
Mungkin dia masih merindukan kehadiran Arkan, karena memang Imel sangat dekat dengannya. Setiap harinya lebih banyak berinteraksi dengan Arkan daripada dirinya.
“Ayo kita masuk.” Asna membawa barang mainannya ke dalam, sembari menggandeng Imel yang masih diam.
“Kamu jenuh di rumah, mau main?”
Asna tidak tega melihat Imel yang tak semangat. Pasalnya, sudah lama juga tak membawa Imel pergi. Mumpung masih libur dan belum kembali pada aktivitas, Asna pun siap membuat putrinya tersenyum.
“Ya sudah segera bersiap. Bunda akan mengajak ke tempat kesukaan kamu,” kata Asna tersenyum.
"Iya bunda, makasih Bunda."
Setelah bersiap, Asna melajukan mobilnya perlahan membelah jalanan dan raut wajah Imel sudah berubah sedikit berbinar.
Kini, dia kembali berceloteh dan tampak senang dengan apa yang dilihatnya di sekitar. Mungkin Imel memang merindukan suasana seperti ini, tetapi Asna tak peka sehingga hanya menghabiskan waktu di rumah.
Usai melewati pepohonan juga berbagai gedung yang agak menjulang, tetapi jelas ketara, sehingga Asna berhasil menghentikan mobilnya berada di taman.
Taman penuh bunga kesukaan Imel yang sangat mencintai tanaman. Entah sudah berapa banyak macam tanaman yang Imel minta untuk dirawat.
“Bunda, serius kita turun di sini?” tanya Imel melirik bundanya yang baru saja mematikan mesin mobil.
Asna mengangguk sembari tersenyum. “Iya dong. Kamu bebas bermain di sini.”
__ADS_1
Saat itu, Asna membukakan pintu untuk putrinya dan turun membawanya mendekati taman bunga. Imel tampak senang dan wajah yang tadinya cemberut langsung berubah merekah seperti bunga yang baru mekar.
Asna sendiri duduk di kursi panjang sembari memerhatikan Imel yang sedang belari ke sana kemari mengejar kupu-kupu.
“Hati-hati, Nak, jatuh,” kata Asna mengingatkan. Hatinya senang bisa melihat Imel kembali ceria.
Tak lama, ponsel Asna berdering, lalu menatap layar di ponselnya yang ternyata sang ibu. Asna pun langsung menggeser tombol hijau ke atas dan mendekatkan benda itu di telinganya.
“Waalaikumussalam, ada apa, Bu?”
Hangat sekali mendengar suara ibu yang rasanya sudah lama tak saling bersua Wanita yang membuat Asna kuat dan mengajarkan arti kehidupan yang sedikit kejam.
“Asna lagi ngajak Imel bermain di taman, Bu. Kenapa?”
[“Nggak apa, Nak. Ibu hanya memastikan saja, lalu apa kalian tidak bersama Arkan?”]
“Kami hanya berdua, Bu. Mas Arkan baru saja menikah, biarkan dia hidup dengan istri barunya.”
Kalimat Asna membuat seorang wanita di seberang sana merintih. Entah apa yang dirasakan, apa Asna telah salah berucap? Ia rasa tidak, semua sudah menjadi resiko dan konsekuensinya masing-masing.
[“Nak, semulia itu hatimu sampai membagi suami sendiri. Apa kamu tidak cemburu pada istri keduamu, lalu bagaimana dengan Imel yang perasaannya terpukul melihat Abi yang dibanggakan bersanding pada wanita lain, Nak?”]
Asna menghela napas. Ia memang belum menceritakan tujuannya pada ibu, bahkan hampir menutup diri dari sang ibu. Sebagaimana meskipun Asna memiliki ibu, tetapi semua permasalahan rumah tangga tak bisa diceritakan begitu saja kepada ibu.
__ADS_1
Ia juga memiliki privasi dan bukan tak percaya pada ibu, tetapi memang tak diperkenankan untuk bercerita, khawatir menjadi adu domba dan timbul perselisihan.
Asna menjaga itu, tidak ingin ibu menjadi salah paham dan membenci Arkan nantinya. Ini semua murni kekurangannya dan menjadi tanggung jawab seorang istri.
“Bu, wanita memang memiliki sifat pencemburu, tetapi yang Asna lakukan untuk ibadah bukan hawa nafsu. Maafin Asna jika mengecewakan Ibu. Doakan saja yang terbaik untuk Asna dan Mas Arkan, ya, Bu. In syaa Allah madu Asna orang baik.”
Asna menjelaskan perlahan dan ibu memang tidak tahu betul seperti apa madu Asna, sebab saat pernikahan Arkan, ibu pun tak bisa hadir lama karena bentrok dengan acara adik Asna di sekolah. Ia juga tak mempermasalahkan dan cukup doa ibu yang membuat Asna berdiri kuat.
“Mengenai Imel, Ibu nggak perlu khawatir. Dia anak baik, Bu, Alhamdulillah sudah bisa menerima Dira.”
Ibunya pun tak berbicara lagi dan sempat hening beberapa detik, lalu kembali terdengar suara. Saat hari pernikahan Arkan, ibu Asna datang hanya sebentar karena urusan penting, hal itu yang membuat ibu Asna tidak lama, atau memang karena ibu Asna tidak sanggup melihatnya, sehingga tak melihat jelas wanita bernama Dira.
[“Tanpa diminta Ibu selalu mendoakanmu, Nak. Kalo ada apa-apa, kabarin Ibu, ya, segera pulanglah, kami semua merindukanmu.”]
“Iya, Bu, in syaa Allah nanti ada waktu libur panjang, Asna pulang ke sana.”
Kalimat demi kalimat terakhir pun dilontarkan dan Asna mengakhiri sambungan telepon, lalu beralih kepada Imel yang tak ada suara.
“Imel.”
Asna mengerjap kala melihat Imel tidak ada di hadapan. Ia beranjak, lalu berjalan ke kanan dan ke kiri di sekitar Imel bermain tadi, tetapi tidak ada.
“Imeeeelll,” teriak Asna keras.
__ADS_1
Asna panik, ia terus memanggilnya dan entah ke mana anak itu pergi. Ah, ia teledor karena asyik berbincang pada ibunya tadi sampai melupakan Imel.
TBC.