
Bagai tersambar petir memerhatikan sosok wanita di hadapannya. Tubuh Arkan menegang dengan tangan yang tak bergerak sedikit pun.
“Di-dira,” lirih Arkan yang dipastikan tidak ada yang mendengar perkataannya.
Wanita itu ternganga, mengunci mulutnya menatap sang suami yang begitu mengenal. Bagaimana bisa? Sekelibat bayangan pun berputar mengenang beberapa tahun silam yang terekam.
“Ba-bang Ar-kan!”
Keduanya saling terkejut, tetapi langsung disadarkan oleh intruksi dari penghulu, sehingga banyak pertanyaan yang muncul dalam benak Arkan. Ia tak menyangka dan bagaimana bisa, hanya itu kalimat yang seakan sengaja kembali dipertemukan.
“Silakan dipakaikan cincinnya. Setelah itu, ada sesi foto bersama.”
Arkan langsung menyambar cincin yang masih dalam wadah dan dengan tangan yang bergetar meraih tangan mungil Dira untuk dipasangkan cincin di jari manisnya.
Begitu pun sebaliknya dengan Dira. Ia menarik jari kekar Arkan yang meragu, lalu menyematkan cincin tersebut ke dalam jarinya.
Tak ada yang tahu jika suaminya sekarang merupakan masa lalu Dira. Sungguh, Dira tak pernah menanyakan siapa nama lengkap suami Mba Asna bahkan tidak pernah berharap bisa dipersatukan.
“Alhamdulillah. Selamat, ya, kalian sudah sah menjadi suami istri,” kata penghulu sebelum meninggalkan tempat.
Tubuh Arkan semakin menegang. Bagaimana bisa Asna mengenali Dira, dan mengapa dirinya begitu bodoh tak menyadari semua yang telah Asna persiapkan.
Seharusnya, Arkan jeli tentang wanita mana yang ingin dinikahkan dan rasa cintanya terlalu besar kepada Asna, sehingga membiarkan wanitanya yang memilih.
__ADS_1
Namun, siapa sangka jika wanita itu merupakan kisah masa lalu Arkan sendiri. Ijab yang menggunakan bahasa Arab pun tak perlu menghafal nama pengantin wanita dan Arkan tak terlalu peduli dengan pernikahan ini.
Setelah semua berada di depan mata sungguh hatinya menjadi resah. Awalnya ingin mencoba untuk tidak memikirkan, seketika berpikir untuk menjalani rumah tangga ke depannya. Apakah Asna akan patah kala ia jujur diawal.
Acara pun berganti sesi foto. Asna yang memerhatikan cukup sedih dan tampaknya mereka jauh lebih serasi.
Ah, entah apa yang Asna pikirkan. Padahal, dirinya sendiri masih berstatus istrinya sendiri, dan tak boleh ada rasa iri juga cemburu melihat mereka yang akhirnya bisa berdiri berdampingan.
“Bunda, kenapa Abi sama Tante itu?”
Pertanyaan Imel lolos begitu saja. Gadis kecil yang tadi merengek ternyata memerhatikan apa yang terjadi pada abinya sendiri.
Bingung dan sedih itu pasti. Namun, Asna tetap memberikan pengertian kepada Imel agar bisa dipahami sesuai usianya.
Imel menggeleng. “Nggak mau Bunda. Bunda Imel hanya Bunda seorang.”
Tangan Imel sudah merengkuh tubuh Asna erat dan seolah dia tidak terima kehadiran Dira. Bahkan, matanya sudah basah karena tangis.
“Hei, dengarkan Bunda, Sayang. Kita nggak boleh egois, Bunda Dira juga baik ko. ‘Kan enak Imel jadi punya dua Bunda,” tutur Asna menguatkan hatinya. Ia tidak tega sedikit memaksa Imel untuk menerima Dira.
Sangat tidak mudah untuknya, tetapi seiring berjalannya waktu Asna yakin, jika Imel bisa menerima dan mengerti kondisi yang Asna alami sekarang.
“Imel hanya ingin Abi sama Bunda,” lirih Imel dari hati. Tangisnya tak tertahan dan rengkuhannya semakin kuat.
__ADS_1
Hati Asna pun runtuh, bagaimana tega melihat putrinya menangis karena keegoisan dirinya sendiri? Seketika tangannya terulur memberi usapan lembut di kepalanya dan mengecupnya penuh kelembutan.
Walau usianya masih belia, tetapi seolah hatinya tak terima atas keputusan Asna. Bahkan, kalimat Imel tadi memperjelas jika Arkan tak boleh berpaling.
“Imel tetap anak Bunda sama Abi ko, nggak ada yang berubah, Sayang.” Asna menenangkan Imel. “Maafkan Bunda, Nak,” lanjutnya lirih.
Asna hanya terisak dalam hati, belum saatnya Imel mengetahui permasalahan yang dialaminya sekarang. Suatu saat jika usia Imel sudah matang, pasti akan mengerti dengan sendirinya.
“Imel ‘kan anak baik, anak salihahnya Bunda. Punya dua Bunda itu pahalanya jauh lebih besar loh,” ujar Asna sedikit demi sedikit memberi pengertian.
Anak itu masih terisak dan Asna tak lagi melanjutkan kalimatnya. Biarkan dia menenangkan hatinya sejenak.
Tak lama, Arkan menghampiri. Mungkin dia melihat Imel yang menangis, lalu menyapanya dengan ragu.
“Imel.” Tangan Arkan menyentuh punggung Imel.
“Maafkan Abi, Nak sudah membuatmu marah dan menangis.”
Hati Arkan runtuh melihat putri kesayangannya yang belum bisa menerima kenyataan. Ia dapat merasakan bagaimana kesedihan juga tangisnya yang begitu hebat.
“Nak, Abimu memanggil. Nggak boleh diabaikan begitu. Ayo dong gimana baktinya sama Abi?” Asna berbicara lembut sembari mengingatkan apa yang telah diajarkan.
"Ga mau, Imel benci sama Abi." celos begitu saja, mengumpat dibalik punggung Asna.
__ADS_1
TBC.