DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
DIA ADALAH


__ADS_3

Kini, Asna berhasil mempertemukan keduanya yang saling berhadapan, tetapi Dira masih saja tertunduk sedangkan Arkan justru melirik ke arah Asna.


“Mas, sekarang kamu nggak hanya punya aku, tetapi wanita yang ada di hadapanmu juga merupakan istri sah kamu,” lirih Asna menguatkan hatinya. Ia tegar dan tak peduli dengan pasang mata yang memerhatikannya sekarang.


Mungkin Asna dipandang wanita yang jahat atau sebaliknya yang memandang haru karena sukarela membagi suaminya. Namun, tekadnya tak merubah apa pun, ia hanya ingin melihat suaminya bahagia.


Di samping itu, ibu Dira tak berhenti menangis menyaksikan para wanita kuat yang begitu mengutamakan perintah-Nya, bukan karena hawa nafsu semata, tetapi diniatkan karena ibadah.


Ia juga tak menyangka jika sang putri menyetujui hal ini. Betapa besar rasa ikhlas dan sabarnya menjalani bahtera rumah tangga yang dianggap tak mudah.


Sebagai seorang ibu, hanya mendoakan yang terbaik untuk mereka. Tidak menutup kemungkinan jika pernikahan yang dijalani tak ada ujian. Semua hidup akan ada tingkatannya termasuk menjalani pernikahan.


“Aku mohon rawat dan sayangi dia seperti kamu menyayangiku, ya, Mas!” Asna mengambil tangan Arkan dan Dira yang dipersatukan, biarkan mereka saling menggenggam.


Tubuh Dira berdesir. Ia tersentak merasakan sentuhan pria yang menjadi suaminya berada di atas punggung tangannya.


Rasanya hendak menjauh, tetapi Asna terus memegangi lengannya dan seolah sengaja melakukan itu. Bahkan, pertama kalinya Dira bersentuhan dengan seorang pria yang halal baginya.


Rasanya hendak menjauh, tetapi Asna terus memegangi lengannya dan seolah sengaja melakukan itu. Bahkan, pertama kalinya Dira bersentuhan dengan seorang pria yang halal baginya.


“Ra, beri salam pada suamimu,” bisik Asna di teling Dira. Hati Asna bergetar melihat mereka yang akan bersatu.

__ADS_1


Sungguh, air mata pun sudah tak mampu terbendung lagi. Namun, Asna harus menguatkan hatinya sendiri.


Dengan tangan yang bergetar, Dira menarik lengan suaminya dan dengan ragu secara perlahan, Dira berhasil mendaratkan bibirnya di punggung tangan kekar sang suami.


Asna terisak, tak sanggup memandangnya. Kemudian, melirik ke arah suaminya yang hanya berekspresi datar.


“Mas, kamu sudah halal untuknya. Kecuplah keningnya kepada istrimu, Mas.” Asna bagai komando antar keduanya, memberi perintah untuk membangun hubungan awal yang Allah ridhoi.


Arkan memejamkan matanya tak sanggup. Hatinya menjerit tak karuan, bagaimana bisa mengecup wanita lain di hadapan istrinya sendiri.


Namun, melihat Asna yang memberi dukungan kepadanya. Mau tidak mau Arkan harus melakukan yang di mana ia sadar jika sudah memiliki dua istri.


Arkan menguatkan hati, lalu tangan kirinya terangkat memegang ubun-ubun sang istri baru, dan merapalkan doa yang masih Arkan halal.


Beberapa detik, Arkan pun berhasil mendaratkan bibirnya di atas kening Dira dan saat itu pula air mata Dira dan Asna menetes secara bersamaan.


Asna merasa haru, kini tugas akhirnya sudah tertunaikan. Impian meminta suami dan mengantarkannya pada pernikahan kedua sudah terlaksana dengan baik.


Sebagai istri tertua akan mendoakan pernikahan suaminya agar penuh berkah. Selalu diberi kebahagiaan serta kasih sayang Arkan yang tak berkurang sedikit pun.


“Selamat berbahagia dan terima kasih untukmu, Mas.” Asna yang masih duduk di antara keduanya sudah harus segera beranjak.

__ADS_1


Acara akan dilanjutkan dan biarkan mereka saling mengenal tanpa Asna harus mengganggunya. Namun, belum beranjak, Arkan sudah meraih lengannya seolah memohon untuk tidak beranjak pergi.


“Dik.” Suara lemah Arkan keluar sembari menatap manik mata Asna yang tampak sembab. Entah sudah sebesar apa dirinya menyakiti hati istrinya sendiri.


“Maafkan Mas,” lirih Arkan lemah. Ia tak kuasa melihat wanitanya yang amat sakit, tetapi berusaha untuk menutupi.


Cup!


Arkan mengecup punggung tangan Asna dengan lembut. Ia pun langsung merengkuh dan menumpahkan kesedihannya dalam pelukan.


Tidak hanya Arkan, Asna pun menangis sekuatnya. Namun, seketika sadar dan segera menguraikan dekapannya.


“Ini hari bahagiamu, Mas. Jangan bersedih dan lakukan sebagaimana pengantin seharusnya.” Asna kembali mengingatkan.


“Aku kembali ke belakang dan tataplah istrimu, Mas, kalian sudah halal.”


Kalimat terakhir Asna sebelum benar meninggalkan dan saat itu Asna langsung duduk pada posisinya.


“Mas, Mba silakan dipasangkan cincinnya, ya!”


Arkan mengangguk, lalu mengambil cincin yang sudah disiapkan. Saat hendak dipasangkan tak sengaja pandangannya bertemu membuat Arkan terhenyak melihat wanita yang menjadi istri keduanya sekarang.

__ADS_1


“Di-dia!” lirih Arkan, menjatuhkan cincin tak sadar. Semua mata pun membola menatap sikap Arkan, termasuk Asna yang baru duduk dibelakang.


TBC.


__ADS_2