DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
BERBOHONG


__ADS_3

Irham sendiri melangkah menuju keberadaan Arkan, dimana ia melewati lorong pintu. Disana terlihat Arkan sedang mendorong ranjang rumah sakit menuju kamar vip.


"Eum. Dira juga sakit, kenapa dengannya?" langkah Irham sedikit cepat, namun terhenti seketika.


Arkan yang saat itu memastikan Dira baik baik saja, didalam menemani Dira. Ia senyum menunggu Dira, dengan menciumi tangan Dira, semoga metode ini Dira benar benar membaik hatinya. Arkan yang mengusap rambut Dira, setelah perawat keluar. Membuat Dira menoleh senyum.


"Bang! maafin Dira, udah bikin beban ya."


"Dik! kamu itu dan Asna semua sama sama setara posisi istri abang. Jika abang salah dalam memimpin mu, katakan semuanya! abang hanya masih belajar menjadi suami baik dan adil. Jangan sembunyikan apapun dari abang dik! Jika istri benar benar cinta dan ikhlas dalam pernikahan ini. Jangan pernah menyembunyikan sesuatu, bahkan kita sudah sepakat kan?"


"Demi allah bang! Dira ikhlas, hanya saja Dira .."


"Asna dan kamu akan abang jaga! tapi kamu akan abang perhatikan, kamu ga boleh mikir hal aneh aneh. Ga boleh capek, abang akan temani kamu lebih banyak. Kamu dan bayi kamu harus sehat baik baik saja. Jangan pernah angkat barang yang berat, jangan pernah jalan jauh. Kamu kalau mau kemana, ada apa apa. Telepon abang, di saat abang di kantor. Abang udah minta dua orang irt untuk masak, dan bebersih. Abang udah minta sama ibu, untuk memperhatikan kamu jika abang dikantor."


"Iya bang. Dira mengerti, Dira akan jaga lebih baik lagi." senyumnya.


Tanpa sadar, di balik pintu Irham tak jadi mengetuk. Ia juga bingung, bagaimana keadaan Dira yang diyakini lemah, satu sisi bagaimana Irham memberi kabar, jika Asna sudah siuman. Sedangkan Dira juga membutuhkan Arkan.


'Di saat seperti ini, apa kau bisa adil bro?' gerutu batin Irham, pergi dari tempat posisinya.


Dira sendiri nampak melihat rambut pria yang berdiri, tapi pergi tak terlihat. Sehingga Dira kembali beristirahat, dan menatap senyum ketika bang Arkan memotong buah.


"Sudah ketemu Arkan nya nak?" tanya bu Nira, yang kala itu terlihat Asna, di ranjang rumah sakit sudah membaik.


"Be-belum bu. Maaf! Irham tidak berani panggil Arkan, sebab .." terdiam Irham, yang sudah tahu jika menantunya itu sulit. Bahkan seorang temannya saja tidak enak untuk menghampiri, sehingga bu Nira nampak mengangguk paham.


"Gak apa apa, nanti ibu bilang sama Asna."

__ADS_1


Nira sendiri merasa tak kuat, ketika lagi lagi hati putrinya akan sakit jika tahu, Arkan sendiri sedang berada di ruangan lain, menemani Dira yang sudah pasti terjadi sesuatu, biasanya Nira tahu kondisi kehamilan muda memang amat rentan.


"Mas Arkan ada bu?" tanya Asna, yang kini sudah duduk menyandar.


"Arkan sedang pulang dulu nak! biar ibu temani ya, sampai Arkan kembali." di anggukan Asna, Nira sendiri meminta maaf dalam batinnya, karena telah membohongi putrinya demi sepupunya sendiri.


Imel yang duduk di samping Irham, menunggu Abie nya. Ia juga ikut menatap Irham yang entah sedang memikirkan apa.


"Om Irham, temen bunda atau temen Abie?"


"Em, temen bunda sih sebenarnya satu kampus, satu kelas. Tapi sama Abie, satu kampus beda kelas. Cuma om sama Abie Imel itu, pernah satu tim dan deket. Sahabatan deh sampai sekarang."


"Oh! emang boleh ya Om. Kalau punya temen bukan sesama cewe atau cowo?"


"Bo-boleh sih. Kan masih batas wajar, kalau tugas kelompok juga enggak semua cewenya."


"Hayoo! ada yang kamu naksir ya, temen cowo nya?" goda Irham.


"Ih! enak aja, enggak ada tahu Om. Aku masih kecil, lagian kan haram om. Jangan jangan Om ni yang suka sama temen cewenya di kelasnya dulu."


"Hiks, kamu kok gemesin deh, tau aja deh. Pinter banget balikin kata." Irham pecah seolah menggelitik.


Tidak ada yang salah, perkataan anak kecil itu memang benar. Dulu Irham pernah menyukai Asna, hingga ia menunggu waktu yang tepat, tapi syok ketika Arkan sahabatnya itu telah ke rumah Asna dengan cara ta'aruf. Andai Irham dahulu tidak pergi ke singapore, soal bisnis keluarga, mungkin dirinya yang akan membahagiakan Asna, tidak seperti saat ini melihat wanita yang ia sayangi dahulu secara diam, mempunyai bahtera yang berkelit.


Irham pun masuk menemui Asna, dan ibunya di dalam. Sambil Imel saat itu disebelahnya senyum, seolah nampak akrab bagai ayah dan anak.


"Imel, kamu deket sama Om Irham terus?"

__ADS_1


"Habisnya nunggu Abie lama nek."


"Asna, aku senang kamu siuman. Tapi menunggu Arkan sepertinya ga akan keburu, jadi aku pamit ya!"


"Thanks loh Irham, nanti kalau mas Arkan udah datang, aku sampaikan salam kamu. Tapi siapa tahu kamu ketemu di parkiran. Iya kan bu? soalnya mas Arkan katanya pulang dulu."


Deg.


Irham sendiri menoleh menatap ibu Nira, bahkan bukan seorang sahabat saja yang tidak tega, melainkan ibu yang melahirkan Asna sendiri, tidak tega jika jujur, untuk mengatakan yang sebenarnya.


'Andai waktu bisa di ulang Asna, aku sangat prihatin jika tahu, kamu dimadu oleh Arkan.' batin Irham.


"Ya. Oke, cepat pulih ya As. Bu! maaf Irham pamit dulu, dan anak manis. Om pamit ya, sampai ketemu lagi."


Bye .. Om! sumringah Imel kala itu.


Lalu Imel sendiri memeluk Asna sambil bercerita.


"Bun - Abie pasti nunggu bunda Dira di ruang igd. Apa Imel samperin aja ya? kasih tahu bunda udah sadar."


Deg.


Seketika perkataan Imel, membuat bu Nira gugup terdiam.


Asna sendiri ketika Irham pergi, ia melihat wajah ibunya yang berbeda. Kala Imel berbicara begitu saja, membuat pikiran Asna sudah paham kali ini.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2