DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
MAAFKAN MAS DIK!


__ADS_3

Arkan yang kala itu melihat jam, ia bergegas keluar ingin ke ruang administrasi, terkait Dira di perbolehkan pulang dan sudah dinyatakan membaik.


Beberapa hari ini, beban Arkan dan seringnya ke rumah sakit, membuat Arkan lupa pada Asna. Entah doa Asna, yang memang di kabulkan, sehingga Arkan lupa padanya, jika ia juga berada di rumah sakit yang sama.


"Sus, ini debit langsung! sore ini akan pulang pasien." Arkan memberikan sebuah struk, kartu debit! dan suster pun mengambilnya dari tangan Arkan.


"Di tunggu sebentar ya pak! saya segera urus seluruhnya, saya data ulang ya pak untuk pelunasan." ujar suster, membuat Arkan mengangguk.


Setelah mendapat pesan, dari ibunya. Arkan segera mengucap istighfar ketika ia di ingatkan kabar, jika Asna sudah pulang, dan menitipkan salam.


[ Arkan, ibu lupa! kalau Asna hari ini pulang, sebenarnya ga tega kalau kamu tinggalin Dira. Lebih baik kamu jenguk, setelah kamu antar Dira pulang. Tadi ibu ketemu Asna, dan ia nitip salam, agar kamu fokus sama Dira dulu. ] pesan ibu Yola.


Deg.


Arkan bagai patung, ia diam dan bersandar di celah dinding, salah satu tangannya menahan sesak, bulir air mata seakan runtuh mengalir begitu saja, kakinya benar benar lemah tak bisa melangkah. Bahkan ia paksa untuk ke ruangan dimana Asna di rawat. Di sana sampai pintu, ia hanya melihat suster sedang merapihkan kasur dan semua barang barang disana kosong tak tersisa.


"Sus, saya mau tanya. Pasien di sini kemana ya?" tanya Arkan, menghapus air mata.


"Oh. Pasien bernama Asna, sudah pulang dua jam lalu. Alhamdulillah pasien sangat diberi keajaiban pak, dia sembuh dari komanya. Banyak beberapa pasien lain, mengalami hal serupa, hanya 50%, bu Asna sangat sehat tidak terlihat seperti orang yang habis operasi dan koma."


"Baik. Terimakasih ya sus."


Arkan pun segera melangkah menuju ruangan Dira, dimana di sana ada ibu Hanna, mertuanya yang membantu Dira merapihkan pakaian putrinya. Arkan senyum, tak menampakan kesedihan di depan Dira, karena ia sebelumnya sudah ke toilet untuk cuci muka dan terlihat fresh.

__ADS_1


"Bang, Dira udah baik. Sepertinya Dira udah kuat jalan."


"Enggak dik! abang udah bawa kursi roda, ibu tasnya biar Arkan juga yang bawa, ibu jangan bawa yang berat berat."


"Makasih nak Arkan."


Mereka pun pulang, satu lengan tas itu di kenakan di selempang oleh Arkan, dan mendorong Dira menuju parkiran untuk pulang ke rumah dengan bantuan kursi roda.


Ada rasa penyesalan bagi Arkan, kenapa bisa ia melupakan Asna yang ia juga pasti membutuhkannya. Apalagi Arkan tak sempat melihat Asna, sadar dari koma. Hal itu membuat sebuah kesalahan bagi Arkan, dalam menjadi seorang suami yang gagal.


'Dik maafkan mas. Mas tidak bisa adil bagimu, apa yang harus mas lakukan, untuk menebus semuanya. Mas merasa bodoh dan bersalah padamu.' batin Arkan, yang berharap Asna mau mendengarkannya meski di tempat terpisah.


***


"Mbak yakin, ga mau ke penang lagi?"


"Enggak Asiyah. Biarlah mbak disini aja, rumah sakit yang kamu rekomendasi disini kan juga sama baiknya. Kalau pun mbak paksa sembuh, umur mbak tidak akan bisa di undur kan?"


"Mbak ga boleh mendahului allah mbak. Ingat mbak, allah bisa marah."


Asna seketika mengucap istighfar! meminta ampunan, sungguh Asna pikir ia membuka mata sudah ada di awan polos dan dunia yang tak pernah ia ingin lihat merasakan double kesakitan. Tapi sepertinya pencipta, telah memberi Asna waktu untuk memperbaiki dirinya, sehingga ia masih diberikan kesempatan hidup.


'Sesungguhnya aku tidak tahu rencana untukku ya Rab. Berikan aku kesabaran dan kekuatan dalam menjalani ini semua.' batin Asna saat itu.

__ADS_1


"Bunda, itu mobil Abie ya?" ujar Imel, menyadarkan semua, dan menoleh dari jendela. Sementara Imel, seolah menguatkan senyuman menatap Asna, memeluk Asna untuk menemani menyambut.


"Assalamualaikum." ujar Arkan tampak dari sebuah pintu terbuka.


"Waalaikumsalam."


"Nak Arkan, masuk nak!"


Asna sendiri senyum, menatap Arkan yang kembali sendu. Begitu celos, Arkan menghampiri Asna dan bersimpuh kala Asna duduk di kursi roda, Arkan mengimbangi setengah duduk menatap istrinya itu.


"Dik! mas rindu, maafkan mas Dik. Mas sangat sangat lalai dalam menjadi seorang suami."


Imel yang tiba dikejutkan dengan ucapan Abie nya, ia di ajak oleh Asiyah dan neneknya ke dalam. Dengan alasan membuka kado, seolah memberi ruang pada Asna dan Arkan untuk lebih leluasa berbicara serius.


"Mas! tidak seharusnya kamu seperti ini. Kamu harus mengendalikan sikapmu, di depan Imel. Tidak seharusnya mas tampilkan masalah kesedihan di depan Imel. Bagaimana pun anak anak sangat sensitif."


"Maafkan mas Dik!" tangis Arkan pecah, ia memeluk Asna, menciumi kening Asna berkali kali dengan permintaan maaf yang di ulang ulang.


Bagaimanapun Asna lah yang bersalah, semua ketidak adilan bagi Arkan dan dirinya, karena Asna yang membuatnya sehingga keadaan rumit dan serba salah.


'Semua sudah ketetapannya mas! jangan merasa bersalah, Asna baik baik saja. Mas Arkan harus banyak perhatikan Dira, dia lebih membutuhkan mas. Insyallah Asna ikhlas.' ucapan Asna, membuat Arkan semakin tidak bisa menahan air mata.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2