DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
BERSIMPANGAN


__ADS_3

Arkan yang kali ini pulang ke rumah, ia cukup dikejutkan dengan tulisan meminta izin, tidak biasanya selama sepuluh tahun terakhir Arkan mengenal Asna, dia tidak pernah melangkahi aturan yang membuat Arkan naik pitam. Seolah Asna wanita yang mandiri, wanita sukses dengan usahanya bisa seenaknya begitu saja, batin Arkan pun sangat kecewa terhadap istrinya itu.


"Dik! kenapa kamu jadi seperti ini? apa karena abang bersama Dira. Kenapa kamu menjauhi mas dik. Jika itu mau mu, mas akan pulang ke rumah Dira. Meminta keinginanmu itu."


Arkan begitu kecewa karena sikap Asna jauh lebih tidak menghargai suaminya, menghindar darinya seolah ia tahu jika Asna sangat berubah, tidak sedikitpun mau mengangkat teleponnya. Entah Asna marah atau karena ini adalah kecemburuan yang mana pernikahan ini kemauan Asna.


Dengan gusar! Arkan ke kantor. Seperti biasa meeting dan berbagai kegiatan deadline ia kerjakan semalaman. Mengingat tidak ada Asna di rumah, Imel tidak ada. Rasanya separuh jiwanya kosong begitu saja, membuat diri Arkan tertuju pada ponselnya saja. Arkan juga sesekali melihat ponselnya, tak ada satupun pesan balasan dari Asna. Hingga rapat berakhir, Arkan masih dengan lamunan yang membuatnya ingin memutuskan salah satu di cerai!


"Gue liat lo kaya orang frustasi bro?" ujar rekan Arkan menelaah.


"Sedikit problem aja! gimana ga karuan, Asna pergi tanpa kasih kabar, cuma lewat kertas ini di rumah dan pesan. Bahkan saat ini ponsel ga aktif?" cercah Arkan menghela nafas.


"Lo sendiri gimana, katanya melamar jadi?"


"Enggak! soalnya dia menolak, karena alasan apa gue enggak tahu pasti. Yang jelas belum ditakdirkan bersama aja, padahal dia anak yang baik."


"Oh, mungkin jodoh lo belum dipertemukan aja."


"Eh, gini deh Arkan. Sebagai temen gue tahu lo, lo kan tahu, gue punya beberapa saham di perusahaan ini karena sampingan aja, selain beban kelola rumah sakit kan. Gue nyari calon bini yang solehah, bukannya Asna yang gue kenal dia itu tipe yang ga mungkin menomorduakan lo, lo ga cari tahu Asna nyimpen sesuatu kan?" tegas Irham.


"Entahlah! akhir akhir ini gue udah nurutin permintaannya dia, tapi Asna yang gue kenal semakin menghindar." deru nafas Arkan, membuat Irham tak percaya.


Irham sebagai teman baik Arkan dan Asna di waktu kuliah, ia tidak pernah mau tahu ranah urusan mereka. Hanya sekilas karakter dari keduanya saja Irham tahu dan memberi nasihat pada Arkan. Sebenarnya saat dahulu di kuliah Irham sudah suka dengan Asna, akan tetapi lebih keduluan oleh Arkan yang melamar, membuat Irham kalah satu langkah. Dan kini ia dekat ingin melamar seorang wanita, wanita itu menolak lamarannya membuat Irham masih betah sendiri saja.

__ADS_1


Hingga Arkan memutuskan pulang! dan Irham juga ikut pulang, mereka kembali membahas pekerjaan soal klien yang mereka akan bahas di penang.


"Jadi esok kita harus ke penang?" tanya Arkan.


"Ya! rumah sakit pendiri kakak gue bermasalah, mangkanya gue minta bantu, lo kan tau bidang bahan kokoh. Supaya rumah sakit itu tetap kuat, gue serahin sama lo Arkan." ujarnya membuat Irham senyum lebar.


***


Esok Harinya.


Sementara di berbeda tempat, Imel dalam pemeriksaan lebih lanjut, ditemani bibi Asiyah! ia adalah sepupu Asna seorang perawat di ruang berbeda, setelah di rasa cukup baik, Asiyah menemani Imel di rumah Asiyah sambil menunggu pemeriksaan Asna yang disembunyikan dari Imel.


"Bi Bunda masih lama ya?"


"Enggak, cuma sebentar sayang! Melainkan rumah sakitnya dari tempat bibi kelihatan kan?" senyumnya.


"Hehehe iya dong! kebetulan bibi Asiyah dines malam. Nanti sebelum bunda kamu pulang! ayo habisin sandwich sama susunya. Biar kamu cepet besar. Ingat jangan buka kunci selain bibi dan bunda." celotehnya Asiyah merasa terhibur.


"Siap bibi cantik."


"Bibi mau bersiap dulu ya cantik! bentar lagi bunda Asna pulang kok." di anggukan Imel.


Sementara Asna dalam ruangan dokter lain, ia begitu terkejut ketika dokter memberikan hasil scan yang membuat semua wanita alami bagai tersambar petir.

__ADS_1


"Ini adalah kangker serviks stadium 2! sebelumnya ibu Asna pernah mengalami hamil anggur, tapi penyempitan yang membuat ibu Asna rasanya tidak mungkin hamil dalam waktu dekat, mengingat sudah stadium 2. Saya sarankan untuk di operasi pengangkatan rahim bu, sebelum menyebar ganas, dan lukanya melebar."


Degh!


Asna tak bisa lagi berkata kata, bahkan memang keadaan nyeri sering Asna rasakan tanpa sebuah luka, tapi Asna tidak tahu jika luka itu tidak terlihat di dalam sana. Asna begitu rapuh, hilang sudah kodrat dirinya sebagai wanita dan istri sempurna.


'Untuk apa di operasi, jika dirinya tidak akan pernah merasakan menjadi ibu seutuhnya. Asna pun kembali dengan mengusap air matanya! ia sudah cukup paham dengan apa yang ia rasakan saat ini, adalah bertahan untuk terlihat baik baik saja.'


"Obat ini cukup mahal! perlu rutin setidaknya kontrol dua kali dalam sebulan, tapi tidak baik jika dikonsumsi lebih dari tiga bulan. Saran saya ibu konsultasikan dengan keluarga untuk pengangkatan rahim." deru sang dokter di dalam ingatan Asna, yang kini berjalan dengan tatapan kosong.


Loket obat!


Asna menunggu antrian, tanpa sadar dibelakang ada sebuah mobil yang Arkan dan Irham tumpangi, yang baru menepi melewati apotek besar itu di dalam rumah sakit menuju lantai bawah parkir. Sementara posisi Asna duduk membelakangi mobil taksi yang Arkan dan Irham naiki, tanpa terlihat dan memang mereka tidak dipertemukan saja sehingga bersimpangan.


"Atas nama Asna?"


"Saya Asna." jawabnya.


"Tiga Juta Empat Ratus untuk dua obat ini ya bu! setelah habis mohon kontrol lagi!"


Asna mengambilnya, ia memfoto struk resep obat. Dan saat ini begitu banyak obat obatan untuk satu bulan, membuat Asna berfikir keras selagi ia masih bernafas, dirinya akan selalu ketergantungan dengan obat itu.


'Maafin Asna mas. Asna tidak sempurna untuk mas, mungkin takdir mas adalah Dira! keluarga yang utuh yang allah swt ciptakan.' isak Asna kala itu berjalan.

__ADS_1


Tanpa sadar di depan Arkan sedang menerima telepon, Asna melewatinya begitu saja, dan kala itu Arkan sedikit menoleh.


TBC.


__ADS_2