
“Nak, biarkan Dira menenangkan diri.” Ibu Dira hadir menghampiri Arkan yang terpukul.
Ia tak sengaja melihat pertengkaran mereka yang dirinya sedang berada di dapur. Wajar, pernikahan yang tidak saling mengenal cukup memprihatinkan, apalagi terjadi perdebatan seperti itu.
Pasalnya, Dira merasa terabaikan karena posisinya menjadi seorang madu, tetapi kedatangan ibu bukan maksud untuk ikut campur. Melainkan menenangkan dan harus mengalah salah satunya.
“Dira suka seperti ini jika hatinya lelah, tetapi nanti dia balik lagi dan meminta maaf.”
Wanita paruh baya memberikan statement kepada Arkan untuk menguatkan. Ibu Dira sendiri tahu perihal masa lalu Arkan dan putrinya, ketika besannya itu datang menemuinya dan seolah ingat tetangganya dulu yang sempat terjalin akrab. Karena dipindahkan tugas membuat dua tetangga itu terpisah.
Sebagai ibu, paham betul bagaimana sikap putrinya. Apalagi Dira memang sering mengurung begitu untuk menenangkan hatinya. Setelah sekian lama menutup diri, tidak sangka putrinya dinikahi oleh masa lalu yang tak ingin putrinya kembali.
“Maafin Arkan, ya, Bu, sudah membuat putri Ibu bersedih,” kata Arkan lesu. Ia tidak tahu jika Dira akan semarah ini.
“Ibu mengerti, Nak, tidak ada yang salah. Hanya saja kalian harus lebih dewasa lagi, terutama kamu itu, posisi kamu memang berat karena memiliki dua orang istri. Namun, kamu harus ingat, Nak, kedudukan istri kedua sama halnya dengan istri pertama. Nggak ada salahnya jika Dira khawatir sama kamu, karena batin seorang istri tak pernah salah.
“Ibu bicara seperti ini bukan berarti menyudutkan kamu. Ibu sayang sama kamu, Nak, ibu hanya nggak mau kalian terpecah belah karena keegoisan.” Sang ibu memberi sedikit wejangan dan keluasan hati agar Arkan bisa lebih terbuka.
“Daripada kamu menangis nggak karuan di sini, lebih baik kamu ambil wudhu dan tenangkan hatimu dengan mendekatkan diri. In syaa Allah jauh lebih tenang, Nak.”
Arkan mengangguk dan hampir lupa akan kewajibannya. Biasanya Asna yang selalu mengingatkan jika dirinya merasa terpuruk seperti ini, tetapi kali ini ibu mertuanya sendiri yang baru saja Arkan kenal.
__ADS_1
“Arkan pamit ke belakang kalo gitu, ya, Bu,” kata Arkan sebelum melangkah pergi.
Tubuhnya bangkit dan berjalan gontai menuju kamar mandi, membasuh wajah yang begitu adem di hati. Arkan bukan orang yang suka membantah sehingga apa yang dikatakan ibu mertuanya langsung dikerjakan.
Menghadap sang Ilahi rabbi memang jalan terbaik. Selain membuat hati tenang juga mendapat petunjuk menuju keberkahan.
Sementara Dira yang meringkuk di balik pintu, sudah tak mendengar lagi suara Arkan. Hening dan sunyi, sepertinya dia sudah pergi dari depan kamarnya.
“Inilah yang aku takutkan, Bang, berusaha berjalan di atas takdirnya dan ternyata aku sendiri yang terlalu berharap,” lirih Dira menekuk lututnya malas.
“Mba, apa Mba Asna hidup tenang di sana? Atau Mba sedang memikirkan tentang suami Mba yang berada di sini?” Dira berbicara sendiri, seolah ia membayangkan perasaan yang Mba Asna rasakan.
Rasanya tidak mungkin jika Mba Asna hanya diam tanpa perasaannya yang bergelut tentang keadaan Bang Arkan.
Tok! Tok!
“Ra, Ibu boleh masuk?” Suara ibu lembut mengetuk pintu kamar sang putri.
"Ra, dengar Ibu, Nak. Kamu bukan lagi seorang gadis yang ketika marah harus mengurung seperti ini. Semua masalah bisa diselesaikan tanpa mengasingkan diri, Ra.”
Ibu beralih menasihati Dira. Tahu betul, perasaannya sangat terpukul. Berat menjadi Dira, sebab ujian hidupnya sudah terlalu banyak bahkan belum ada kebahagiaan yang menghampiri dirinya.
__ADS_1
“Ra, Ibu sayang kamu. Tolong buka pintunya, Ra!” Ibu kembali berucap dengan lembut.
Dira yang mendengar suara ibu semakin terisak. Raganya tak mampu bergerak untuk sekedar bangkit dan membuka pintu. Ia sudah membuat ibunya bersedih karena sikapnya tadi.
Sang gadis diam untuk beberapa detik, dan suara ibu masih menggema di telinga. Dira paling lemah mendengar suara ibunya yang terasa sesak dalam hati.
Akhirnya batin pun mengalah dan melawan keegoisan yang ada. Tubuhnya bangkit dan berdiri, lalu memegangi gagang pintu yang siap untuk dibuka.
Ceklek!
Dira langsung bersimpuh di kaki ibunya yang duduk di kursi roda, menangis sejadinya dan menumpahkan kegalauan yang ada.
“Maafkan Dira, Bu.”
Namun, tangan ibu terulur dan memegang kedua bahu Dira untuk bangkit. “Bangun, Nak! Ibu tahu kamu sedih, tetapi kemarahan bukanlah solusi terbaik. Mintalah petunjuk sama Maha Kuasa. Kembalilah pada-Nya, hatimu jauh lebih tenang.”
Bahu Dira bergetar. Ia sesenggukan mendengar kalimat ibu yang penuh makna, hatinya selalu tersentuh jika sudah berbicara pada ibu.
“Apa Dira tak berhak bahagia, Bu, walau berstatuskan istri kedua?”
Ibu mengulum senyumnya penuh kasih sayang. “Bahagia itu bukan dilihat dari status atau materi, Nak, tetapi dari hati. Kamu ikhlas menjalani, in syaa Allah bahagia. Tanyakan pada hatimu dan bersikaplah dewasa lebih luas lagi, Allah memberimu jalan seperti ini bukan karena tak suka padamu. Namun, Allah yakin jika dirimu mampu. Bukankah kemarin jawabanmu juga seperti itu?” ungkap ibu, membuat Dira terdiam.
__ADS_1
TBC.