
Sembari menunggu, Asna sedikit berbincang padanya sebagai permulaan, mengkorek informasi yang belum dirinya ketahui.
“Bagaimana keadaan ibumu, Ra?” tanya Asna padanya. Ia mengetahui tentang ibunya yang sakit. Bahkan, Dira sering bercerita sampai menangis.
“Alhamdulillah baik, Mba Asna.” Dira berbicara apa adanya. Jujur, dirinya sedikit tegang karena tak biasa atasannya itu mengajak makan di luar seperti ini.
Kini, hatinya seperti berdebar tak karuan seperti genderang ingin perang. Hanya saja, tangannya ia kepal untuk menutupi rasa kegugupannya dalam hati. Pasalnya mbak Asna dan ibunya sangat berjasa bagi Dira, sejak ia sekolah dulu. Dira selalu mendapat bantuan suport.
Makanan pun datang, Asna mempersilakan Dira untuk menikmati makanannya terlebih dahulu. Ia tidak ingin membuat Dira shock akibat perkataannya nanti.
Setelah saling canda tawa, kini berubah menjadi tatapan yang serius. “Ra, apa kamu sudah memiliki calon pendamping?”
Selama ini, ia mengetahui jika Dira masih single dan belum ada pria yang mendekati, hanya saja alangkah baiknya jika Asna memastikan kembali sebelum memberitahu keinginannya.
Dira yang mendengar meneguk saliva kasar. Entah mengapa Mba Asna menanyakan hal yang lebih privasi. Namun, melihat tatapannya tersirat rasa ingin tahu yang begitu besar.
“Kenapa Mba Asna bertanya seperti itu?”
Sekarang Asna yang terdiam memikirkan perkataan yang tepat untuk ia lontarkan, tetapi sekuat tenaga Asna memberanikan diri, mengambil lengan Dira dan menggenggamnya erat.
“Saya ... saya ingin menjodohkan kamu sekaligus menjadikan ka-mu madu untuk suami saya.”
Mulut Dira ternganga. Hatinya berdetak lebih kencang setelah mendengar perkataan yang membuat tubuhnya hampir limbung.
Kini, bibirnya terasa kaku ditambah cengkeraman Mba Asna yang menggenggam lengannya begitu kuat. Tak habis pikir dengan pikirannya.
“Dira, mungkin kabar ini shock untukmu, tetapi saya percaya sama kamu. Saya ingin kamu menikah dengan suami saya,” jelas Asna penuh mohon.
__ADS_1
Deg!
Bagai dihantam timah panas dalam sesaknya yang semakin menyeruak. Menikah bersama suaminya? Apa motivasinya Mba Asna meminta suaminya menikah lagi? Batin Dira terus bergelut dengan terpaan rasa sesak dalam setiap embusan setiap napasnya. Dira menoleh keringat bercucuran, akan semua lontaran mbak Asna.
Apalagi suami dari bibinya sekaligus atasannya yang sudah dianggap seperti seorang kakak. Lagipula, tidak ingin menjadi pihak ketiga dalam urusan rumah tangga orang lain.
“Maaf, Mba, saya nggak bisa.” Dira melepaskan cengkeramannya dari lengan Mba Asna, lalu hendak pergi, tetapi tertahan karena berhasil dicekal oleh wanita di hadapannya.
“Tunggu, Ra, kenapa nggak bisa?” Asna semakin terisak.
“Beri saya alasan.”
Ia begitu menyukai Dira dan beberapa hari terakhir berhasil mencari biodata dirinya dan sesuai keinginan, jika Dira bisa menjadi yang terbaik untuk suaminya kelak. Apalagi dulu Dira dekat dengan sang mamanya.
“Saya orang yang tidak melegalkan poligami. Apalagi suami dari bibi jauh sekaligus orang yang sudah saya anggap seperti kakak sendiri. Kita sesama wanita, Mba, saya tidak ingin menyakiti hati Mba Asna,” tegas Dira dengan lantang, tak peduli jika terlihat gaduh.
Tangis Asna pecah. Ia masih menggenggam lengan Dira memohon agar wanita itu mau menurutinya, walau kemungkinan kecil.
Dira menyeka air matanya yang membanjiri pipi. Sungguh gila, Mba Asna merelakan suaminya terbagi demi sebuah keturunan.
“Tapi maaf, Mba, saya sudah dilamar.”
Asna mendongak, menatap wajah Dira dengan sinis.
"Tidak, kamu pasti bohong, ‘kan?”
Dira menggeleng. Wajahnya tertunduk lemah dengan isak tangis yang pelan. Kedua tangannya begitu dingin mengatakan sesuai fakta yang ada.
__ADS_1
"Saya tidak pernah bohong, Mba. Kemarin malam ada pria yang datang untuk melamar saya."
Asna yang mendengar ikut terkejut seolah harapannya pupus meminta Dira untuk menjadikannya madu.
"Siapa pria itu, Ra? Lalu apa kamu sudah memberinya jawaban?" desak Asna pada Dira.
Setahunya, pria yang datang melamar akan diberi waktu tenggang untuk menjawab. Apalagi jika datang secara tiba-tiba, pasti ada jangka waktu agar tidak salah pilih. Ia tahu betul Dira, wanita baik sehingga banyak pria yang mengantri ingin mempersuntingnya. Hanya saja Dira memiliki trauma tentang pernikahan sehingga dia masih betah sendiri, lantaran ingin mengurusi ibunya yang sakit.
Dira bergeming, rasanya kelu untuk menjawab. Lagipula bukankah semua merupakan urusan pribadinya? Lantas, mengapa Mba Asna ingin tahu sekali mengenai hal itu.
"Dira, jawab saya, please!"
Asna memegang kedua bahunya untuk saling menatap. Mungkin dirinya berkesan memaksa, tetapi tidak ada salahnya mengetahui siapa pemuda yang sudah melamarnya itu.
"Apa yang akan Mba lalukan jika jawaban saya adalah iya?" Kini Dira memberanikan diri mendongak menatap wanita yang berwajah cantik nan bercahaya.
Asna menghela napas pelan. Ia tidak tahu langkah apa yang harus diambil, tetapi hatinya begitu yakin jika Dira belum memberinya jawaban.
"Mungkin saya akan meminta pada pria itu untuk menjauhi kamu." Tatapan Asna serius dan harapan yang amat dalam pada Dira.
"Mba," lirih Dira tak sanggup. Ia pun tidak tahu apa yang harus dijawab pada pria itu.
Pasalnya terlalu mengejutkan. Dira juga belum mengenali seluk beluk prianya dan belum ada keinginan untuk menikah.
Mengingat rasa trauma yang masih melekat membuat hatinya, belum terbuka secara sempurna. Selalu terbayang akan kisah masa lalu yang mengecewakan.
TBC.
__ADS_1