DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
PESAN DI LAPTOP ASNA


__ADS_3

Di saat bertarung dengan nyawa, hati Dira merasa bersalah. Apalagi di saat Imel anak dirinya juga, meski bukan dari rahimnya. Ia berusaha tidak egois. Saat itu Dira ingin sekali memiliki seutuhnya bang Arkan. Apalagi di saat bang Arkan mengacuhkannya, ia berdoa agar di lembutkan hati bang Arkan, mencintainya seumur hidup tanpa dibandingkan dengan istri pertama.


Tetapi ketika tahu soal Imel, dan masalah satu persatu, membuat diri Dira merasa bersalah, tidak tahu diri ketika wanita baik seperti mbak Asna, harus ia sakiti dengan memiliki seutuhnya bang Arkan. Terkadang hati Dira berbisik mendoakan agar Asna sembuh, tapi kadang ada sisi buruknya yang berharap mbak Asna segera di panggil oleh Tuhan, agar mbak Asna mungkin tidak terlalu sakit lagi.


"Huhuhu, Bunda. Apakah Bunda Asna, akan sembuh. Imel ga mau di tinggal." isak nya menangis.


"Imel sayang! ada bunda Dira, kita nanti mampir ke musholla. Berjamaah bareng mau?"


"Iya, Imel mau. Sebenarnya bunda sakit apa ya? Bunda Dira tau gak?"


Dira hanya bisa memeluk, tidak bisa membayangkan jika anak ini tahu, jika sebenarnya dia bukan anak asli mbak Asna dan Bang Arkan. Tapi Dira tidaklah egois, ia tidak mungkin membuka semuanya, sejujurnya janjinya pada allah swt, ia tidak berhak atas segala rahasia mbak Asna, terlebih kadang ibu mertuanya tampak jelas tak suka pada Imel, padahal Imel anak yang cerdas, dari sudut manapun Imel anak yang baik dan penurut.


"Dira, kamu kalau sudah sampai rumah. Ajak Imel ke rumahmu dulu ya! sebab ibu mau pergi kali ini ada arisan." ujar Yola, ibu mertuanya.


Deg.


Bu Hanna, selaku besannya tidak sangka bisa terang terangan, di depan bocah bernama Imel. Apa tidak ada simpati sedikitpun, bahkan terlihat jelas jika Bu Yola, ibunda Arkan tak menyukai Imel. Imel sendiri hanya menunduk tidak pernah sedikitpun mau, tinggal sebentar dengan bu Yola.


"Imel ga apa apa kan, sama bunda Dira dulu."

__ADS_1


"Iya cantik, sama nenek Hanna ya. Nanti kalau Abie dah kabarin, bunda Asna dah siuman. Kita jenguk ya?" senyum nampak seperti nenek yang baik.


"Iyaa .. mau nek, bunda Dira. Makasih."


"Hadeuh! baguslah, Imel asal kamu Tau ya. Bu Yola nenek kamu bukan ga mau ketampungan kamu di saat seperti ini, sibuk. Bahkan waktu bunda Asna kamu mau nitip ke penang, Nenek ga bisa kan. Tau sendiri ya, kamu harus maklumin nenek sibuk ini. Sebab kamu itu ..."


"Bu Yola, saya harap jangan di tambah!" ujar bu Hanna, saat itu tidak pernah sangka, jika besannya sepicik itu pada Imel dan Asna.


Dira sendiri menahan tangis, ia memeluk Imel kala satu mobil, supir bu Yola sendiri mengantarkan Dira dan ibunya pulang lebih dulu, barulah bu Yola pergi dengan bantuan supirnya.


"Udah sampai nih. Kalian hati hati di rumah, jagain kandungan kamu juga ya Dira. Dia itu cucuku, jangan sampai kekurangan gizi."


"Bunda Dira, Nenek. Kenapa nenek Yola tidak kelihatan suka ya sama Imel?"


Deg.


Hati wanita dan ibu mana, yang tega mendengar perasaan sekecil seperti Imel tersakiti batinnya, dan dibedakan. Dira sendiri sedih, andai ia di posisi mbak Asna juga tidak akan sanggup, hanya karena tidak bisa mengandung. Bukankah anak kandung dan adopsi sama saja, kenapa bisa bu Yola bersikap dingin seperti itu.


Bu Hanna sendiri teriris saat itu, andai putrinya tidak hamil mungkin perlakuan besannya itu sama seperti Asna saat ini dan Imel yang tidak mengerti apa apa.

__ADS_1


"Itu perasaan Imel saja, ayo sayang! kita masuk bentar lagi adzan magrib!" dianggukan Imel.


***


Sementara di rumah sakit, Arkan hanya bisa berdoa, meminta maaf atas dirinya yang tidak peka dan membawa dirinya seperti suami durhaka terhadap Asna. Bahkan Arkan kali ini melihat istrinya masih koma, dalam biusan perlu observasi setelah pengangkatan rahim.


Namun tidak bisa dipungkiri, ketika Asna siuman perlu kemo dan lanjutan agar Asna bisa bertahan hidup.


Arkan pun mencoba ke butik dan toko kue Asna, melihat perkembangan dan meminta salah satu karyawan bertugas bertanggung jawab atas usaha Asna kali ini. Bukan tanpa alasan, semua karyawan takjub karena pertama kalinya, suami bosnya itu baru menunjukan muka. Gagah tampan dan perfect dari segi manapun.


Arkan sendiri sempat melihat sebuah foto, dalam laptop Asna, ia melihat kemeja buatan tangan istrinya, yang Arkan ingat mirip seperti Irham kenakan. Arkan ingin memastikan label dirinya dan momen mereka apakah ada di kemeja batik tersebut.


'Ini adalah buatan kedua kemeja Asna untuk bang Arkan, terimakasih atas perhatiaan dan kebahagiaan mas Arkan berikan pada Asna. Asna membuat ini, Asna minta maaf, jika kelak Asna tidak bisa membuatkan lagi kemeja untuk mas Arkan. Pesan Asna, sayangi Imel dan Dira. Melihat kalian bahagia, Asna akan bahagia mas.'


Deg!


Sebuah pesan dari kaligrafi design butik kemeja yang ia buat, benar benar menyentuh hati Arkan. Hingga Arkan menghapus air matanya, lalu membawa laptop kerja Asna yang ada di butik. Tak lupa meminta seluruh karyawan mendoakan Asna, dan terus semangat bekerja. Tak lupa salah satu karyawan Asna. Arkan tugaskan untuk handle segala hal di bagian butik dan toko rotinya itu.


'Dik! mas minta maaf, jangan tinggalkan Mas dik. Kata kata yang mas baca tadi, mas tak mau itu yang terakhir.' ucap Arkan, ketika di dalam mobil, sudah memerah tak sanggup kehilangan.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2