DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
HARI PERTAMA


__ADS_3

Sementara Asna, terbangun di sepertiga malam dengan wajah yang sembab. Semalaman menangis membuat hatinya rapuh dan kini memenuhi panggilan-Nya untuk ketenangan.


Dua rakaat ditunaikan, tak lupa mengadahkan tangan untuk berdoa. Meminta keteguhan serta kesabaran yang luas. Pasalnya tidak ada yang kuat selain pertolongan Allah.


Melirik Imel yang masih terlelap, rasanya tak pantas untuk terus bersedih. Asna harus kuat demi putrinya.


ESOK HARINYA.


Langit pun mulai terang dan Asna baru saja menyelesaikan kegiatannya di dapur sebagai ibu rumah tangga. Walau hanya hidup berdua saja, tetapi Asna tetap memberikan yang terbaik untuk Imel.


“Imel mau sarapan sekarang atau nanti?” tanya Asna sembari bersuara keras karena posisi Imel yang berada di ruang tamu.


“Sekarang Bunda,” kata Imel antusias.


Ia pun langsung menghampiri dan melihat menu nasi goreng, yang sudah siap di hadapan.


“Mau pakai kerupuknya nggak?” tawar Asna melihat putrinya yang sudah mulai menyuapkan nasinya.


“Tidak perlu, Bunda. Bunda nggak makan?” Imel memerhatikan bundanya yang masih berdiri dan tak menyentuh nasi goreng yang sama sepertinya.


“Kamu dulu saja. Bunda belum lapar.” Asna tersenyum, lalu menuangkan air minum dan diberikan kepadanya.


Saat itu Asna langsung beralih ke depan wastafel, membersihkan peralatan piring kotor yang masih menumpuk. Beberapa menit kemudian, bel pintu terdengar dan Asna langsung mengelap tangannya yang basah karena baru saja menyelesaikan pekerjaannya.

__ADS_1


“Kamu lanjutkan saja makannya, Nak, biar Bunda yang membuka pintu.” Asna menghentikan Imel yang hendak membuka pintu.


Asna pun segera berjalan dan membuka pintu yang masih terkunci. Wajahnya yang tertunduk terlihat empat kaki di hadapan. Seketika pandangannya naik perlahan ke atas dan terhenti kala melihat dua orang yang bertamu sepagi ini.


“Mas Arkan, Dira,” lirihnya pelan.


“Assalamualaikum Mba Asna, maaf kami datang pagi-pagi.” Dira menyapa wanita di hadapan yang nampaknya terkejut.


“Waalaikumusalam, nggak apa, Ra. Ayo silakan masuk, Ra, Mas.” Asna membuka pintunya lebar dan menyambut mereka dengan bahagia.


Ia tidak tahu tentang kedatangannya yang masih pagi ke sini. Bukan melarang, tetapi rasanya aneh sekali melihat pengantin baru yang sudah rapi di saat matahari baru memunculkan wajahnya.


“Abi,” teriak Imel melihat abinya yang datang.


Imel pun tampak senang sampai ia berlari dan melayangkan tubuhnya dalam dekapan. Padahal, hanya tak bertemu semalam, tetapi seolah rindu Imel begitu membuncah.


“Mba Asna.”


Sang empu tertegun dan hampir saja tangannya, terkena air panas mengenai lengannya karena sedang membuat kopi serta teh. Ia menoleh dan ternyata Dira mengikuti dari belakang.


“Maafkan saya, Mba, jika kedatangan saya membuat suasana rumah menjadi tak karuan.” Dira berbicara seolah dapat membaca apa yang Asna rasakan. Apalagi ia datang bersama suaminya yang tak lain suami Mba Asna juga.


“Kamu ngomong apa sih, Ra, saya nggak apa ko. Justru saya senang dengan kedatangan kalian,” tutur Asna sembari mengaduk kopi juga teh dalam gelas.

__ADS_1


“Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga saya.” lirih Asna.


“Tapi saya tahu perasaan Mba Asna yang sesungguhnya begitu pun dengan Bang Arkan, Mba.” Dira menginterogasi wanita di hadapannya apa adanya, terlihat jelas jika dia sedang berusaha baik-baik saja.


“Mba Asna nggak kuat, ‘kan melihat pernikahan ini?”


Asna menghela napas, lalu membalikkan badan menghadap Dira. “Jika saya tak kuat dari awal saya tidak meminta kamu untuk menikah dengan suami saya, Ra. Saya rasa kamu nggak perlu menggoyahkan hati saya lagi untuk mundur ke belakang.”


Wanita itu sangat keras dan berpegang teguh pada pendirian walau nyatanya akan menyiksa diri sendiri, tetapi keputusan yang diambil tidak pernah gagal untuk dibantah.


“Jika hati Mba tidak ingin digoyahkan, lalu bagaimana dengan saya yang ternyata digoyahkan untuk kembali pada masa lalu?” Emosi Dira memuncak, tetapi ia masih dengan nada sopan berbicara padanya.


Asna tak mengerti. “Apa maksud kamu, Ra?”


Tak lama Imel datang, dengan sosok Arkan mengajaknya ke ruang tamu. Asna menatap Arkan lebih dulu dengan Imel, di lanjut Dira yang tak melanjutkan bicara.


Hati Asna, memikirkan sang ibu dan ibu mertuanya berdebat kala pernikahan itu, namun Asna lupakan karena ia pikir tertuju pada orang lain, apalagi sibuk mempersiapkan akad mas Arkan.


'Jeng, apa anak saya punya penyakit serius. Sampai sampai putra anda, menikahi masa lalu putra anda?'


'Haah, saya. Jeng tanya sama putri anda dong, soal ..'


'Ibu, Mah. Asna mau pu- ..?' ingatan itu, terhenti kala Asna akan pamit, melihat dua wanita paruh baya berdebat, seolah berhenti ketika Asna datang. Meski ditanya oleh Asna, tapi raut mereka berubah akrab penuh senyum.

__ADS_1


"Dira, pasti sedang emosi. Tidak mungkin kan, jika Dira dan Mas Arkan, adalah sepasang kekasih. Tapi aku ...?" lirih Asna, yang kala itu di dapur, tangannya gemetar akan membawa kopi dan teh.


TBC.


__ADS_2