DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
JANGAN KECEWA


__ADS_3

Dira mematung, rasanya bibirnya kelu tak mampu menjawab. Mendengar pertanyaan Mba Asna membuat dirinya tak bisa berkutik.


“Semakin mengulur waktu justru kamu semakin tidak siap, Ra. Lagipula ibumu sudah memberi restu, tak ada lagi alasan yang menghalangi dan saya juga sudah memberi restu lebih dulu sebelum ibumu.”


Perkataan Asna membuat hati Dira tertohok. Rasanya memang sudah seapik itu sang empu merencanakan semuanya.


“Tidak, percayakah? Saya akan memberikan yang terbaik untuk kalian.” Asna sudah mendongak, menatap lekat wajah Dira yang masih berdiri di hadapan.


“Tapi, Mba-“ Dira tak mampu melanjutkan ucapan karena tak sanggup berkata. Mba Asna merupakan seorang bidadari yang menjelma sebagai manusia.


“Jangan berpikir macam-macam, kamu berhak bahagia, Ra.” Asna meyakinkan sepupunya sekaligus sudah ia anggap adik. Ia yakin Arkan nanti bisa mengayomi Dira sepenuh hati.


Tidak hanya dia, Asna pun akan memberikan kebahagiaan yang benar terjamin. Ia tak akan melepaskan Dira begitu saja.


Dira pun terisak tak mampu menahan tangis. Entah bagaimana konsep pernikahannya yang harus benar bahagia atau berpura-pura bahagia.


“Bagaimana bisa saya bahagia jika yang menjadi suami saya nanti, adalah suami Mba sendiri,” tutur Dira dengan deraian air mata.


“Pasti bisa, Ra, saya yakin itu. Suami saya akan memperlakukan kamu dengan sangat baik.” Asna tak kalah sendu. Matanya ikut membasahi dan berusaha tetap tersenyum walau hati meringis.


Dira langsung merengkuh tubuh Mba Asna. Ia sangat menyayanginya dan air mata terus bercucuran membasahi bahunya.


Di balik punggung Dira pun, Asna ikut terisak, tetapi ia berusaha kuat. Asna tak boleh terlihat lemah, sebab semua demi dirinya dan membuat suaminya bahagia.


Keduanya saling tangis dan menguatkan. Tidak boleh ada kesedihan lagi di antaranya. Apalagi menyambut hari bahagia Dira, wanita itu harus terus tersenyum.


“Bismillah, Ra, jangan pikirkan saya! Kamu fokus dengan dirimu saja.” Asna mengingatkan.


Usai saling bersedih, Asna kembali melanjutkan pekerjaannya. Melihat jam dinding memasuki waktu Zuhur. Ia pun segera membereskan dan membawa pekerjaannya pulang. Sesuai janjinya, Asna akan meluangkan waktu lebih banyak di rumah.


***


Sepulang di rumah, Asna melihat Imel yang tampak ceria karena kedatangannya. Anak itu begitu sumringah dengan senyum yang melebar, memang jarang Asna pulang di saat matahari menyorot.


Paling cepat, Asna pulang pukul lima sore dan itu pun suaminya sudah lebih dulu pulang. Kali ini, Asna tak akan menyiakan waktu yang ada. Mungkin momen ini akan dirindukan nanti setelah kehadiran anggota baru.


Berharap tidak ada yang berubah dan justru semakin erat rasa harmonis, yang ada dalam rumah tangganya.


“Uh, Bunda, Imel senang sekali,” kata Imel yang sudah merengkuh tubuh Asna.


Mendengar kalimat Imel, sepertinya memang dia begitu merindukan sosok ibu. Mungkin setelah acara inti nanti, Asna akan lebih sering menemani Imel.


“Hari ini kamu ada PR nggak?” Asna mencubit hidung Imel yang sedikit mancung.


Kelihatannya Imel memang seperti anak kandung, sebab kulit putih dan mata yang bulat serta hidung yang sedikit mancung persis dengan Asna.

__ADS_1


Namun, Asna tak pernah memberitahu Imel siapa dia sebenarnya. Pasalnya, cukup dirinya dan sang suami yang tahu.


“Nggak ada, Bunda.” Imel menggeleng.


“Bunda tumben sudah pulang?” celoteh Imel begitu comel.


“Iya, Nak, Bunda rindu sama kamu,” kekeh Asna mendekatkan hidungnya dengan hidung Imel.


"Kita buat sesuatu, yuk. Kamu mau apa?”


Asna menawarkan karena waktu malam masih panjang, dan masih banyak waktu untuk menghabiskan waktu bersama sang putri.


“Pizza saja, Bunda, buatan Bunda lebih enak.” Imel sangat antusias.


Asna pun mengiyakan dan langsung bergegas menuju dapur. Kebetulan bahannya juga masih lengkap, tanpa lama Asna membuat adonan pizza sesuai permintaan Imel.


Satu jam berlalu, adonan pizza sudah jadi dan Asna mengajak Imel untuk bermain yang lain, sebab adonan harus didiamkan terlebih dahulu sampai mengembang.


Mengingat waktu sudah masuk Zuhur, Asna mengajak Imel untuk menunaikan kewajibannya. Sejak kecil, ia sudah mengajarkan Imel tentang apa-apa yang wajib Imel kerjakan.


Walau hanya anak sambung, tetapi menjadi kewajiban Asna memberi ilmu dan pengetahuan kepada putrinya. Apalagi Imel seorang wanita sama sepertinya, yang butuh banyak ilmu untuk bekal ke depan.


Setelah menunaikan salat, Asna melihat Imel mengantuk dan ia menidurkannya di kamar. Ada rasa sedih, hampir setiap hari Asna tak bisa menemani Imel seperti ini, tetapi dia tidak pernah berkomentar.


