
Di Kantor
Sementara Arkan yang selesai meeting. Irham segera memberikan minuman soda kaleng, ketika karyawan lain sudah tidak ada, menyisakan mereka berdua di ruangan.
"Udah balik lagi sana lo, ke tempat kerja." membereskan map.
"Jih! sensi amat sih Ar. Eh Arkan, liat deh! gue mau kenalin lo sesuatu. Bagus gak?"
"Batik, maksudnya ..?"
"Hah, daripada mubajir. Gue pake aja nih batik, bagus gak? lihat deh. Bentar gue coba ya."
Irham segera membuka kemeja, lalu mengganti batik kemeja yang akan dikenakan esok. Kebetulan sekali ukurannya pas, membuat Irham tidak jadi membeli di butik langganannya. Apalagi tadi ia juga, sempat menanyakan pada security dan pada yang lain jika tida ada barang mereka yang kehilangan, sehingga Irham membawanya. Lebih lagi rasa penasarannya, membuat ia bagai dapat galian emas, ingin membeli kemeja batik sudah ada di depan mata.
"Lihat bagus gak?"
"Good. Puas, sekarang lo keluar gih. Gue masih banyak kerjaan."
"Muram amat sih, tapi bener bagus ya nih batik. Gue cari di google, nih keren loh. Andai kantor kita pakai model ini, keliatan ceo semua pastinya. Hahaha." gelak Irwan.
"Good! lo beli dimana emang?" tanya Arkan.
"Ga beli, nemu... dengan tawanya."
"Hari gini mana ada yang mau buang batik bagus, dah lah. Bualan lo ga masuk akal Irham. Mending lo kembali ke ruangan lo, bukannya banyak kerjaan ya." usir Arkan.
"Baiklah manajer Arkan, siap laksanakan." memutar Irham, seolah menyombongkan kemeja yang ia pakai.
Irham pun mau tak mau, ke luar dengan memamerkan kemeja yang cukup pas untuknya. Tanpa sadar Arkan teringat Asna, sedang apa dia di rumah. Akan tetapi Arkan teguh pada pendiriannya. Ia tidak mau lebih dulu meminta maaf, karena Arkan ingin memberi pelajaran pada Asna, untuk tidak melakukan hal di luar batas tanpa dirinya.
Arkan menatap layar ponselnya! dan benar itu adalah wajah senyum Asna, kini layar ponselnya begitu membuat Arkan merindukan Asna, tapi karena kerjaan yang padat membuat Arkan kembali berkutik di depan komputernya, sehingga melupakan keadaan Asna, dan ponselnya yang berdering dari Dira.
***
__ADS_1
Sementara satu sisi, Asna dan Imel sudah sampai di rumah Dira. Asna yang telah menjemput Imel sekolah, ia mampir membeli buah dan mengajak anaknya, ke rumah Dira untuk menjenguk keadaan bundanya juga.
"Bun, bunda Dira emang sakit ya?'
"Iya nak! kita jenguk sekarang ya nak. Sehabis itu kita pulang, ambil buahnya nak."
"Ok bunda."
Tanpa alasan lain, Asna selain menjenguk keberadaan Dira dan ibunya. Ia juga sudah lama sekali tidak melihat Dira, sejak pernikahan Dira dan mas Arkan. Ini adalah satu bulan Dira dan mas Arkan telah mengarungi rumah tangga, jadi Asna ikut andil dalam keadaan Dira sebenarnya. Apalagi Asna melihat surat resign! jika Dira sudah tidak lagi bekerja di butik, maka dari itu mungkin Asna berniat merekrut pegawai baru.
"Eh, nak Asna. Duh, anak cantik kamu juga ikut?" senyum ibu Hanna, yang terlihat menyiram bunga.
"Assalamualaikum bu, Maaf ganggu. Asna dan Imel sekalian mampir, Dira sakit ya bu. Gimana keadaannya sekarang?"
"Masuk yuk! langsung aja tanya sama Dira nya langsung. Kebetulan anaknya juga baru pulang, kalau ibu lihat sih. Udah baik, enggak mual mual dan pusing lagi."
Deg.
Asna tahu gejala itu, mungkinkah Dira sudah ...?!
"Makasih bunda. Tapi kan bunda Dira lagi sakit, Imel hanya sebentar saja karena Bunda khawatir. Bunda Dira emangnya sakit apa?"
Senyum Dira nampak pasi, belum lagi hiasan wajahnya menatap mbak Asna. Apa pantas, tak menyakiti jika ia katakan kalau dirinya hamil tiga minggu.
