DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
TAWARAN MENIKAH LAGI


__ADS_3

"Dira, jawab saya, please!" Asna memegang kedua bahunya untuk saling menatap. Mungkin dirinya berkesan memaksa, tetapi tidak ada salahnya mengetahui siapa pemuda yang sudah melamarnya itu.


"Apa yang akan Mba lalukan jika jawaban saya adalah iya?" Kini Dira memberanikan diri mendongak menatap wanita yang berwajah cantik nan bercahaya.


Asna menghela napas pelan. Ia tidak tahu langkah apa yang harus diambil, tetapi hatinya begitu yakin jika Dira belum memberinya jawaban.


"Mungkin saya akan meminta pada pria itu untuk menjauhi kamu." Tatapan Asna serius dan harapan yang amat dalam pada Dira.


"Mba," lirih Dira tak sanggup. Ia pun tidak tahu apa yang harus dijawab pada pria itu. Pasalnya terlalu mengejutkan. Dira juga belum mengenali seluk beluk prianya dan belum ada keinginan untuk menikah.


Mengingat rasa trauma yang masih melekat membuat hatinya belum terbuka secara sempurna. Selalu terbayang akan kisah masa lalu yang mengecewakan.


"Beri saya jawaban yang jujur, Ra, saya sudah mengenal kamu hampir tiga tahun ini. Kamu bukan orang yang mudah menerima lamaran pria begitu saja." Asna mengungkapkan sejujurnya.


Tiga tahun bersama bukan hal yang sebentar. Cukup luas mengenal Dira dan sikap yang ada pada dirinya. Bahkan, salut dengan misi yang ada padanya menuju pernikahan.


Tak ada jawaban dari Dira, selain embusan napas dan isak tangis. Rasanya memang tak ada lagi yang bisa dibohongi karena Mba Asna pasti akan tahu dengan sendirinya. Sebesar apa pun dirinya menutupi, pasti beliau akan mengetahui, sebab Dira seringkali meminta solusi padanya yang sudah berpengalaman menikah lebih dulu.


"Kenapa Mba begitu antusias sekali terhadap saya?" tanya Dira belum paham akan tujuan sebenarnya.


“Iya karena saya sangat menginginkan kamu menikah bersama suami saya. Saya tahu kamu, sehingga saya ingin menjadikan kamu sebagai kandidat. Saya percaya kamu, Ra untuk menjadi istri kedua suami saya." Asna kembali mengungkapkan isi hatinya.


Tujuan pembicaraan siang ini memang meminta Dira menikah, bukan lagi membahas pekerjaan yang selalu dia pegang dan handle dengan berbagai macam pola.


"Mba, saya tidak mengenal suami Mba seperti apa. Lalu apa Mba bisa menjamin jika saya tidak mencintai suami Mba nantinya?"


Tidak menutup kemungkinan jika berjalan waktu pasti timbul rasa cinta dalam hati. Walau awalnya tak saling mengenal, tetapi akan ada celah untuk bisa merasakan melalui hati.


Pasalnya, selama bekerja di butik, Dira tak pernah melihat sosok suami dari atasannya itu. Bahkan, Asna pun tak pernah mengumbar suami yang katanya penuh perhatian. Setiap harinya, Asna selalu berangkat dan pulang membawa mobil sendiri.


Asna menitikkan air matanya semakin deras.

__ADS_1


"Tidak masalah, Ra. In syaa Allah suami saya baik. Sekalipun kamu akan jatuh cinta padanya, saya ikhlas. Toh pernikahan kalian sah dan wajib bagi kamu mencintai suami saya, Ra. Saya tidak membatasi dan ingin kita semua hidup dalam keluarga yang harmonis."


Hati Dira semakin sakit. Entah terbuat dari apa hati wanita di hadapannya sekarang. Begitu sabar dan tegar dengan mudahnya menginginkan suaminya menikah lagi. Ia tidak tahu harus bahagia atau sedih mendengar tawaran yang mungkin tidak disukai banyak orang.


Iya, dimadu atau menjadi istri kedua merupakan pandangan buruk semua orang. Kehidupannya pun akan dipandang terbatas dan tidak bisa menguasai suami sepenuhnya.


Itulah yang ada dalam benak Dira di hadapan masyarakat nanti. Tidak ada keinginannya untuk menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain. Walaupun bukan Dira sendiri yang masuk, tetapi tetap sama statusnya akan menjadi orang ketiga.


"Saya nggak tahu, Mba."


