DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
KUE UNTUK SEMUT


__ADS_3

"Bang Arkan, kok udah pulang. Bawa tas lagi?" ucap Dira, sesaat ia yang merebahkan diri mengatur posisinya.


"Abang hanya sedang banyak pekerjaan dik! abang akan temani kamu disini, jadi istirahatlah sampai kamu benar benar sembuh."


"Lalu mbak Asna gimana bang?"


"Asna dan Imel berada di rumah ibunya, dia baik baik saja. Lagi pula, ia tadi salam kepada kamu dan meminta mas menemani kamu."


"Benarkah, baik sekali hati mbak Asna. Bukankah Dira jadi tidak enak, Dira rasa bang Arkan harus adil, dalam tinggal dan menginap. Maaf ya bang, jika Dira berbicara seperti ini."


"Terimakasih dik. Abang pasti akan mengingatnya, terimakasih kamu sudah ingatkan abang."


Arkan sendiri merasa malu, ia sudah berbohong dan menyembunyikan kebenarannya saat ini, bahkan ia kembali pada Dira, karena kecewanya terhadap Asna. Bahkan bukan alasan yang baik, jika Seorang suami tidak sempat mendengar penjelasan Asna. Arkan ingin kembali tapi rasanya hati dan kakinya sulit ia langkah. Mempunyai istri dua, benar benar membuat Arkan semakin terpuruk dan ketakutan tidak bisa adil semakin terasa.


Di luar sana, banyak pria yang bergelimang harta bisa lebih dengan satu wanita. Tapi Arkan, malah semakin runyam dan stres ketika ia takut dirinya tidak bisa mengerti pada kedua istrinya itu, dan semua yang ia lakukan saat ini, pasti ada pertanggung jawabannya. Ia tidak memahami jalan pikiran Asna, istri yang bersamanya dari nol seolah membuat Arkan dijual, dan dihadapkan dengan masa lalu.


'Dik andai tidak ada pernikahan kedua, mungkin kita tidak pernah bertengkar hebat seperti ini. Bahkan mas tidak mau, dan marah ketik kamu pergi tanpa menunggu mas.' batin Arkan berkecamuk kala Asna benar benar di luar batas.


Namun berbeda dengan Dira, ia seolah senang jika Arkan terus menginap dan tidur dengannya. Memperhatikannya selalu, akan tetapi ia tetap menjaga image dirinya yang terlihat tulus seperti Asna dihadapan Arkan. Karena Dira yakin, sebenarnya mbak Asna juga merasakan tidak rela, jika saat ini Bang Arkan menginap di rumahnya, jadi bukankah Dira bisa memiliki keturunan lebih cepat, dan bang Arkan semakin perhatiaan lebih lagi padanya.

__ADS_1


"Selamat tidur dik." kecup Arkan pada kening Dira.


"Selamat tidur bang Arkan."


***


Esok Harinya.


Asna terlihat baik baik saja, entah perasaan hati keimanan Asna. Ia memang sangat sedih, ketika mas Arkan salah paham padanya. Akan tetapi, Asna cukup senyum ketika merawat Imel saat ini. Bukan lagi kecemburuan yang Asna harapkan, rasa cintanya tertutupi karena sang pemilik, yang mungkin bisa saja menjemputnya karena jodohnya pada Arkan, mungkin tidak bertahan lebih lama lagi dan hanya menunggu waktu.


"Bunda, Imel sayang bunda. Bunda nanti jemput Imel kan?"


"Iy bunda." Imel melambai tangan, bukan tanpa alasan saat ini Asna yang mengendarai mobil menuju kedai butik dan rotinya.


Asna juga tidak tahu, bagaimana keadaan Dira saat ini. Entah saat ini, Asna merasa tak ada pikiran berburuk sangka, ia memang salah, jadi pantas jika mas Arkan marah kepadanya. Bahkan setelah dari butik, Asna akan membuat kue kesukaan suaminya, ia yakin mas Arkan nanti malam akan pulang, Asna berusaha membuatkan makanan kue dan makan malam di rumah saja, setelah Imel tertidur quality time berdua, tanpa meninggalkan Imel.


Asna menatap ponselnya, di sana hanya ada data klien pesanan kebaya, dan pesanan kue saja. Tidak ada satupun nomor suaminya menghubungi, atau mungkin mas Arkan masih marah padanya.


Sejatinya kemarahan antara pasangan suami istri, tidak boleh lebih dari tiga hari. Maka dari itu, Asna inisiatif lebih dulu membuat surprise dan permintaan maaf sebelum 1x24 jam, agar Arkan mengerti mengapa Asna tidak menunggunya.

__ADS_1


Hingga menjelang malam sesampai di rumah, Asna yang telah bercerita dongeng pada Imel. Ia kembali ke meja dapur, tangannya yang lihai dan lilin lilin tertata dengan sempurna. Tak lupa ia bawa ke kamarnya, dan di kamarnya ada sebuah dua kursi dan meja untuk menyambut kedatangan mas Arkan, di samping balkon Asna tempatkan surprise itu.


"Semua sudah selesai, kalau begitu aku akan berganti pakaian." lirih Asna, dan juga sudah lama Asna tidak memakai piyama pengantin dan kali ini ia akan membuka tudungnya, memperlihatkan rambutnya yang indah, kala bersama suaminya saja tentunya.


Tling!


[ Dik! malam ini mas tidur di rumah Dira. ] pesan Arkan yang saat ini, Asna membaca dengan wajah yang sedikit senyum tipis.


Asna yang sudah turun dua kali tangga, menatap jam sudah pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Bahkan Asna tidak yakin, apakah ia harus menghubungi mas Arkan, mengemis waktu apakah Arkan akan pulang ke rumah, atau ke rumah Dira. Yang jelas pesan itu sudah terpampang di layarnya.


Ah! amat bodoh sekali, Asna lupa jika kali ini Arkan bukan lagi miliknya. Tapi milik Dira juga, Asna pun meniup lilin dan membiarkan kue itu di makan semut, setidaknya di samping balkon mahluk ciptaannya juga, bisa menikmati makanan manis.


Asna segera bersandar, kala ingatan pesan itu membuat Asna langsung memejamkan mata, lupa untuk meminum obat yang harusnya Asna minum saat ini.


Krek!


Tak terasa dahaga Asna mengering, matanya berkabur dan sedikit sakit di bagian perut. Asna mulai meraba sebuah laci, dimana obatnya ia akan minum. Akan tetapi air minumnya habis.


Tapi seseorang datang dengan suara langkahnya, membuat mata Asna di balik pintu tidak yakin siapa yang datang.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2