DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
ARKAN TEGA


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Arkan terlihat sibuk pada Dira, mengantar Dira pulang. Arkan sendiri mengira Asna masih belum siuman, bahkan ibu Nira sendiri dimintai putrinya untuk tidak memberitahu suaminya, jika dirinya telah sadar dari koma.


Sekaligus Nira juga sedikit memberi pelajaran bagi Arkan, mertuanya itu ingin tahu apakah menantunya bisa berlaku adil, dan peka terhadap istri pertamanya.


"Asna, ibu pikir kamu lebih baik memutuskan. Ibu melihat kamu seperti ini, rasanya ibu ga sanggup nak. Kenapa kamu memilih jalan seperti ini, bahkan ibu seorang wanita. Melihat Arkan padamu berubah, ibu ga rela."


"Bu! Asna sudah memutuskan semuanya, lagi pula jika mas Arkan dekat dengan Asna. Apa yang bisa Asna lakukan, Asna sendiri sudah gagal tidak bisa memperlakukan mas Arkan layaknya suami, hanya Dira yang sempurna. Ia punya rahim, dan bisa melahirkan anak bagi mas Arkan. Bahkan Asna sendiri, hanya sukses materi, tapi tidak utuh sebagai seorang istri. Asna ikhlas bu." sendu menahan sesak, terlihat Nira memeluk melihat putrinya mengembang air mata.


"Ibu yakin kamu sembuh Asna. Ibu juga minta maaf, atas perlakuan Yola. Sebenarnya ibu ingin sekali tegur dia, seorang ibu yang tega menyakiti hati anak ibu. Bahkan kenapa bisa kamu pilih Dira, dia masih sepupu kita?"


"Bu! ketimbang perempuan lain yang Asna tidak kenal, lagi pula ibu Hanna kan adik satu ayah bagi ibu, Asna juga prihatin akan kehidupan Dira dan ibunya. Terlebih apapun, Asna yakin dia wanita baik. Dan jodohnya, mas Arkan adalah masa lalu Dira, sebelum mengenal Asna. Bukankah itu jodoh bu? Asna tidak perlu repot untuk membuat mereka saling jatuh cinta."


Deg.


Hati Nira, sebagai seorang ibu. Benar tidak percaya, akan keputusan putrinya yang tidak semua wanita ikhlas. Asna putri satu satunya, seolah bagai cerminan dirinya untuk belajar ikhlas. Dimana Nira sendiri sebagai ibu, hanya bisa suport untuk Asna saat ini.


"Ibu tidak bisa banyak bicara dan tidak akan ikut campur urusan kamu Nak! tapi ada sesuatu tolong beritahu ibu. Rencana kamu saat ini apa?"


"Asna, sudah hubungi Asiyah untuk datang bu. Sementara tinggal di tempat ibu dulu ya, sama Imel. Asna minta maaf merepotkan ibu lagi."


"Enggak nak! kamu tidak pernah merepotkan ibu. Ibu senang kalau kita kumpul bersama, jika kamu benar benar ingin kemo, bersama Asiyah. Ibu akan jaga Imel, selagi kamu berobat."

__ADS_1


Asna mengangguk, ia memeluk ibunya yang benar benar menguatkan diri Asna. Hingga tak lama, ibu Nira merapihkan baju baju Asna. Bahkan kali ini, Asna sudah duduk di kursi roda, ia keluar bersama sang ibu dari ruangan itu. Karena saat ini, Asna akan pulang ke rumah ibunya dan tinggal untuk sementara waktu.


"Asna. Ibu kayaknya ada yang lupa deh, ibu nebus obat kamu dulu ya. Kita ke apotek dulu."


"Asna tunggu disini aja bu."


"Ya udah! tunggu sebentar ya nak."


Selepas ibunya berbelok arah, Asna tertuju pada ingatan kata kata ibunya di telepon, dimana ibunya mendapat kabar dari ibu Hanna. Yakni dia adalah ibu Dira yang di rawat di lantai yang sama, berbeda ruangan.


