
Mungkin Asna begitu jahat, tetapi secara tidak langsung Asna berhasil menyatukan kisah cinta mereka yang sempat berjauhan. Hanya saja posisinya berbeda.
Ia tidak tahu sejauh mana Arkan dan Dira mengenal. Namun, bukan saatnya untuk membandingkan. Ia justru bersyukur, pilihannya tepat jatuh pada Dira.
Siapa tahu kehadiran Arkan pun bisa membuat Dira kembali ceria dan merasakan cinta. Memang tak mudah, apalagi Dira sampai menutup hati karena sikap Arkan sendiri.
Namun, biarkan itu menjadi privasi mereka yang Asna tidak perlu tahu. Kini, sudah menjadi masa depan yang tujuannya sama untuk meraih surga Allah karena rida-Nya.
“Percakapan kita sudah selesai, Mas, aku keluar kalo gitu.” Kakinya melangkah keluar dan hendak menyusul Imel di luar.
Ada rasa tak enak dengan Dira. Pasti dia mencari suaminya, dan Asna yang tidak berada di ruang tamu.
“Wah, anak Bunda anteng sekali mainnya,” sapa Asna menyaksikan Imel dan Dira yang semakin akrab. Padahal, baru kenal sehari, tetapi sudah saling mengenal.
Pasalnya, Dira memang menyukai anak kecil sehingga mudah untuknya dekat dengan Imel. Dia juga tampak begitu sayang padanya.
“Eh, iya, Bun, Bunda Dira jago membuat apa pun dari mainan Imel loh,” puji Imel pada bunda barunya.
Ia merasa nyaman dan mengadukan semua kehebatan Dira pada bundanya. Imel sangat senang dan kekagumannya terpukau begitu saja.
“Wah, iyakah? Kamu senang, Nak?” Asna terkesima mendengar penuturan Imel yang menilai sendiri, seperti apa Dira sebenarnya.
Dia memang wanita baik dan penyayang. Tak ada batasan pula Asna untuk memberi ruang kepada Imel dengan Dira. Mereka berhak bersama karena sudah menjadi keluarga.
Imel mengangguk sembari tangannya fokus membongkar pasang mainan. Seketika Dira melirik ke arah Asna dan berbisik kepadanya.
“Mba, saya mau berbicara.”
“Nak, kamu main sendiri dulu, ya. Bunda ada urusan sama Bunda Dira,” tutur Asna mengusap pucuk kepalanya lembut.
Setelah mendapat persetujuan dari Imel. Dira bangkit, lalu memberi kode kepada Mba Asna untuk ikut dengannya.
Kini, kedua wanita saling berhadapan di teras rumah yang sedikit jauh dari Imel. Dira tidak ingin Imel mendengarkan permasalahan orang dewasa.
__ADS_1
“Entah sudah berapa kali saya harus mengutarakan maaf sama Mba Asna, rasanya memang saya nggak pantas melukai hati sebersih Mba Asna,” kata Dira semakin canggung dengan keadaan.
Bahkan rasanya juga tak berhak untuk menghadirkan wajahnya di sini, mengganggu keharmonisan mereka yang saling merindukan. Ia yakin Mba Asna sudah mengetahui tentangnya.
“Jangan berpikir su'udzan, Ra, in syaa Allah ini baru awal dan nanti akan terbiasa,” ujar Asna ramah.
“Saya justru bahagia ko.” lanjut Asna.
Senyumnya merekah bagai bunga yang baru mekar. Mungkin agak terkejut mendengar fakta yang baru diketahui, tetapi tak ada alasan Asna untuk membenci Dira.
Dira meringis. Ucapan Mba Asna selalu membuat hatinya bersalah, wanita itu tampak tegar tanpa terlihat sedikit pun kesedihan sedangkan Dira jauh berbeda yang tak bisa sepertinya untuk selalu diam dan diam.
“Jangan pikirkan masa lalu. Kalian sudah menjadi masa depan dan fokuslah dengan kehidupan selanjutnya. Cukup jadikan pelajaran agar tidak terulang dengan rasa sakit yang sama.” Asna menyeletuk, melihat wajah Dira yang ragu dan datar.
