asna membeku. Seantusias itu suaminya mencari informasi sampai sudah membuat jadwal dengan dokter tanpa sepengetahuannya.


Hanya saja, Asna pasrah dengan apa hasilnya nanti. Rasanya sudah tak percaya akan medis dan hanya keajaiban yang bisa menolongnya. Mungkin ada kesalahan juga dalam dirinya yang tidak disadari.


"Buang asumsi negatifmu, Dik. Nggak ada salahnya kita mencoba." Arkan meraih lengan Asna dan menggenggamnya erat.


Sedangkan Asna terpaku seolah pria itu tahu apa yang sedang hatinya rasakan. Memang banyak pikiran negatif yang terbayang dalam benaknya. Namun apalah daya, dirinya hanya wanita biasa.


"Iya, Mas, kalo gitu aku pamit ke kamar Imel dulu, ya. Khawatir dia tidur lagi." Asna meninggalkan Arkan. Ia tidak ingin membahas yang hanya membuat hatinya sendu.


Beralih ke kamar Imel, terlihat dia sudah mandi dan rapi ternyata. Senangnya melihat perkembangan Imel yang tumbuh dewasa. Walau bukan dari rahimnya, tetapi rasa cinta kepadanya begitu besar.


"Hari ini Bunda dan Abi yang mengantar kamu, ya?" kata Asna sedikit merapikan lengan, seragamnya yang terlipat.


"Serius Bunda?" Imel tampak sumringah. Memang jarang bisa diantar sekolah oleh kedua orang tuanya.


Lebih sering ia diantar oleh salah satunya saja, tetapi Imel tak pernah mengeluh. Ia tetap bersyukur memiliki orang tua yang perhatian padanya.


Asna mengangguk. Ada rasa haru melihat Imel yang begitu senang. Ia sadar diri, jika waktu bersama Imel hanya sedikit. Pagi sampai sore, selalu menghabiskan waktu di butik juga toko.


Terkadang sampai malam jika banyak pesanan dadakan. Seperti kemarin, seribu biji roti kering, yang harus dibuat dalam waktu semalam.


Bukan hal yang mudah bagi Asna. Apalagi dirinya seorang istri yang memiliki suami juga anak di rumahnya, mereka pun membutuhkan dirinya.


Namun, semua bisa teratasi dengan sikap Arkan yang dapat menenangkan Imel. Dirinya tak bisa lagi berkata, melihat Arkan yang berkontribusi baik dalam urusan rumah tangganya.


Usai makan dan menyiapkan bekal, Asna langsung bergegas menuju tempat tujuan. Mengantarkan Imel sekolah, lalu ke rumah sakit sebagai tujuan Arkan.


"Mas." Tangan Asna menggenggam erat. Keringat dingin pun sudah mengucur di tubuhnya.


"Bismillah, ya. Ada Mas yang selalu dukung kamu." Arkan menguatkan, menggenggam tangan Asna yang terasa dingin.


Mobil pun melaju kencang menuju rumah sakit, tangannya tak terlepas dan dibiarkan terikat hingga sampainya tiba.

__ADS_1


"Ayo kita turun!"


Asna mengiyakan. Kemudian, turun setelah pintu mobil sudah dibukakan oleh Arkan. Bagaimana hatinya tak tersentuh melihat sikap Arkan yang begitu manis terhadapnya.


Setelah mengikuti langkahnya dengan tangan yang terus dirangkul, bahkan tak heran banyak pasang mata yang memerhatikan dirinya. Asna tak peduli, ia sedang meyakinkan hatinya untuk bisa berhadapan dengan dokter yang akan menanganinya nanti.


Tubuh Asna bergetar hebat, langkah kakinya begitu pelan seolah belum siap masuk ke dalam ruangan. Bau obatan yang menyeruak membuat hatinya sesak untuk bernapas.


"Aku takut Mas." Asna ragu melanjutkan langkahnya, sampai berhenti beberapa detik sebelum masuk ruangan.


"Nggak apa, Sayang. Semua baik-baik saja." Arkan kembali meyakinkan bahkan ia sangat yakin jika Asna dan dirinya sehat.


Di dalam ruangan, Asna melakukan prosedur tes agar bisa melakukan bayi tabung seperti yang suaminya pinta. Ia melakukan tes hormon untuk melihat apakah layak atau tidak untuk melanjutkan bayi tabung tersebut.


Satu jam berlalu, Asna menunggu hasil tes yang sudah dilakukan. Ia hanya bisa pasrah dan tak banyak berharap. Di samping itu pun menunggu kegugupan hatinya yang naik turun, Asna mengabari rekannya untuk menghandle butik hari ini. Kebetulan ada pelanggan yang ingin mengambil pesanan dan sudah Asna siapkan di meja kerjanya di ruangan.


"Ibu Asna Khanifah."


Terdengar dokter kembali memanggil membuat Asna menghela napas pasrah. Sang suami yang siaga pun merangkul bahu Asna untuk kembali masuk ke dalam ruangan.


Duduk berhadapan dengan dokter, Asna menyimak dengan seksama. Senyum simpul Asna pun terbit di wajahnya, menunggu dokter wanita itu membuka suara.


Deuugh!!


