DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
IRHAM EMOSI


__ADS_3

Arkan kembali terpukul, dia tidak lagi bersuara. Sebelum kembali ke depan ruang Igd! Ia mengirim pesan pada sang ibu mertua, untuk menitipkan Imel. Bahkan kala itu Dira datang menyusul membuat Arkan masih diam bagai hidup dan matipun enggan.


"Bang, boleh Dira ikut duduk di samping bang Arkan?" tanya Dira, membuat anggukan Arkan duduk lemah di depan ruangan dokter.


Sementara dokter keluar, ia terlihat kembali observasi pasiennya, yang bernama Asna. Arkan hanya bisa, menangis tanpa bersuara membuat Dira ikut sedih.


'Bang! setidaknya beritahu Dira, apa yang bisa Dira bantu? Dira juga sedih, ada apa dengan semuanya bang. Apa abang melukai hati Asna, sebab ..'


"Cukup dik! abang hanya ingin fokus Asna sembuh. Abang ingin meminta maaf, abang bersalah dik! kamu juga nanti harus pulang, jaga kandungan kamu agar baik baik saja!" pinta Arkan.


Dira menatap lembaran data Asna, hal yang menohok membuat Dira tak habis pikir. Kemarin kemarin ia selalu merasa ingin dinomor satukan, tanpa memikirkan hati mbak Asna. Tapi kala ini Dira juga ikut bersalah, pantas saja mbak Asna meminta dirinya menikahi suaminya terus menerus. Rupanya, orang sebaik mbak Asna, membuat malu Dira karena ia sering menyakiti mbak Asna, dengan menahan suaminya dengan alasan lembut.


"Jadi mbak Asna, kangker stadium 3 bang?"


"Tolong jangan beritahu yang lain, dik! abang sangat bersalah, kemarin abang memarahi Asna, karena ia pergi tanpa izin abang. Hanya seutai pesan tanpa menunggu abang. Jadi abang mendiamkannya hingga saat ini."


Deg.


Dira lagi lagi terdiam, ia hanya memegang bahu suaminya untuk bersabar.


'Maafin Dira ya Bang! Dira minta maaf, karena sudah jadi Duri dalam Pernikahan Abang dan mbak Asna.'


"Enggak dik, semua salah abang. Abang yang tidak siap dan tidak mampu adil pada kalian berdua. Abang berharap Asna sembuh, abang ingin mempertanggung jawabkan atas khilaf abang yang menjadi suami belum sempurna."


Tak lama Dira dan Arkan kembali ke ruang Igd. Ia menatap Imel dan memeluknya erat.


"Abie! kenapa bunda belum selesai juga, kenapa lama sekali. Huhuhu." isak tangis Imel membuat Arkan dan Dira tak tahan, terlebih di ujung sana terlihat Irham tiba, setelah menghandle beberapa klien.

__ADS_1


Dira yang menoleh, ikut dikejutkan dengan Mas Irham yang tampak biasa saja, tapi lebih ke dekat pada bu Hanna yang menyalaminya. Atau mungkin karena Irham sudah tahu jika dirinya suami bang Arkan.


"Gimana keadaan Asna?" tanya Irham pada Arkan.


"Masih di ruang pemeriksaan."


Sreeth! hidung Arkan juga sudah meler, merah dan sembab sudah terlihat.


"Dik, kenalkan ini Irham. Partner kerja abang, sahabat abang. Teman baik Asna juga, di university yang sama."


'Gue dah kenal, ingin sekali Irham nyerocos seperti itu, tapi ia tak sampai hati.' batin Irham bergerutu.


Irham juga menyalami Imel dan mendekat ke anak cantik kesayangan Asna. Irham tidak percaya, kenapa bisa Arkan bodoh! mau menikah lagi, padahal anak secantik Imel sudah sangat berwarna dan harmonis. Meski Irham juga baru tahu, jika Imel adalah anak dari bibi Asna yang mati syahid. Tak lama malangnya lagi ia ditinggal ayahnya karena tidak sanggup menghidupi dan bunuh diri. Benar benar istri solehah, andai Irham dulu tidak kalah cepat, mungkin ia sudah khitbah Asna jika tahu Arkan akan menyakiti Asna seperti ini.


'Kangker rahim itu bukankah dari pria yang berganti pasangan, atau juga karena faktor keturunan dan suatu gejala penyakit dari satu hal! menyebab menjadi luka?' benak Dira penat dari ujung berdiri, masih syok keadaan Asna, karena ia tahu mbak Asna bersih dan tidak mungkin sekotor wanita malam, hingga Dira kesal apakah semua ini dari masa lalu Arkan yang nakal, hingga Asna yang menderita. Entah kenapa pikiran buruk Dira tiba melayang begitu saja, ke arah sana.


"Imel, tangan Imel kenapa?" tanya Arkan.


Deg.


Terdiam Arkan, syok baru tahu.


"Apa, jadi Imel hilang nak?" tanya nenek Nira, yakni ibu dari Asna, ia begitu tidak percaya hal sebesar ini Asna umpatkan.


"Arkan, bagaimana bisa kamu tidak tahu. Jika hal seperti ini Asna tidak kasih tahu kamu, apa ada lagi hal besar lebih dari ini. Kamu juga tidak tahu?"


Terdiam Arkan, ia benar benar menjadi suami yang gagal. Tidak adil, jauh dari kata suami sempurna. Hal itu membuat Arkan meminta maaf pada ibu mertuanya. Terlebih di sana ada sosok ibu Yola, ia yang sudah tahu dari awal hanya diam saja, sebagi ibu Arkan.

__ADS_1


"Dira, ada baiknya kamu pulang bersama Imel bareng ibu, rumah sakit ga baik untuk anak anak dan kamu yang sedang hamil."


"Tapi Dira mau .."


"Dik! pulanglah, tunggu kabar abang. Titip Imel jaga Imel dik. Ibu titip Dira dan Imel." ucap Arkan pada ibunya.


"Heeumph."


"I-iya bang."


Dira dan Imel pun pulang, dengan ibu Yola serta ibu Hanna. Tidak termasuk ibu Nira, ia lebih memilih menunggu dan menuju mushola.


Sementara Arkan duduk di temani Irham, yang berdiri menatap Arkan. Andai pukulan bisa membuatnya senang, tapi Irham tahan karena kesal akan sikap Arkan yang tidak becus jadi pria atau suami.


Tak lama dokter keluar membuat Irham syok.


"Keluarga Asna."


"Saya dok!"


"Bu Asna harus di operasi pengangkatan rahim, meski kangker itu masih ada. Setidaknya tidak menyebabkan infeksi dan menyebar lebih. Jika bersedia bapak segera tanda tangani dan prosedur administrasinya."


"Baik, saya minta lakukan yang terbaik dok! selamatkan istri saya."


Irham tidak percaya, apa karena Asna sakit kangker sehingga Arkan menikah lagi. Membuat Irham ingin sekali meninju sahabatnya itu.


"Kau boleh memarahiku Irham, aku tahu hatimu masih ada pada istriku. Diam diam kau menyukainya kan?" lirih Arkan.

__ADS_1


"Haha! sudah basi, satu kata. Kata yang tepat adalah k-a-u i-t-u #T-O-L-O-L." bentak Irham yang pergi, ke bagian administrasi lebih dulu, mendahului Arkan yang masih terdiam dengan kesedihan.


TBC.


__ADS_2