DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
KEMEJA DIPAKAI IRHAM


__ADS_3

"Imel, sarapan dulu nak! hari ini bunda ga bisa temenin tour acara sekolah, biar dampingi sama nenek ya! gpp kan nak?" senyum Asna.


"Iy dong, cucu Oma harus ngerti ya. Maafin bundanya karena banyak kerjaan, Abie juga kan. Nanti pulang dari sekolah, biar Imel sama ibu dulu ya Asna." ucap bu Nira.


"Iya Bu. Maafin Asna udah buat repot ibu, Sebab di kantor dan .."


"Udah! ibu ngerti kok, lagian ada Imel ibu jadi ga kesepian. Nonton tv terus, monoton. Kalau ada Imel, cucu ibu. Duh, suasana rumah pasti seneng. Kamu kalau bisa nginep di rumah Ibu, ya Asna."


"Iya bu."


"Bunda, maafin Imel ya. Semalam maksa telepon Abie, benar kata nenek. Kalau kerjaan Abie lagi banyak, tapi Imel kan masih ada bunda. Bunda kalau memang sudah selesai, nanti nyusul ke rumah nenek ya Bun. Nginep di rumah nenek." ceria Imel.


"Iya sayang."


Pagi itu Asna benar benar tidak enak, ketika semalam Dira yang mengangkat telepon mas Arkan. Dan entah masuk akal, jika Dira mengatakan Abie nya sedang ada pertemuan di ruang tamu, dan Dira akan sampaikan langsung salam dari Imel. Terenyuh sakit hati Asna, seolah kali ini Imel yang merindukan Abie nya, terhalang dan benar benar Asna tidak memikirkan ke arah sini. Tapi Asna tidak lupa istighfar, ia berharap tidak lagi mengeluh akan keputusan yang sudah terjadi.


'Dira, apakah semalam kasih tahu mas Arkan, kalau Imel telepon. Atau .. karena Aku yang belum meminta maaf, sehingga Imel jadi kebawa di acuhkan. Tidak bisa, .. pagi ini aku harus sempatkan ke kantor mas Arkan.' batin Asna.


Setelah di rasa sarapan selesai, Asna meminta bibi menjaga rumah hingga ia pulang. Menutup kunci dan semua memastikan selalu aman, bukan hanya bibi saja, di sana ada pak Taro seorang satpam, dan kebun suami dari bibi Eni, yang mengurus rumah dan menemani Imel tentunya.


Imel sendiri sejak usia lima tahun, ia terbiasa mandiri dan Asna tidak memakai pengasuh, tugas bibi hanya mengawasi Imel dan pekerjaan rumah yang hanya dua lantai, untuk cuci setrika baju pun, Asna meminta pakaian di laundry! agar sang bibi, bisa mengawasi Imel dan tidak terlalu berat mengerjakan tugas pekerjaan rumah, Asna memang meminta sang bibi tetap membuat Imel untuk mandiri, tidak menyuruh nyuruh bibi, begitulah kekeluargaan bekerja di tempat Asna.


"Ayo nak! kita bersiap, jangan sampe telat. Bibi, aku pamit dulu ya. Titip rumah jangan lupa di kunci."


"Iya bu."


Ibu Nira sendiri terlihat ingin menanyakan bagaimana perasaan putrinya, yang rela membagi suami dan kini tidak terlihat sering bersama, hati ibu mana yang tidak teriris melihat putrinya mempunyai suami dengan dua istri. Bahkan keturunan Nira sendiri sebagai ibu tidak ada, entah angin apa membuat putrinya itu senekat ini.


"Keadaan kamu gimana Asna, apa ada yang ibu enggak tahu?"

__ADS_1


"Ibu, Asna baik baik saja. Hanya biasa, kerjaan di butik dan kue lagi deadline, alhamdulillah lagi kebanjiran order. Asna bisa membuat lapangan pekerjaan pada mereka, itu sangat berarti buat Asna bu. Ibu kok tanya gitu, kenapa ..?"


Ingin rasanya Ibu Nira bicara soal Arkan, yang sudah seminggu lebih tidak pulang, bahkan ia tahu dari pembantu Asna, yang mengatakan Asna dan Arkan tengah malam sempat satu kali beradu mulut. Tapi dalam sepuluh tahun terakhir, kenapa menantunya itu berubah. Apa yang terjadi sebenarnya, seorang ibu merasa batinnya sedih ketika putrinya juga ikut sakit, tapi ia sembunyikan. Karena Nira mengenal Asna putrinya, jadi karena ada Imel lah ia menunda pertanyaan pada Asna.