Bagai tersambar petir. Hati Asna kembali runtuh dan ribuan atmosfer kembali menghantam daa-danya dengan jahat. Kecewa, pasti. Hal ini yang tidak ingin Asna dengarkan sebenarnya.


"Tapi tenang saja, hormon yang rendah tidak menutup kemungkinan untuk bisa hamil. Semua bisa dilakukan atas izin Allah," jelas sang dokter pada kedua pasangan di hadapannya.


Berbagai penjelasan dan pertanyaan yang dilontarkan, antara dokter dengan Arkan membuat Asna semakin berkecil hati. Rasanya percuma dan hanya kecewa yang ia dapatkan. Bahkan keadaannya yang penuh kekurangan membuat dirinya pun tak bisa menjalani proses bayi tabung.


Setelah keluar ruangan, air mata kembali bercucuran. Asna berlari meninggalkan Arkan yang masih berada di ruangan.


"Dik, Mas mengerti perasaanmu, tetapi tolong jangan seperti ini." Arkan merengkuh tubuh Asna dari belakang.


"Mas kamu dengar sendiri bukan? kalau aku sulit hamil," lirih Asna dengan bibir bergetar. Kemudian membalikkan badan dan menghadap suaminya.


Menatap lekat wajah Arkan yang penuh harap. Ia berusaha menguatkan hatinya penuh tenaga. Menggenggam erat lengan Arkan memberi sentuhan hangat kepadanya.


"Sekarang aku mohon terima tawaranku, Mas." Asna kembali memohon dan mengungkit permintaannya kemarin.

__ADS_1


Ia menyerah sudah tidak ada lagi cara untuk bertahan. Apalagi perkataan dokter tadi cukup jelas di hadapan Arkan. Walau kemungkinan bisa, entah kapan dan hanya waktu yang bisa menjawab. Tidak ada yang bisa menduga dan memastikan, sebab Allah yang hanya mengetahui.


"Silakan kamu salat Istikharah terlebih dahulu. Jika jawabannya tidak, kamu boleh menolaknya, Mas." Asna kembali menegaskan. Ia meyakinkan suaminya untuk kembali mempertimbangkan.


Pasalnya Arkan sudah mendengar sendiri jika apa yang dia inginkan, hasilnya gagal dan sudah tidak ada lagi cara yang bisa Arkan ajukan, semua kemungkinan kecil kecuali mukjizat Allah SWT, yang memberikan keajaiban.


***


Malam harinya, Asna mengajari Imel mengerjakan tugas dan Arkan sama sekali tak bersuara sejak pembicaraan selepas pemeriksaan tadi.


Dia menjadi pendiam dan masih ramah padanya, hanya saja sedikit berbicara tidak seperti biasanya.


“Bunda, lagi bertengkar sama Abi, ya?” celoteh Imel dengan polosnya. Ia melirik ke arah dua orang dewasa yang saling diam.


“Enggak, Sayang. Bunda sama Abi, baik-baik saja.” Asna menjawab apa adanya. Mungkin Arkan sedang memantapkan hatinya untuk mencerna permintaan istrinya yang agak berat.


“Abi, Abi marah sama Bunda, ya?” Kini Imel sudah bangkit dan duduk di samping Arkan, bergelayut manja seperti biasanya.


Arkan pun langsung melirik ke arah Asna. Ada rasa tidak enak berada di situasi seperti ini, bahkan Imel sendiri merasa kecanggungan di antara kedua orang tuanya.


Ia tidak habis pikir, mengapa istrinya begitu antusias melakukan hal ini. Padahal sama sekali Arkan tak ingin menyetujui tawaran konyol itu.


“Kata siapa? Kita baik-baik saja ko. Iya nggak, Bunda? Sini, Bun,” ajak Arkan menatap istrinya yang agak canggung. Ia tidak ingin melibatkan Imel dengan masalah orang dewasa.


Asna langsung bangkit dan ditarik Arkan duduk dalam pangkuannya, sedangkan Asna membulatkan matanya lebar karena sikap sang suami yang tidak seharusnya terjadi saat di hadapan Imel.


“Ih, Bunda sudah besar kenapa dipangku, Abi.” Imel protes melihat Abinya yang pilih kasih.


“Biarin. Ini ‘kan istrinya Abi.” Arkan sengaja merengkuh tubuh Asna, dan seketika hatinya menghangat, menghadapi masalah yang begitu rumit di kepalanya.


“Ih, Abi, Imel juga mau dipeluk,” kata Imel cemburu.


Asna pun terkeukeh melihat kejahilan Arkan untuk membuat putrinya cemburu. Alhasil mereka saling berebut, yang dimana Arkan menginginkan Asna, sedangkan Imel hendak melepaskan tangannya agar Arkan bisa merengkuh Imel.


Kedekatan mereka memang tak bisa tergambarkan, layaknya seperti ayah dan anak kandung sendiri, sebab rasa cintanya sudah tumbuh sejak kecil dan jatuh cinta anak perempuan pertama adalah pada ayahnya sendiri.


Hati Asna menjadi mendung dan batinnya menggerutu. “Ya Allah apa permintaanku sudah benar, meminta suamiku menikah lagi?”


“Bunda kenapa diam?” Imel menyadari kediaman bundanya.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2