"Bunda Dira ga apa apa, hanya masuk angin biasa. Ayo masuk nak! bunda punya kue kukus, pas deh masih ada. Tadi pagi bunda buat soalnya, Imel cicipin ya."
"Iya. Imel mau." riangnya.
"Ayo sayang! sama nenek, kita ke dapur habisin makanan." ibu Hanna, seolah memberi luang pada Dira dan Asna, sebagai orangtua ia sangat paham.
"Syukurlah kalau kamu ga apa apa, selamat ya. Atas kehamilannya, di jaga dan jangan capek. Surat pengunduran diri kamu, mbak Acc. Kalau udah bisa bekerja, tinggal bilang sama mbak. Kamu harus jaga kandungan kamu Dira." senyum Asna.
Entah wanita kesabaran apalagi, hati Dira begitu malu. Ia ingin memanfaatkan kehamilannya agar bang Arkan, selalu menemaninya. Tanpa perduli hati istri pertamanya, tapi satu sisi egois Dira mulai membuang sisi baiknya, pada orang di depannya yang banyak berjasa sekali padanya.
__ADS_1
"Makasih mbak! kok mbak bisa tahu, kalau Dira ..sakit dan hamil?"
"Feeling. Mbak ga sengaja dengar kamu sakit, dan kamu ke rumah sakit pagi ini. Jadi selamat untuk kamu ya! harusnya, orang pertama yang tahu adalah mas Arkan. Tapi maafkan mbak, karena mbak lebih dulu tahu." ucap Asna, memegang tangan Dira.
Dira yakin, jika bang Arkan tadi pagi mengabari Asna, jika dirinya sakit dan berobat. Entah kekesalan Dira semakin menambah, jika bang Arkan tidak pernah bisa menutup kisahnya, kenapa harus istri pertamanya yang tahu.
Akan tetapi niat Asna, memang bukan dari mas Arkan semata ia melihatnya sendiri. Sehingga inisiatifnya membuat Asna menjenguk, dan mendapat kabar bahagia jika Dira hamil, hamil anak dari suaminya.
Beruntung sekali jadi Dira, ia bisa melahirkan anak darah daging mas Arkan, yang di nanti nanti. Sudah pasti, Arkan akan bahagia dan kini Asna sadar, jika mas Arkan kelak akan sering bersama Dira. Maka ia harus berluas hati lebih lagi, mendapati semuanya benar benar berubah.
Perbincangan pun semakin lama, tak lupa Asna di ajak makan bersama. Hingga mereka pamit, dan Imel yang sudah lelah ia pun ikut pamit pada keluarga Dira.
Berbeda dengan Asna, ia sudah sampai rumah. Meminta sang bibi mengurus Imel untuk mandi dan berganti pakaian. Asna pun sama halnya, ia beranjak ke kamar. Dan menatap satu box lemari, lemari yang pernah ia siapkan untuk buah hatinya dulu.
Asna pernah merajut baju bayi, dari kain wol dan kain sutra. Terlihat beberapa baju di sana berwarna pastel, biru langit dan coklat muda. Serta warna putih. Asna memegangnya dan menghapus air mata, ketika ia ingat dirinya keguguran di usia kandungan tiga bulan.
"Sayang! meski kamu bukan lahir dari rahim bunda. Tapi bunda sama halnya, menanti kelahiran kamu ke dunia. Tetaplah hadir di rahim bunda Dira! bunda hanya bisa menghadiahkan ini untuk kamu, selain kasih sayang ketika kamu lahir." lirih Asna, ia terisak dengan tangisan yang tiada henti.
Asna segera merapihkan seluruh pakaian bayi yang ia buat, lalu meletakkan dan akan memberikannya nanti pada Dira, agar kelak anaknya lahir bisa dipakainya.
'Mas, kamu pasti akan bahagia. Aku ikhlas, ikhlas jika dalam beberapa saat kamu tidak tinggal di rumah ini.'
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu, membuat Asna kembali senyum kala Imel datang, memeluknya.
"Imel, kamu belum tidur nak?"
"Imel pikir, bunda ada di ruang kerja. Bun .. telepon Abie dong bun. Imel kangen."
Tiba saja senyuman Asna tipis, kala permintaan buah hatinya menyayat hati. Haruskah Asna hubungi mas Arkan, atau Asna menundanya, mencari alasan lain. Karena tidak ingin mengganggu suami dan madunya itu.
"Bun .. kok diem?" rengek Imel.
__ADS_1
TBC