DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
ARKAN SALAH PAHAM


__ADS_3

Dua Hari Kemudian.


"Mbak, ga kabarin suami mbak?"


"Asiyah! mbak mohon, cukup kamu saja yang tahu, kasih tahu Imel. Kalau bundanya hanya kecapean saja, lihat dia tertidur menunggu mbak, rasanya mbak berdosa."


"Mbak! jujur sama Asiyah. Siapa lagi yang tahu, ibu tahu soal penyakit mbak?" Asiyah sebagai suster, dan sepupu merasa pilu kali ini melihat mba Asna.


Asna menggeleng, jika yang tahu Asiyah dan ibu Yola saja. Bahkan Asiyah menghapus airmatanya, sedikit sesak karena ibu mertua mbak Asna sudah tahu dari awal, dan berusaha menyingkirkan mbak Asna dari putranya, apalagi dengar jika suami mbak Asna menikah lagi, mustahil itu kemauan mbaknya.


"Mbak, keterlaluan banget sih. Bang Arkan itu harus tahu loh, mbak Asna ga boleh diam aja dong." greget Asiyah.


"Ssssst! jangan keras keras, mbak mau pulang udah sehat lagi kok. Mbak sengaja ga kabari mas Arkan, sekalipun mas Arkan membenci mbak, karena di anggap istri tidak patuh, mbak ikhlas. Ketimbang mereka tahu, keadaan mbak sebenarnya. Tugas mbak, membuat Mas Arkan mencintai lagi madu mbak, dan madu mbak menyayangi Imel sepenuh hati, itu aja udah cukup kok." senyum Asna, yang saat itu bersiap akan pulang.


"Istirahat dulu beberapa hari di rumah Asiyah ya mbak! please. Asiyah takut mbak Asna .."


"Bunda ... udah bangun." senyum Imel, mengucek mata sehingga pembicaraan mereka terhenti.


"Sini nak, maafin bunda ya. Bunda cuma kecapean aja, bunda udah sehat kok. Kita pulang sekarang ya!"


"Iy bunda, bener ya bunda udah baikan. Imel ga mau bunda sakit kaya gini lagi, eh iya bunda. Lihat deh luka Imel, udah sembuh tanpa bekas luka." cerocos bocah polis itu.


"Sini, bunda liat nak."


Entah wanita tegar seperti apa, Asiyah melihat Asna hatinya sangat mulia. Membiarkan dirinya sakit parah, mempersiapkan pernikahan untuk madunya, hanya karena keturunan. Asiyah semakin takut akan pernikahan, sejak ia pernah ditinggal mati karena kecelakaan, lagi lagi kisah mbak Asna, membuat Asiyah tidak berniat menikah, kenapa bisa suami mbak Asna itu tidak menyelidiki kenapa Asna mempersiapkan semua itu.


'Aku jadi benci sama suami mbak Asna deh, dasar pria ga peka. Punya istri dua, membuat Asna sangat banyak berkorban.' deru Asiyah, kala itu, mereka bersiap pulang.


"Aku langsung bandara aja, Asiyah. Makasih ya untuk semuanya. Jaga diri kamu baik baik!"

__ADS_1


"Mbak yang harus jaga baik baik, kalau kontrol lagi kesini, atau ada apa apa. Hubungi Asiyah ya mbak." di anggukan Asna, tak lupa Imel sapa kecup pada sang bibi, tanda perpisahan.


Beberapa jam kemudian, Asna sudah di bandara. Hatinya amat berdosa, dan berkecamuk, jika ia pulang dan mas Arkan bertanya detail. Apa yang harus Asna ucapkan, ia tidak mungkin berbohong. Tapi setidaknya, berbohong untuk kebaikan semoga saja sang kuasa, memaafkan Asna, yang tak ingin orang yang ia cintai bersedih.


"Bun, kalau Abie tanya gimana, Imel takut bunda."


Ah! benar, alasan nya adalah luka Imel, yang mungkin Arkan percaya, lagi pula Arkan tak akan curiga, masalah Asna sempat di rawat. Semoga saja Imel tidak keceplosan, ia masuk rumah sakit selama satu hari satu malam akibat sakitnya itu.