Seharusnya, Imel layak mendapat kasih sayang seperti ini. Mengusap lembut kepalanya agar tidur nyenyak, hati Asna meringis meratapi setiap kesalahan yang ada.


Usai memastikan Imel tertidur, Asna kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia akan membuat satu pizza dan saat Imel bangun nanti, pesanannya sudah matang.


Setengah jam berlalu, aroma pizza sudah mewangi dan Asna mengeluarkan pizza itu dari dalam oven. Kemudian menyimpannya di atas piring besar, lalu ditutup agar tetap hangat.


Sebelumnya, Asna sudah menyisihkan untuk dirinya sendiri dan dibawanya ke ruangan kerja. Keadaan hening dan seperti ini selalu membuat Asna meluangkan waktu untuk menjahit.


Bahkan, Asna sampai lupa waktu jika sudah berada di ruangan kesayangannya sampai bajunya sudah menjadi gaun yang tampak sempurna. Ia bangkit, lalu merentangkan gaun itu di tubuhnya cukup memukau.


Asna pun memajangkan gaunnya di patung dan tersentak dengan tangan kekar yang sudah merangkul di perutnya.


“Sibuk sekali, Sayang!” bisik sang pria yang berada di telinga Asna.


Sang empu menoleh dan tersenyum melihat kedatangan suaminya. “Eh, Mas, kamu sudah pulang?”


“Baru saja sampai. Imel mencarimu dari tadi di bawah,” lirih Arkan yang belum ingin melepaskan dekapannya.


Asna tertegun. Tadi ia meninggalkan Imel saat tidur siang dan lupa memerhatikan kapan dia bangun.


“Maaf, Mas, aku dari tadi di sini.” Asna membalikkan badan dan menatap lekat wajah lelah suaminya. Kemudian, mengambil tangannya dan dikecupnya penuh takzim.

__ADS_1


Asna tak pernah lupa bagaimana cara menghormati seorang suami. Ia selalu patuh, sebab keridhaannya terletak pada suami.


“Kamu capek, ya, Mas. Biar aku siapkan air hangatnya, ya!” Asna mengambil tas yang berada di tangan Arkan, lalu melepaskan jas yang dipakainya.


Setelah itu, merangkul lengan suaminya untuk berpindah kamar. Biarkan Arkan membersihkan diri terlebih dahulu dan Asna yang akan menyiapkan pakaian gantinya.


“Kamu masih sibuk apa, Dik? Pulang cepat, tetapi tetap saja yang dipegang kain sama jarum.” Arkan sedikit kesal.


Senang melihat istrinya sudah di rumah lebih dulu, tetapi dia masih saja membawa pekerjaannya ke rumah.


Asna terkekeh, melihat sikap Arkan yang tampaknya cemburu. Saat itu, ikut duduk di samping Arkan, sedikit memberi pijatan di lengannya.


“Iya, tadi ‘kan waktunya luang, Mas, lagipula Imel tidur, jadi aku lanjutkan pekerjaanku sejenak.” Asna menjelaskan. Ia memang tak bisa melihat waktu kosong sedikit. Rasanya waktu lebih berharga dan sayang jika terbuang sia-sia.


“Iya, tetapi, Dik, jangan terlalu diforsir. Kamu juga butuh istirahat, kalo sudah di rumah tuh jangan pegang pekerjaan lagi,” tutur Arkan mengingatkan. Rasanya sudah berulang kali memberitahu, tetapi istrinya tetap tak mendengar.


“Hmm, iya aku minta maaf, Mas. Lagipula ‘kan pekerjaanku nggak mengganggu kamu.”


Asna sudah bergelayut maja di lengannya. Ia salah karena tak menyambut kedatangan Arkan bahkan tidak menyadari kehadirannya.


Cup! Cup!


“Sudah dong, Mas, jangan ngambek.” Asna memasang wajah memelas di hadapan Arkan bahkan ia mengecup pipi suaminya untuk meredakan kekesalannya.


Saat itu, Arkan pun langsung menoleh, lalu tangannya menggapit bahu Asna dan kedua kakinya. Tanpa meminta izin, ia mengangkat tubuhnya ala bridal style.


“Eh, mau ngapain, Mas?” tanya Asna mengernyit bingung dan merangkul tangannya di leher.


“Kita mandi bersama!”


“Tapi, Mas, Imel-“


Belum menyelesaikan ucapannya, Arkan sudah lebih dulu membungkam bibir Asna dengan lembut. Sedikit terkejut, tetapi itulah suaminya yang selalu memiliki cara agar dirinya bisa diam.


“Imel nggak akan mencari. Dia anteng makan pizza di bawah,” kekeh Arkan setelah berhasil membawa istrinya ke dalam kamar mandi.


Namun, melihat wajah Asna yang sedikit ditekuk, ada rasa tak enak hati padanya. Mungkin Arkan terlalu memaksa wanitanya.


“Baiklah, kamu boleh keluar, Dik!” Arkan mengizinkan wanitanya ke luar.


Asna mematung. Ia begitu sulit meneguk saliva yang berada di tenggorokannya dan bagai tersambar petir dalam hatinya yang mencelos.


Mata Asna berkedip melihat Arkan yang sudah membasahi sekujur tubuhnya di bawah kucuran shower. Mungkinkah dia kecewa?!


'Maaf mas, aku hanya ingin memastikan Imel terjaga, agar ibadahku ini tidak sia sia.' deru Asna, yang kala itu sudah membersihkan diri dengan wewangian. Setelah itu ia masuk, menghampiri suaminya.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2