DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
DUA ISTRI MENYAKITKAN


__ADS_3

“Bunda.” Imel meringis lututnya semakin nyeri, bahkan lukanya semakin melebar dan banyak darah yang mengucur.


Asna yang terus memanggil mendengar sahutan Imel, tetapi entah di mana. Kemudian, ia melangkah memasuki rerumputan yang berada agak rendah dari jalan aspal. Ia berjalan perlahan, lalu terdengar suara rintihan di telinganya.


Ia gencar mencari, lalu menoleh ke arah kanan, dan matanya membola melihat Imel yang kesakitan.


“Astagfirullah, Nak, apa yang kamu lakukan di sini?” Asna panik dan melihat banyak luka di kakinya.


Tanpa pikir panjang, Asna langsung menggotong tubuh Imel yang tubuhnya masih bisa Asna angkat. Ia segera membawa Imel ke rumah sakit, memberinya pertolongan pertama.


"Sabar ya sayang! Bunda akan ajak Imel ke rumah sakit." usapnya.


***


Rumah Baru.


Sementara di beda tempat, Arkan merasa resah tak mendapat jawaban dari Asna. Tidak biasanya dia mengabaikan panggilan Arkan.


Sebab sesibuk apa pun Asna, dia selalu mengangkat teleponnya, lalu mengatakan jika sedang sibuk.


Namun, kali ini tak ada jawaban juga perintah, sehingga membuat Arkan berpikiran negatif.


“Apa mungkin dia marah perihal tadi pagi?” pikir Arkan yang berdiri di ambang pintu. Ia lupa sebab pergi begitu saja, melupakan Asna yang belum sempat mencium tangannya, menggandeng Dira langsung.


“Bang Arkan, tolong bawakan koper yang masih di teras ke dalam,” kata Dira meminta tolong, Ia memerhatikan suaminya yang menatap layar ponselnya dengan resah.


Entah apa yang sedang dia pikirkan, tetapi Dira dapat menebaknya. Siapa lagi jika bukan Mba Asna. Dalam pikirannya, memang hanya ada Mba Asna bahkan seluruh jiwa raganya dihabiskan oleh Mba Asna seorang.

__ADS_1


Pria itu pun tak menjawab, masih diam dalam heningnya seolah ada sesuatu sehingga mengganggu pendengarannya.


“Bang.” Dira mengusap lembut lengan Arkan.


“Ah, iya, Dik.” Arkan mengerjap melihat Dira sudah berdiri di sampingnya.


“Ada yang bisa Abang bantu?”


“Abang melamun, apa ada sesuatu?” tanya Dira penasaran.


Arkan terpaku, sejak kapan Dira berada di sana dan memerhatikan lamunannya. Lagipula bagaimana bisa dia tahu jika dirinya sedang memikirkan sesuatu?!


Ah, tidak enak sekali hidup dengan dua istri yang berbeda rumah. Rasanya hati dihantui rasa bersalah serta keresahan yang ada. Padahal, sama-sama sudah sah, tetapi hatinya tak tenang dan berasa selingkuh dari istri pertama. Itulah yang kini Arkan rasakan, rasanya jika ingin mengulang waktu, harusnya Arkan tegas tak menuruti Asna untuk menikah lagi.


Entah mengapa nasibnya menjadi seperti ini. Ia tidak senang dan justru gelisah, memikirkan dua wanita agar tidak ingin tersakiti sekaligus.


Dosakah dirinya yang memikirkan keadaan Asna di saat sedang bersama Dira? Ah, rasanya ingin dibelah dua saja raganya agar bisa mendampingi mereka masing-masing tanpa harus berpindah satu posisi menuju posisi lainnya.


Deg!


Bahkan, Dira bisa menebak isi pikirannya sekarang. Sungguh, tidak adilkah dirinya pada Dira sekarang?


Arkan pun menghela napas, lalu fokus memandang Dira. “Hmm, bukan hal yang penting ko, Dik. Sudah, tak perlu dirisaukan. Tadi minta tolong apa?”


Tangannya sudah menopang di bahu Dira agar wanita itu, tak lagi mencecar seolah tak ingin terbuka padanya.


Dira yang mendengar jawaban suaminya mengernyit heran. Sesak sekali rasanya, padahal tidak ada salahnya, ia mengetahui. Toh, ia juga istrinya atau memang Arkan sendiri tidak pernah menganggap dirinya sebagai istrinya.

__ADS_1


Wanita itu tidak tahu, tetapi sekuat apa pun Dira memaksa posisinya memang tak bisa berubah, sebab di hatinya hanya Mba Asna sebagai pemenang.


Arkan merasa bersalah karena mengabaikan pertanyaan Dira. “Dik, maafin Abang. Abang nggak mau kamu cemburu.”


Ia kembali berkata dan menelisik manik mata Dira yang sendu. Tanpa diberitahu pasti Dira sudah paham apa yang sedang dirinya pikirkan.


“Apa aku tak berhak untuk tahu, Bang? Bahkan sampai detik ini Abang masih menganggapku seperti orang lain. Maaf, jika aku lancang,” kata Dira berbicara dengan sopan.


Deg!


Arkan dilema, kedudukan Asna dan Dira memang sama bahkan hak dan kewajiban juga sama, tidak ada yang dibedakan. Namun, dari segi hati Arkan butuh waktu menerima Dira sepenuhnya.


Sejujurnya tidak ingin menyakiti, tetapi untuk bercerita tentang Asna, ia enggan rasanya. Apalagi untuk sekadar berbagi kisah, sebab hati wanita sangat sensitif dan mudah sekali rapuh.


“Maafkan Abang, Dik. Abang memang salah, tetapi Abang tak membedakan kamu dengan Asna. Kalian setara posisinya, tetapi di satu sisi Abang belum terbiasa denganmu dan merasa enggan.”


Arkan mulai menjelaskan dan mungkin agak sakit diterima oleh Dira, tetapi itulah adanya. Ia juga tak bisa membohongi perasaannya.


“Dira mengerti, Bang, tetapi Dira mohon jangan anggap Dira sebagai orang asing seperti ini. Dira juga berhak tahu apa yang sedang suami Dira rasakan. Jika seperti itu, rasanya Dira juga nggak berguna buat Abang,” kata Dira menyentakkan kedua tangan Arkan yang berada di bahu.


Pernikahan memang baru beberapa jam berjalan, tetapi Dira dapat merasakan keasingan sejak ijab kabul diucapkan.


Ia pun langsung berlari dengan deraian air mata, yang tak bisa lagi terbendung. Kemudian masuk ke dalam dan menutup pintunya rapat.


“Dik, buka pintunya. Maafin Abang, Dik,” ujar Arkan penuh salah. Tidak seharusnya mengasingkan diri bahkan ia telah salah telah meninggalkan malam pertama yang berlari ke rumah Asna.


Tak ada suara. Arkan merosotkan tubuhnya di depan pintu dengan tangis. Tungkai kakinya begitu lemas dan perasaannya membuncah penuh dosa.

__ADS_1


'Ya rabb, satu sisi aku salah. Harusnya aku lebih bisa cari tahu, kenapa Asna begitu memaksa menjodohkan semua ini. Bahkan rasanya aku tidak sanggup menduakan hati Asna.' batin Arkan, merasa sakit ketika kini merasa menyakiti dua perempuan.


TBC.


__ADS_2