"Imel, percaya sama bunda kan? Bunda kan pernah ajarkan, untuk tidak berbohong dan menyembunyikan apapun?" senyum Asna, ia merasa ucapannya sedikit tersindir untuk dirinya.


"Iy bunda. Maaf."


"Anak pinter, nanti bunda bicara sama Abie. Lagi pula kan, nomor bunda di sini susah jaringan, jadi ga sempat hubungi Abie. Dan kamu udah sembuh, jadi biar nanti bunda yang bicara sama Abie. Imel jangan ulangi lagi ya, bunda ga mau kamu kenapa kenapa nak." kecup kening anak itu.


"Iy bun.. Imel janji." senyumnya, kala Asna duduk sejajar.


***


"Tolong handle semuanya ya!" ujar Arkan, memerintahkan karyawannya.


Sehingga kala itu ia pulang ke rumah, berharap Asna sudah pulang. Arkan sengaja pulang lebih awal, karena ia ingin mengantar obat dan makanan untuk Dira, setelah di rasa Dira membaik. Ia meminta Dira istirahat.


"Dik, abang pulang ke rumah Asna dulu ya."


Deuugh!


Bagaimanapun Asna istri bang Arkan, entah kenapa Dira semakin ingin memiliki bang Arkan untuk tinggal di rumahnya setiap hari. Dan menginap lagi di rumahnya, bukan di rumah mba Asna.


"Iy bang. Dira gak apa apa kok." senyumnya.

__ADS_1


Arkan segera pergi, melaju mobilnya. Hal itu membuat Dira, memperhatikan suaminya itu. Rasanya menjadi istri bang Arkan, ingin sekali menjadi miliknya utuh.


Hingga beberapa puluh menit, Asna melihat mobil Arkan parkir, sementara Imel sudah tertidur pulas. Sehingga kala itu Asna menyambutnya, beruntungnya senyuman indah Asna bersinar saat melihat suaminya.


"Assalamualaikum dik!"


"Walaikumsalam mas, mas Arkan biar aku bawa ya tasnya."


"Asna, apa ada rasa salahnya mas sama kamu. Hingga kamu pergi tanpa beritahu mas?" cetus Arkan, membuat wajah senyuman Asna berubah.


"Mas, Asna minta maaf. Tapi keadaan mendesak, sebab Asna..."


"Jika mau kamu dik, mas akan tinggal beberapa lama lagi di rumah Dira. Mas pulang, hanya untuk mengambil pakaian. Kita seharusnya banyak introspeksi."


Deuugh.


Asna duduk terdiam, ia belum menjelaskan. Tapi mas Arkan, sudah berkata hal yang menyakitkan.


"Biar Asna bantu mas, sekali lagi Asna minta maaf."


Tanpa sepatah katapun, dingin semua hening. Untung saja sudah sedikit malam, Imel di kamar sudah tertidur pulas, apalagi pengaruh obat luka, membuat Imel pulas. Bahkan jika Asna dan Arkan sedang berdebat, mereka tidak menimbulkan suara keras.


"Sampaikan salam Asna untuk Dira mas." senyumnya masih menghias, akan tetapi Arkan seolah acuh dan pergi begitu saja.


Sikap Arkan sendiri, menangis di dalam mobil. Ia menyangka Asna benar benar membuatnya tak nyaman pulang ke rumah, karena ini pertama kalinya Asna pergi tanpa meminta izinnya.


Sementara Asna, tubuhnya merosot dibelakang pintu. Asna terisak, lagi pula beruntung jika mas Arkan menginap di tempat Dira, karena ia tidak bisa menjadi istri yang utuh. Tubuh Asna semakin lemas, ia tertatih menuju meja kerjanya, berharap obat yang ia perlukan segera cepat ia minum. Dengan gemetar ia raih, gelas pun sedikit gemetar ia pegang ketika Asna mencoba meminumnya.


Gleuuk

__ADS_1


'Ya rabb, luaskan hatiku untuk mendapat ridhomu.' batin Asna, menghela nafas sesaat setelah meminum obat, di rasa sudah sedikit membaik.


TBC.


__ADS_2