"Saya beri kamu tenggang waktu, tiga minggu untuk memikirkan jawabannya. Saya juga yang akan meyakinkan kedua orang tuamu dan mengatakan pada pria yang sudah melamar mu. Saya yang akan mengurus semuanya, Ra," tegas Asna penuh yakin


Ia yakin akan mengurus semuanya sendiri demi kebahagiaan sang suami. Ia ingin memberikan kesan terbaik untuk kedua mempelai.


Setelah perbincangan panas bersama Asna tadi, otak Dira tak bisa berpikir jernih. Perkataannya selalu terbayang dengan permintaan yang selalu terngiang di kepala.


“Argh,” teriak Dira memegangi kepala yang ingin pecah.


Ia masih duduk menetralkan perasaannya sekarang. Sedangkan para karyawan sudah lebih dulu pulang dan mengosongkan butik ini. Dira tidak tahu jawaban apa yang pantas untuk diberikan kepadanya. Entah mengapa Tuhan begitu rumit memberikan takdir hidupnya.


“Apa mungkin aku tidak pantas bahagia untuk bisa bersanding dengan orang yang mencintai setulus hati?” Dira kembali menitikkan air mata, teringat seseorang yang pernah dicintainya dulu dan namanya masih tersimpan hingga sekarang.


Entah di mana keberadaannya sekarang dan karenanya, membuat Dira mati rasa yang trauma akan pria dan pernikahan.


Sementara Asna sedang memikirkan cara agar bisa meyakinkan hati Dira untuk menerima tawarannya. Sungguh, hanya Dira yang bisa dirinya percaya, tetapi ada perasaan khawatir saat mengetahui Dira dilamar oleh seorang pria.


Tiga minggu waktu yang terbilang lama, semoga Dira, dapat memberi jawaban sesuai harapannya.


“Kamu kenapa, Sayang? Lagi ada masalah?”


Asna tersentak mendapat perlakuan manis Arkan yang tiba-tiba hadir di belakang. Ia sudah melingkarkan lengannya di leher dengan memberi kecupan di pucuk kepalanya.

__ADS_1


Ia pun langsung mendongak dan tersenyum menghadap sang suami. Arkan tak boleh tahu tentang apa yang sedang dalam pikirannya sekarang.


“Atau butik dan toko mu lagi surut?” Ia menyaksikan rasa perhatiannya pada Asna, tidak ingin melewatkan sedikit pun apa yang sedang istrinya rasakan.


Kini tangannya pun sudah menyentuh di kedua pipinya, dengan senyuman manis yang membuat segala lelah Arkan hilang seketika.


“Alhamdulillah, semua baik-baik saja, Mas.” Asna memang pintar menyembunyikan perasaannya.


Tubuh Arkan yang masih berdiri langsung membawa dalam dekapannya, dan seketika ia merasakan tangan Asna yang merengkuh pinggangnya erat. Perdebatan yang beberapa hari ini terjadi seolah tidak ingin terulang.


Hanya ingin terus seperti ini, hanya ada kita tanpa ada orang lain yang masuk dalam biduk rumah tangganya. Tetap melewati bersama dengan rasa cinta yang ada.


“Terus kenapa melamun, Dik?” tangan Arkan sembari mengusap lembut pipinya. Tidak ada air mata, tetapi ia merasa jika hatinya sedang mendung.


Asna terdiam, tidak mungkin mengatakan apa yang sedang terjadi. Bibirnya kembali merekah indah di hadapan sang suami.


“Aku sedang mempertimbangkan permintaan Mas tadi pagi,” ujar Asna berbohong. Sekuat hati, tidak ingin membuang waktu dan entah rangkaian kesehatan apa lagi yang Arkan minta.


Arkan menghela napas. Ada rasa bersalah karena telah memaksa dan membuatnya marah tadi pagi, ternyata Asna masih sudi mempertimbangkannya.


“Jika kamu belum siap, Mas siap menunggu, Dik. Mas tidak ingin membebanimu.”


Hati Asna meringis hingga membatin dalam hatinya. “Aku selalu nggak siap, Mas, jika kamu tak ingin membebani pikiranku, seharusnya kamu terima tawaranku untuk menikah lagi, Mas.”


Sesaknya bergemuruh segala unek dalam benaknya ia utarakan. Hanya mengatakan iya, begitu sulit membujuk Arkan. Jika pria akan senang ditawari kembali menikah, sangat berbeda dengan Arkan, pria itu menolak keras.


Entah harus bahagia atau sedih hidup bersama pria baik dengan segala kemewahan dan harta melimpah yang terlihat sempurna. Namun, tidak ada anak membuat Asna menjadi wanita cacat.


“In syaa Allah, Asna siap, Mas!”


TBC.

__ADS_1


__ADS_2