Teratai kamar nomor 11A. Asna segera menjalankan kursi rodanya, setelah di rasa benar. Asna sedikit memajukan hingga menepi di salah satu pintu yang terlihat terbuka, setelah bu Yola keluar, tapi karena beda arah, ibu mertuanya itu tidak melihat Asna, karena balutan pashmina lebar, dengan masker serta kacamatanya. Sehingga sulit di kenali dari jarak sedikit jauh.


Benar saja, Asna melihat mas Arkan menunggu Dira, ia sedang terbaring. Sementara Arkan, tertidur nampak di lengan Dira yang sama halnya tidur beristirahat, bahkan salah satu tangan Arkan, memegang perut Dira.


Asna menghapus air matanya, ia meminta maaf berkali kali karena tidak mengabarkan mas Arkan, jika dirinya akan pulang. Tentu Asna mengerti, mas Arkan sibuk kerja, dan membuat hati Dira tidak stress. Asna mengerti banyak hal pertimbangan, dari pada suaminya gagal menimang anak darah dagingnya, Asna rela berkorban demi mas Arkan bahagia.


'Kamu pasti kuat Asna, ini adalah tujuan yang kamu inginkan. Lagi pula, kemo seberapa banyak pun. Apa mungkin rasa sakit ini akan hilang, atau sebenarnya hidup dirinya tidak akan bertahan lama. Jadi keputusan ini sudah benar.' senyum Asna dengan raut sedih, yang tak bisa disembunyikan.


Saat Asna berbelok, menunggu ibunya. Asna terkejut melihat Irham, sudah senyum menunggunya saat itu juga.


"Irham kamu disini?"

__ADS_1


"Benar! mau jenguk kamu, sekaligus tanya Arkan. Apa dia mau anter kamu pulang, sebab beberapa hari meeting klien, aku dan Arkan sibuk. Sekaligus tanya klien yang sedikit problem tadi pagi."


"Mas Arkan ada di ruangan Dira, .. kamu bisa kesana aja Irham. Aku pamit." memutar roda.


"Kenapa, apa Arkan ga tahu kalau kamu udah siuman. Why? ini udah hari ke empat loh Asna, kamu senang lihat suamimu seperti ini?" sebal Irham.


"Jangan campuri rumah tanggaku Irham, yang kamu sendiri tidak tahu aku seperti apa. Aku jauh dari wanita surgawi, baik dan solehah. Jadi keputusan ini sudah tepat! Dan maaf soal Dira. Aku sempat dengar, jika kamu melamar Dira, dan dia menolaknya karena menjawab permintaanku, menjadi maduku. Sekali lagi maaf!" lirih Asna, pergi dengan kursi roda.


Bahkan Irham sendiri syok! terbuat dari apa hati Asna, andai penyesalan tidak datang terlambat!


'Arkan lo beruntung punya istri seperti Asna, hanya karena dia ga bisa melahirkan seorang anak. Lo tega nerima membahagiakan hati wanita lain, tetapi menyakiti hati istri lain seperti Asna. Bahkan dia berjuang dari nol, dari Arkan tidak punya apa apa.' batin Irham, ia menatap ruangan Arkan, di dalam bersama Dira sedang tidur.


Saking kesalnya, Irham pergi dengan memukul pintu teratai 11A itu, yang sedikit terbuka.


Bruugh!


Irham pun pergi, tidak jadi menemui Arkan di rumah sakit.


Seketika Arkan di dalam, ia menoleh, matanya masih penat dan mengantuk. Kala melihat pintu terbuka sedikit, tapi tidak ada orang.


"Bang! kayaknya pintunya kebuka karena angin deh, terus ada orang ke pentog ga sengaja." ujar Dira, yang ikut bangun juga karena suara yang mengagetkan.

__ADS_1


"Mungkin Dik! maaf ya, kayaknya abang lupa nutup rapet pintunya." senyum Arkan.


TBC.


__ADS_2