"Syukur kalau baik, ibu turun dulu ya. Ayo cucu nenek sayang! lets go!"


"Ok nenek. Bunda Imel pamit ya bun, assalamualaikum."


"Walaikumsalam, hati hati ya nak. Jangan nakal sama nenek harus nurut! Ibu, hati hati ya. Makasih udah bantu Asna."


"Iya sayang! terutama kamu, kamu harus bahagia. Ibu cuma minta itu, jangan sembunyikan apapun dari ibu." Asna senyum mengangguk.


Sehingga dalam beberapa puluh menit, ia ke toko kue, mengambil cupcake coklat dan blueberry kesukaan mas Arkan. Juga untuk beberapa karyawan. Asna pun hanya sebentar pergi lagi dari kedai, karena hanya ingin mendapat maaf dari sang suami, semua agar pernikahannya tetap sehat, dan tak ingin Imel terasa tersakiti karena kehilangan sosok Abie nya, yang sudah mulai jarang di rumah.


Memarkir!


'Sebenarnya aku kenapa, aku tadi pagi udah minum obat.' batin.


Mau tidak mau, Asna kembali meminum obat. Lalu beberapa puluh detik ke menit, ia merebahkan dirinya di dalam mobil untuk sejenak bisa menemui mas Arkan yang terlihat baik. Asna sendiri tidak suka dilihat sebagai orang sakit, karena tidak mau merepotkan dan membuat pikiran mas Arkan terbagi dan tidak fokus pada pekerjaannya.


Setelah dirasa membaik, Asna bergegas dan menuju lift lantai sembilan. Di sana sudah ada customer service yang menyambut, dan Asna menanyakannya.


"Mau bertemu pak Arkan, apa ada di ruangannya?"


"Mohon maaf bu! pak Arkan ada di ruang pertemuan, tapi sebentar lagi juga beres dan akan lewat sini. Karena ruangannya di belakang ibu, samping kanan."


"Baiklah terimakasih. Biar saya tunggu di ruang tunggu itu, sebelah kiri."


Asna duduk sampai sepuluh menit lamanya, benar saja ketika Asna berdiri, mas Arkan dengan gagahnya memakai batik bukan yang seperti biasanya ia rajut, oh! Asna lupa, mungkin itu adalah hadiah Dira. Bagaimana pun Asna tidak boleh cemburu, lalu ketika Arkan tetap berjalan, karena Asna tidak jadi memanggilnya, Asna membalikan badan dan terbentur seseorang pria.

__ADS_1


"Loh, A-Asna. Kamu disini?"


"Irham, ah. Ta-di ... itu, " menyembunyikan air mata, jelas Irham nampak heran.


"Gue panggilkan ya Arkan nya. Br- ..."


"Stop! ga usah, aku mau titip ini aja. Buat kalian nanti meeting, tidak perlu mas Arkan tahu saya kemari. Please."


"O-oke. Apa ada trouble, kalian ..?" telisik Irham.


"Enggak kok, cuma bukan tepat aja. Kalau ketemu sekarang, ga cukup karena harus ketemu klien butik juga."


"Ok! see you Asna." ucap Irham.


Namun saat Asna berjalan, ia kembali menoleh dengan perhatiaan kemeja yang dikenalkan Irham. Kenapa amat mirip seperti yang ia buat sesaat ingin memberikannya, tapi lebih dulu ada Dira yang memberikan.


"Kemeja kamu bagus. Beli dimana?" tanya Asna.


"Ada deh .. panjang lah ceritanya."


Asna menelisik mengelilingi Irham, dan meminta izin melihat pinggang kanan dengan label. Di sana benar ada jahitan A.K PARIS. Itu adalah simbol Asna dan Arkan di momen pertemuan pertama.


"A-Asna. Kok bengong?"


"Gak apa apa, saya pamit Ir."


'Setidaknya kemeja itu tidaklah mubajir, meski bukan tepat yang Asna ingin mas Arkan yang kenakan.' batin Asna mengusik hatinya, ia rela dan ikhlas harus mengalah. Karena bagaimanapun idenya lah, yang membuat semua terjadi.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2