Ia tidak tahu apa yang Dira pikirkan, tetapi perasaannya cukup menyetrum dan sepertinya tidak salah jika Dira khawatir akan hal ini.
Bahkan ia tahu jika rasa cinta Dira itu masih ada untuk Arkan. Kisah masa lalu yang memang sulit untuk dilupakan, apalagi Arkan merupakan cinta pertamanya.
Sedangkan Arkan, masih termenung di dalam kamar. Kepalanya ingin pecah dan berontak sekuat tenaga. Emosinya pun tak bisa tertahan lagi, cukup mengebul dalam hati.
“Argh,” teriak Arkan memukul dinding dengan keras. Tak peduli seberapa rasa sakit di tangannya.
Entah mengapa hidupnya menjadi lebih rumit seperti ini. Mungkin, pria di luar sana merasa senang mendapat daun muda seperti Dira, tetapi justru dirinya merasa resah. Khawatir cinta yang ada tak bisa diberikan untuknya dan mungkin tak akan pernah bisa.
“Ayo Arkan lo nggak boleh lemah,” batinnya memberitahu. Ia sangat tidak suka kelemahan dan semenjak kehadiran Dira cukup membuat dirinya menjadi gamang.
Menormalkan jantungnya dengan benar. Arkan pun memposisikan tubuhnya tegak. Ia harus kuat, tak boleh mudah menyerah. Ia merupakan orang yang konsisten dengan sesuatu yang sudah dipilihnya.
Kakinya melangkah keluar kamar, lalu menuruni anak tangga terlihat kosong. Tidak ada Asna. Ia pun berjalan menuju teras rumah dan hanya ada Imel yang asyik sendiri. Namun saat hendak mendekat, terdengar sayup suara yang tengah berbincang.
Kepalanya menoleh, ternyata Asna dan Dira saling berbincang, sehingga ia mengurungkan langkahnya.
Asna yang asyik berbincang dengan Dira, tiba-tiba mendengar suara Imel. Asna pun menoleh dan memerhatikan gadis kecil itu yang tengah berbicara pada seseorang di ambang pintu. Bahkan, kepalanya mendongak seolah ada yang mengajaknya berbicara.
__ADS_1
Asna mengernyit, lalu tubuhnya bangkit dari kursi dan menghampiri Imel yang diikuti oleh Dira yang membuatnya penasaran.
“Imel.” Tangannya menyentuh bahu Imel, kemudian matanya memandang ke depan dan seketika membuatnya terkejut.
“Mas, kamu ngapain di situ?”
Arkan menelan saliva kikuk. Sungguh bukan waktu yang tepat untuk dipergok di sini, lagipula mengapa dia bisa tahu?
“Tau nih, Bunda. Abi menghalangi jalan Imel,” celoteh Imel seolah mengadu pada bundanya.
Lagipula perkataan anak kecil tak bisa dibohongi. Lantas apa yang dia lakukan Arkan di ambang pintu?
“Kamu lagi menguping kita, ya, Mas?”
Mata Arkan membola mendengar kalimat Asna yang menyudutkan. Tubuhnya berubah kaku memerhatikan pada dua wanita yang berdiri di hadapan.
“Ah, nggak gitu, Bun, tadi Abi mau keluar juga terus papasan sama Imel,” ujar Arkan cengengesan.
Setiap di hadapan Imel, Arkan memang sudah membiasakan diri mengatakan Asna dengan panggilan, seperti yang Imel katakan guna mengajarkan pada gadis kecilnya.
“Ish, nggak gitu Abi-“
Belum juga melanjutkan, Arkan sudah membuat pijatan di bahu Imel dan membuat gadisnya meringis kegelian, sehingga ucapannya tak diteruskan olehnya.
“Ya sudah, kamu masuk katanya mau ke dalam.” Arkan memberitahu Imel untuk masuk lebih dulu.
Kedua wanita di hadapannya mengernyit bingung, terutama Asna yang menatap penuh intimidasi.
“Jangan mencoba mengajarkan Imel untuk berbohong, Mas!” ujar Asna.
Deg! tatapan Arkan terdiam.
TBC.
__ADS_1